Kami Manusia!: Suara Perempuan Indonesia

Posted: 21 April 2010 in Politik
Tag:, , , , , , ,

Rangkaian sejarah kita dijungkirbalikkan oleh para “sejarawan” yang mengabdi pada kekuasaan militer…Kita yang sudah disiksa dan dikalahkan tidak boleh putus asa. Kita harus berjuang untuk hidup […] Sejarah harus ditulis jujur. Dengan demikian, generasi mendatang tidak akan salah mengerti. (Pernyataan mantan aktivis Gerwani dalam E. Weiringa, Saskia, 2010: 24)

Bagi bangsa Indonesia, khususnya perempuan, 21 April merupakan hari istimewa. Hari tersebut diperingati dengan gegap-gempita karena dianggap sebagai awal dari munculnya emansipasi perempuan sebab bertepatan dengan kelahiran Kartini. Berbagai macam kegiatan dilakukan, cukup meriah. Namun, dibalik itu semua, dosa besar negera ini terhadap kaum perempuan masih amat besar dan sampai sekarang masih belum selesai. Terus berlanjut sehingga hak mereka sebagai manusia bermartabat pun tercerabut.

Disini saya hanya mengulas satu contoh saja untuk menggambarkan kekejian negara terhadap perempuan yang sampai sekarang belum tuntas. Beratnya siksaan maupun jumlah korban jadi alas an mereka jadi contoh. Siapa lagi kalau bukan para perempuan aktivis Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani) yang selama rezim Suharto berkuasa mendapatkan perlakuan semena-mena dan sampai sekarang belum juga dipulihkan nama baiknya. Belum mendapatkan haknya yang direnggut oleh negara.

Sejarah mencatat, Gerwani merupakan salah satu gerakan perempuan progresif yang pernah ada di Indonesia. Kesetaraan gender, penolakan terhadap poligami, dan perlunya perempuan terlibat dalam proses politik merupakan beberapa agenda yang mereka usung. Punya nyali dan lantang menentang berbagai bentuk diskriminasi gender yang kala itu masih menggejala. Meneriakkan penentangan model sosial patriarkhi yang menyelimuti relasi sosial di berbagai bidang.

Kami bukan lagi
Bunga pajangan
Yang layu dalam jambangan
Cantik dalam menurut
Indah dalam menyerah
Molek tidak menantang
Ke neraka mesti mengikut
Ke sorga hanya menumpang

Kami bukan juga
Bunga tercampak
Dalam hidup terinjak-injak
Penjual keringat murah
Buruh separuh harga
Tiada perlindungan
Tiada persamaan
Sarat dimuati beban

Kami telah berseru
Dari balik dinding pingitan
Dari dendam pemaduan
Dari perdagangan di lorong malam
Dari kesumat kawin paksaan
“Kami manusia!”

(Sugiarti, Lekra 1962: 65 dalam Weiringa, ibid: 212)

Pergerakan yang sangat progresif ini senantiasa mewarnai percaturan politik tanah air zaman Sukarno berkuasa. Bahkan, mereka dengan lantang mengritik Sukarno yang kala itu memutuskan berpoligami dengan menikahi Hartini. Perempuan bukan bidak politik belaka yang harus patuh pada sistem sosial patriarkhal yang senantiasa menempatkan perempuan sebagai obyek. Perempuan juga memunyai peran untuk turut serta dalam memutuskan kebijakan sebagai penyeimbang hawa maskulinitas kekuasaan.

Perubahan konstelasi dan kontestasi politik pasca meletusnya peristiwa 1965 membawa dampak besar bagi Gerwani. Gerwani dibungkam suaranya hingga tak terdengar sama sekali. Melalui berbagai fitnah, nama Gerwani dihancurkan dengan mengaitkannya pada peristiwa Lubang Buaya. Melalui media massa terbiatan tentara, aktivis Gerwani dituduh turut menyiksa para Jenderal. Mereka difitnah melakukan mutilasi dan kastrasi terhadap, maaf, penis para jenderal tersebut dengan diiringi upacara maut harum bunga. Kisah ini dimuat berdasarkan pengakuan relawan Dwikora bernama Jamilah di koran Berita Yudha dan Api Pantjasila pada awal Oktober 1965 (Setiawan, Hersri, 2003: 211. Lihat juga Weiringa, op. cit.: 433-436).

Namun, pengakuan tersebut sejatinya adalah kebohongan belaka. Menurut pengakuan ahli forensik yang menangani jenazah para jenderal tersebut, dr. Arief Budianto, jenazah para jenderal saat itu utuh. Tak ada bagian tubuh mereka yang hilang seperti yang dipropagandakan rezim saat itu. “I got three bodies examine, not a single one of the bodies do we findthe penis sliced off. Signs of torturing we don’t find. Nobody is glad to sign our reports. Because the newspapers, they wrote already about the torturing,” paparnya dalam film Shadow Play.

Pengakuan dan kabar bohong yang begitu cepat menyebar itu membuat aktivitas Gerwani mandek. Apalagi mereka juga dikaitkan terlibat dengan gerakan G 30 S tersebut. Para aktivis Gerwani juga organisasi perempuan progresif lainnya banyak yang dipenjarakan tanpa ada proses hukum sebelumnya. Mereka dijauhkan dari keluarga dan dipenjara tanpa tahu kapan akan dilepaskan. “Kami sudah terbiasa makan bercampur pasir atau beling ketika dipenjara. Tak aneh bila sekarang penyakit usus buntu menyerang kami,” ujar salah seorang Ibu berusia senja mantan aktivis Gerwani ketika menceritakan pengalaman pahitnya di dalam jeruji besi.

Berbagai macam siksaan fisik dan psikis menimpa mereka selama puluhan tahun dipenjara. Ketika ebbas pun, mereka terus dipinggirkan hingga untuk bersuara pun tak bisa. Banyak perempuan separuh baya maupun belia (usia belasan tahun) yang harus menerima siksaan itu. Para gadis belia itu banyak yang dipindah dari penjara ke tempat lain untuk diinterogasi, lalu dikembalikan dalam keadaan parah karena siksaan (Weiringa, op. cit.: 433). Siksaan yang mereka terima sangat di luar nalar manusia. Menurut kisah eks Gerwani, di suatu kota ada seorang Ibu yang baru saja melahirkan dibunuh. Mayatnya dihanyutkan di sungai dan anak yang barun lahir tersebut dibiarkan menyusu di jenazah ibunya. “Mereka yang hendak menolong anak itu juga diancam untuk dibunuh,” paparnya.

Takn bisa dipungkiri, media massa saat itu, terutama koran milik ABRI, memunyai andil besar dalam menggambarkan sosok aktivis Gerwani yang kejam dan tak berperikemanusiaan. Bahkan sampai sekarang, kata Gerwani masih bersifat konotatif bagi sebagian besar rakyat Indonesia. Masyarakat masih mengidentikkan Gerwani dengan kekejaman, bahkan untuk menyebut pun takut. Ditambah lagi dengan relief di Monumen Pancasila Sakti yang menggambarkan kekejaman. Tentu saja, generasi saat ini maupun mendatang akan senantiasa takut bila ketidakbenaran tersebut terus disosialisasikan secara luas.

Ini hanyalah refleksi dari peringatan Hari Kartini sekarang. Bukan bermaksud membuka luka lama, tapi ingin agar kejadian serupa tak sampai terulang lagi. Di samping itu, tulisan ini hendak mengatakan, dibalik perayaan Hari Kartini ternyata masih banyak perempuan Indonesia yang hak-haknya tercerabut. Hak mereka sebagai korban kekerasan negara belum juga dituntaskan. Terutama bagi perempuan Indonesia, apakah kita masih takut untuk mempelajari kembali gerakan perempuan Indonesia terutama Gerwani? Sekedar untuk mengingatkan kembali bahwa di Indonesia pernah ada gerakan perempuan progresif dan mereka sengaja untuk dimatikan keberadaanya. Selamat Hari Kartini…

Iklan
Komentar
  1. bocahbancar berkata:

    Selamat Hari Kartini(komentar yang telat)
    Salam semangat selalu 🙂

  2. bertuhan1 berkata:

    SEDIKIT BUKTI KEKEJAMAN KOMUNIS DI SELURUH DUNIA
    Bagikan
    17 November 2009 jam 23:02
    Di RRC,
    *dalam buku buku “9 Komentar Mengenai Partai Komunis”, terbit tahun 2005, halaman 172-208, dapat dibaca cara-cara “basmi total”, metoda “membabat rumput sampai ke akarnya”, (maksudnya membunuh tuan tanah, berikut anggota keluarga seluruhnya), dan menghasut massa agar saling membunuh.
    *Dalam masa kelaparan gara-gara kegagalan program partai komunis “Lompatan Jauh ke Depan”, akibatnya rakyat memakan bayi sendiri (kanibalisme);
    * di sebuah sekolah, di depan murid-murid pengeksekusi memenggal 13 kali dan 13 kepala berjatuhan ke tanah. Anak-anak sekolah berjeritan. Lalu pengurus partai komunis datang membedah tubuh korban, mencabut jantung, dimasak untuk pesta (9 KMPK, halaman 185)
    * Tiga orang anti komunis ditelanjangi dan dilempar ke dalam tong besar lalu direbus sampai mati, seorang ayah anti komunis dikuliti hidup-hidup, dituangi cuka dan asam sementara si anak laki-lakinya diharuskan menonton sampai mati (9 KMPK, halaman 186)
    * Seorang janda pemilik tanah disiram satu teko air mendidih oleh setiap tetangga yg dipaksa oleh pengawal merah. Tidak diceritakan berapa belas atau puluh teko air mendidih itu. Beberapa hari kemudian janda malang itu mati sendirian di kamarnya, tubuhnya dikerubungi belatung.
    * Membunuh bayi mungkin yang paling brutal, si pembunuh menginjakan kakinya di kak ikanan bayi lalu kaki kiri bayi ditarik sampai bayi itu sobek menjadi dua bagian (9KMPK, halaman 187-188)

    *Di kamboja (1975-1978) perilaku penyiksaan komunis sejati gaya Pol Pot, terutama di kamp Tuol Sleng, dengan cara-cara berikut ini : menyetrum tahanan, dipaksa minum kencing dan makan kotoran tahanan lain, badan ditusuki jarum, kuku jari tangan dicabuti, dipaksa menyembah gambar anjing, dimasukkan ke dalam tong berisi air mendidih, kepala dipukul linggis, disiksa lalu isi perut dikeluarkan, disungkup kantong plastik sampai sesak nafas dan mati, digantung dengan kepala mengarah ke bawah (TI, Katasrofi Mendunia, 2004)

    *Tiga puluh tahun mendahului Pol Pot di Kamboja, Musso di Madiun sempat memberikan petunjuk atau mungkin juga pelatihan penyiksaan gaya mentornya Josef Stalin ketika dia memimpin pengkhianatan PKI Madiun, September 1948.

    * Dubur (maaf) warga desa di Pati dan Wirosari ditusuk bambu runcing dan mayat mereka ditancapkan di tengah sawah hingga mereka kelihatan sepert ipengusir burung pemakan padi, seorang wanita, (maaf) ditusuk kemaluannya sampai tembus ke perut, juga ditancapkan di tengah sawah.

    * Algojo PKI merentangkan tangga melintang sumur, lalu Bupati Magetan dibaringkan di atasnya. Ketika dalam posisi terlentang itu, maka algojo menggergaji badannya sampai putus menjadi dua bagian, dan langsung dijatuhkan ke dalam sumur.

    * Seorang ibu, Nyonya Sakidi mendengar suaminya dibantai PKI di Soco. Dia menyusul kesana, sambil menggendong 2 orang anaknya, umur 1 tahun dan 3 tahun. Dia nekad minta melihat jenazah suaminya. Repot melayaninya, PKI sekalian membantai perempuan malang itu, dimasukkan ke dalam sumur yang sama, sementara kedua anaknya melihat pembunuhan ibunya. Saking traumanya kedua anak tersebut selama berhari-hari hanya makan kembang, akhirnya adik Sakidi menyelamatkan kedua keponakannnya itu dan membawanya pergi keluar dari Magetan (Maksum, Sunyoto, Agus dan Zaenuddin), (Lubang-lubang Pembantaian Petualangan PKI di Madiun, Grafiti, 1990).

    * Kekejaman – kebuasan – keganasan pengkhianatan PKI Madiun 1948 ini masih melekat dalam ingatan traumatik penduduk Takeran, Gorang Gareng, Soco, Cigrok, Magetan, Dungus, Kresek, dan sekitarnya. Sehingga ketika 17 tahun kemudian PKI meneror di Delanggu, Kanigoro, Bandar Betsy dan daerah lain dalam pemanasan Pra Gestapu atau PKI, dengan klimaks pembunuhan 6 jenderal pada 30 September 1965, penduduk Jawa Timur masih ingat apa yg terjadi 17 tahun yg lalu itu (yg telah dimaafkan dengan PKI diijinkan masuk lagi ke gelanggang politik 1950 – 1965), dan mereka bergerak mendahului PKI. Terjadilah tragedi berdasar

    Duta Masyarakat Ahad, 18 Januari 2009

    Memasuki tahun 1960-an merupakan masa gegap gempitanya politik. PKI menjadi partai komunis terbesar ketiga di dunia yang memiliki kesempatan untuk berkuasa. PKI sadar, untuk mencapai tujuannya itu harus memanfaatkan figur Presiden Soekarno. Itu sebabnya, PKI berusaha mendukung semua kebijakan Presiden Soekarno.

    Aksi massa yang cukup berbahaya dari manuver politik PKI adalah usaha-usaha memobilisasi massa untuk melakukan berbagai tindak kekerasan yang dikenal dengan nama �aksi sepihak�. Dalam tindak-tindak kekerasan yang dinamakan aksi sepihak itu, PKI tidak segan-segan mempermalukan pejabat pemerintah dan bahkan melakukan perampasan-perampasan hak milik orang lain yang mereka golongkan borjuis-feodal. PKI tidak malu mengkapling tanah negara maupun tanah milik warga masyarakat yang mereka anggap borjuis.

    Sejumlah aksi massa PKI yang dimulai pada pertengahan 1961 itu adalah peristiwa Kendeng Lembu, Genteng, Banyuwangi (13 Juli 1961), peristiwa Dampar, Mojang, Jember (15 Juli 1961), peristiwa Rajap, Kalibaru, dan Dampit (15 Juli 1961), peristiwa Jengkol, Kediri (3 November 1961), peristiwa GAS di kampung Peneleh, Surabaya (8 November 1962), sampai peristiwa pembunuhan KH Djufri Marzuqi, dari Larangan, Pamekasan, Madura (28 Juli 1965)

    Perlawanan GP Ansor
    Aksi-aksi massa sepihak yang dilakukan oleh PKI mau tidak mau pada akhirnya menimbulkan keresahan di kalangan warga masyarakat yang bukan PKI. Dikatakan meresahkan karena pada umumnya yang menjadi korban dari aksi-aksi massa sepihak tersebut adalah anggota PNI, PSI, ex-Masyumi, NU, dan bahkan organisasi Muhammadiyah. Ironisnya, aksi-aksi massa sepihak yang dilakukan oleh PKI itu belum pernah mendapat perlawanan dari anggota partai dan organisasi bersangkutan kecuali dari GP Ansor, yang mulai menunjukkan perlawanan memasuki tahun 1964—dalam hal ini KH M Yusuf Hasyim dari Pesantren Tebuireng Jombang tampil sebagai pendiri Barisan Serbaguna Ansor (Banser).

    Perlawanan anggota GP Ansor sendiri tidak selalu dilatari oleh persoalan yang dihadapi warga Nahdliyyin berkenaan dengan aksi-aksi massa sepihak PKI, melainkan dilatari pula oleh permintaan perlindungan dari warga PNI, ex-Masyumi maupun Muhammadiyah. Di antara perlawanan yang pernah dilakukan oleh GP Ansor terhadap aksi-aksi massa sepihak PKI adalah peristiwa Nongkorejo, Kencong, Kediri di mana pihak PKI didukung oleh oknum aparat seperti Jaini (Juru Penerang) dan Peltu Gatot, wakil komandan Koramil setempat. Dalam kasus itu, PKI telah mengkapling dan menanami lahan milik Haji Samur. Haji Samur kemudian minta bantuan GP Ansor. Terjadi bentrok fisik antara Sukemi (PKI) dengan Nuriman (Ansor). Sukemi lari dengan tubuh berlumur darah.

    Pengikutnya lari ketakutan.
    Pecah pula peristiwa Kerep, Grogol, Kediri. Ceritanya, tanah milik Haji Amir warga Muhammadiyah oleh PKI dan BTI diklaim sebagai tanah klobot, padahal itu tanah hak milik. Setelah klaim itu, PKI dan BTI menanam kacang dan ketela di antara tanaman jagung di lahan Haji Amir.

    Karena merasa tidak berdaya, maka Haji Amir meminta bantuan kepada Gus Maksum di pesantren Lirboyo. Puluhan Ansor dari Lirboyo bersenjata clurit dan parang, menghalau PKI dan BTI dari lahan Haji Amir.

    Tawuran massal Ansor dengan Pemuda Rakyat pecah pula di Malang. Ceritanya, Karim DP (Sekjen PWI) datang ke kota Malang dan dalam pidatonya mengecam kaum beragama sebagai borjuis-feodal yang harus diganyang. Mendengar pidato Karim DP itu, para pemuda Ansor langsung naik ke podium dan langsung menyerang Karim. Para anggota Pemuda Rakyat membela. Terjadi bentrok fisik. Pemuda Rakyat banyak yang luka.

    Kelahiran Banser
    Aksi massa sepihak yang dilakukan oleh PKI pada kenyataannya sangat meresahkan masyarakat terutama umat Islam. Sebab dalam aksi-aksi itu, PKI melancarkan slogan-slogan pengganyangan terhadap apa yang mereka sebut tujuh setan desa. Tujuh setan desa dimaksud adalah tuan tanah, lintah darat, tengkulak, tukang ijon, kapitalis birokrat, bandit desa, dan pengirim zakat (LSIK, 1988:72). Dengan masuknya �pengirim zakat� ke dalam kategori tujuh setan desa, jelas umat Islam merasa sangat terancam. aksi massa sepihak yang dilakukan PKI rupanya makin meningkat jangkauannya. Artinya, PKI tidak saja mengkapling tanah-tanah milik negara dan milik tuan tanah melainkan merampas pula tanah bengkok, tanah milik desa, malah yang meresahkan, sekolah-sekolah negeri pun akhirnya diklaim sebagai sekolah milik PKI.

    Hal ini terutama terjadi di Blitar. Dengan aksi itu, baik perangkat desa maupun guru-guru yang ingin terus bekerja harus menjadi anggota PKI.

    Atas dasar aksi sepihak PKI itulah kemudian pengurus Ansor kabupaten Blitar membentuk sebuah barisan khusus yang bertugas menghadapi aksi sepihak PKI. Melalui sebuah rapat yang dihadiri oleh pengurus GP Ansor seperti Kayubi, Fadhil, Pangat, Romdhon, Danuri, Chudori, Ali Muksin, H. Badjuri, Atim, Abdurrohim Sidik, diputuskanlah nama Barisan Ansor Serbaguna disingkat Banser. Pencetus nama Banser adalah Fadhil, yang diterima aklamasi.

    �Karena Banser adalah suatu kekuatan paramiliter serba guna yang dapat dimanfaatkan untuk kepentingan di masa genting maupun aman, maka lambang yang disepakati dewasa itu berkaitan dengan keberadaan Banser,� tutur Agus Sunyonto, penulis masalah gerakan Islam, dalam tulisan �Mengenang Partisipasi Politik Banser pada 1965 : Lahir dalam Tekanan PKI.�

    Lambang awal Banser mencakup tiga gambar yakni cangkul, senapan dan buku. Menurut Romdhon, tiga gambar itu memiliki makna bahwa seorang anggota Banser siap melakukan pekerjaan membantu masyarakat yang membutuhkan (simbol cangkul), siap pula membela agama, bangsa dan negara (senapan) dan siap pula belajar (buku).

    Dalam tempo singkat, setelah Banser Blitar terbentuk, secara berantai dibentuklah Banser di berbagai daerah. Dan pada 24 April 1964, Banser dinyatakan sebagai program Ansor secara nasional. Mula-mula, Banser dilatih oleh anggota Brimob. Kemudian dilatih pula oleh RPKAD, Raiders dan batalyon-batalyon yang terdekat. Selain dibina oleh pihak militer, Banser secara khusus dibina oleh para kiai dan ulama tarekat dengan berbagai ilmu kesaktian dan kedigdayaan. Di antara kiai yang terkenal sebagai pembina spiritual Banser dewasa itu adalah Kiai Abdul Djalil Mustaqim (Tulungagung), KH Badrus Sholeh (Purwoasri, Kediri), KH Machrus Ali dan KH Syafii Marzuki (Lirboyo, kediri), KH Mas Muhadjir (Sidosermo, Surabaya), KH Djawahiri (Kencong, Kediri), KH Shodiq (Pagu, Kediri), KH Abdullah Siddiq (Jember).

    Hasil kongkret dari pembentukan Banser, perlawanan terhadap aksi sepihak PKI makin meningkat. Kordinasi-kordinasi yang dilakukan anggota Banser untuk memobilisasi kekuatan berlangsung sangat cepat dan rapi. Dalam keadaan seperti itu, mulai sering terjadi bentrokan-bentrokan fisik antara Banser dengan PKI. Bahkan pada gilirannya, terjadi serangan-serangan yang dilakukan anggota Banser terhadap aksi-aksi massa maupun anggota PKI. Demikianlah, pecah berbagai bentrokan fisik antara Banser dengan PKI di berbagai tempat seperti: Peristiwa Kanigoro.

    Pada 13 Januari 1965 tepat pukul 04.30 WIB, sekitar 10.000 orang Pemuda Rakyat dan BTI melakukan penyerbuan terhadap pondok pesantren Kanigoro, Kras, Kediri. Alasan mereka melakukan penyerbuan, karena di pesantren itu sedang diselenggarakan Mental Training Pemuda Pelajar Indonesia (PII). Pimpinan penyerbu itu adalah Suryadi dan Harmono. Massa Pemuda Rakyat dan BTI itu menyerbu dengan bersenjatakan golok, pedang, kelewang, arit, dan pentungan sambil berteriak histeris: – �Ganyang santri!�, �Ganyang Serban!�, �Ganyang Kapitalis!�, �Ganyang Masyumi!�.

    Para anggota PR dan BTI yang sudah beringas itu kemudian mengumpulkan kitab-kitab pelajaran agama dan Al-Qur�an. Kemudian semua dimasukkan ke dalam karung dan diinjak-injak sambil memaki- maki. Pimpinan pondok, Haji Said Koenan, dan pengasuh pesantren KH Djauhari, ditangkap dan dianiaya. Para pengurus PII digiring dalam arak-arakan menuju Polsek setempat. Para anggota PR dan BTI menyatakan, bahwa PII adalah anak organisasi Masyumi yang sudah dilarang. Jadi PII, menurut PKI, berusaha melakukan tindak makar dengan mengadakan training-training politik.

    Peristiwa penyerangan PR dan BTI terhadap pesantren Kanigoro, dalam tempo singkat menyulut kemarahan Banser Kediri. Gus Maksum �putera KH Djauhari� segera melakukan konsolidasi. Siang itu, 13 Januari 1965, delapan truk berisi Banser dari Kediri datang ke Kanigoro. Markas dan rumah-rumah anggota PKI digrebek. Suryadi dan Harmono, pimpinan PR dan BTI, ditangkap dan diserahkan ke Polsek.

    Banser Versus Lekra
    Bentrok Banser dengan PKI pecah di Prambon. Awal dari bentrok itu dimulai ketika Ludruk Lekra mementaskan lakon yang menyakiti hati umat Islam yakni : �Gusti Allah dadi manten� (Allah menjadi pengantin).

    Pada saat ludruk sedang ramai, tiba- tiba Banser melakukan serangan mendadak. Ludruk dibubarkan. Para pemain dihajar. Bahkan salah seorang pemain yang memerankan raja, saking ketakutan bersembunyi di kebun dengan pakaian raja. Bulan Juli 1965, terjadi insiden di Dampit kabupaten Malang. Ceritanya, di rumah seorang PKI diadakan perhelatan dengan menanggap ludruk Lekra dengan lakon �Malaikat Kawin�. Banser datang dari berbagai desa sekitar. Pada saat ludruk dipentaskan para anggota Banser yang menonton di bawah panggung segera melompat ke atas panggung. Kemudian dengan pisau terhunus, satu demi satu para pemain itu dicengkeram tubuhnya. (Tim Duta)

    Banyuwangi – Sudah dua tahun terakhir, Monumen Pancasila Jaya, Lubang Buaya di Dusun Krajan Desa Cemetuk Kecamatan Cluring, Banyuwangi, sepi kegiatan. Padahal tiap 30 September seperti hari ini, lokasi itu selalu ramai kegiatan.

    Di depan monumen itu kokoh berdiri patung Burung garuda. Di sisi kanan berdiri dinding pembatas setinggi 1,5 meter sepanjang 15 meter. Di dinding itu terdapat relief bertema sadisme yang dilakukan PKI.

    Setidaknya rekaman sejarah tergambar di relief mayat manusia yang diperlakuan bagai bangkai hewan buruan. Serta relief aksi sadisme yang tak kalah kejam lainnya. Memang, di tempat inilah 62 anggota Ansor dari Kecamatan Muncar dibantai secara licik dan sadis oleh PKI, pada tanggal 18 Oktober 1965.

    Konon mayat para pemuda tersebut dikubur di dalam tiga lubang yang berbeda. Dua lubang masing-masing berisi 10 mayat. Dan lubang ketiga berisi 42 mayat. Mereka dibunuh dengan cara diracun oleh anggota Gerakan wanita Indonesia (Gerwani).

    “Tiga lubang ini kuburan 62 pemuda Ansor. Sebab itu disebut sebagai lubang buaya,” jelas tokoh pemuda setempat Sugiono Abdillah (36) saat menemani detiksurabaya.com masuk ke dalam areal lubang buaya, Rabu (30/9/2009).

    Abdillah tak dapat bercerita banyak tentang sejarah pembantaian yang dilakukan PKI. Ia hanya dapat menuturkan sepenggal cerita yang didapatnya sewaktu kecil dari para sesepuh Desa Cemetuk.

    Menurut cerita, pembantaian itu sudah direncanakan oleh PKI secara licik. Mereka mengundang pemuda Ansor Muncar untuk menggelar pengajian bersama. Kedatangan para pemuda Ansor kala itu disambut anggota Gerwani yang menyaru sebagai Fatayat NU.

    Ke-62 pemuda Ansor sekarat seusai menyantap hidangan beracun yang disuguhkan PKI. Sejurus kemudian, dengan membabi buta tubuh para pemuda Ansor dibantai dan ditumpuk dalam tiga lubang yang kini menjadi tetenger peristiwa tersebut.

    “Setelah teler mereka dibantai dan dikubur di Cemetuk ini,” tambah Abdillah.

    Diceritakan juga ada beberapa pemuda Ansor yang berhasil menyelamatkan diri dan memberitahukan kejadian itu ke rekan-rekannya. Pembalasan pun dilakukan Ansor dan ormas Islam lainnya yang berakhir dengan runtuhnya PKI di Banyuwangi. (fat/fat)

    • arief setiawan berkata:

      Apakah komunisme mengajarkan agar membantai sesamanya yg tak sepaham? Ingat, isme-nya. Apakah itu bukan karena keserakahan manusia yg menggunakan komunisme sebagai alat? Ya, apakah suatu proses rekonsiliasi harus berhenti gara2 itu semua? Sampai kapan luka ini terus terpendam? tulisan di atas hanya menginginkan agar rekonsiliasi nasional dengan keadilan bagi korban kekerasan bisa terwujud…

  3. david berkata:

    bahaya laten komunis harus tetap di waspadai jangan di beri kesempatan sedikit pun karena tidak sesuai dengan ideologi pancasila dan UUD 45.tapi saya setuju dengan penerapan hukum komunis yang tegas dan kejam tidak seperti hukum indonesia katanya beragama tapi jahat nya nomor 1 dunia.KOROUPT merupakan bahaya laten yang sudah mendarah daging di indonesia dan harus di prioritas kan dalam pembasmian nya di indonesia raya.setuju rekan-rekan setanah air ku…?

  4. arief setiawan berkata:

    Saya tidak hendak membela, tapi letak ketidaksesuaiannya dimana mas? Di mana letak persinggungan ontologis dan epistimologis dari idelogi2 tsb sehingga bisa dikatakan tak sesuai?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s