Nasi putih terhidang di meja
Kita santap tiap hari
Beraneka ragam hasil bumi
Dari mana kah datangnya

Dari ladang dan sawah di sana
Petani lah penanamnya

Panas terik tak dirasa
Hujan rintik tak mengapa
Masyarakat butuh bahan pangan

Terima kasih bapak tani
Terima kasih ibu tani
Tugas Anda sungguh mulia

Lagu yang sering muncul menjelang matahari terbenam di kala TVRI masih jaya itu (maaf, lupa judulnya) mengingatkan besarnya jasa petani. Berkat jasa mereka,, persediaan pangan dapat dipenuhi. Tanpa lelah mereka bekerja keras untuk menghasilkan bahan makanan bagi kita semua tanpa terkecuali. Panas terik dan hujan rintik bukanlah halangan untuk terus berkarya dan menghasilkan produk berkualitas. Namun, jasa besar itu ternyata tak sebanding dengan penghargaan untuk mereka. Mereka terus termarjinalkan akibat sistem yang tak berpihak kepadanya.

Apalah daya. Sang pemilik sesungguhnya negeri ini hampir tak pernah mendapatkan “imbalan” yang sesuai dengan jasanya. Mereka terus-menerus ditindas oleh sistem, tak dapat perlindungan semestinya. Malah, berbagai bentuk “penindasan” semakin subur karena lemahnya posisi mereka dalam sistem ekonomi yang sedang diterapkan saat ini. Seperti mengulang kembali kisah Sukarno kala menemukan nama untuk pemikirannya, “marhaenisme”. Petani memunyai alat produksi tapi tetap saja menjadi kelompok marjinal akibat ketidakadilan sistem yang berlangsung.

Harus diakui, petani saat ini mengalami cobaan berat akibat minimnya perlindungan bagi mereka. Harga pupuk melambung, tanaman rusak akibat banjir, dan merosotnya nilai jual produk pertanian kala musim panen merupakan segitiga ancaman bagi mereka. Pemerintah daalam APBN 2010 mengurangi subsidi pupuk dari 7,5 triliun rupiah menjadi 11,3 triliun rupiah (lihat artikel “Swasembada Bukan untukmu”). Sangat kontras dengan bantuan “cuma-cuma” pemerintah kepada Bank Century yang bernilai 6,7 triliun rupiah itu.

Harga pupuk yang melambung itu bukanlaah omong kosong belaka. Pupuk urea ukuran 50 kilogram yang semula berharga 60 ribu rupiah sekarang melonjak jadi 80 ribu rupiah. Naiknya harga pupuk ini tak pararel dengan nilai jual hasil panen. Harga gabah kering di Sleman, Yogyakarta, mencapai 2.400 rupiah per kilogram. Padahal, pemerintah menetapkan harga eceran tertingginya senilai 2.640 rupiah per kilogram (Nasib Petani terpuruk, Kompas 15/4). Tentu saja hal ini merupakan pukulan telak bagi petani setelah harga pupuk melambung, tapi tak diiringi dengan naiknya nilai jual.

Lebih parah lagi, harga gabah dari petani sangat rendah di Semarang, jawa Tengah. Per kilogramnya, gabah kering hanya dihargai 2.000 rupiah per kilogram. Di Lumajang, Jawa Timur, gabah kering dari petani hanya dihargai 2.300 rupiah per kilogram. Mayoritas, di berbagai daerah, harga gabah kering dari petani jauh dari HET yang telah ditetapkan oleh pemerintah (Kompas, 9/4). Kondisi demikian sangat merugikan petani yang telah berjuang keras selama musim tanam hingga panen. Harapan meraup keuntungan pun pupus, bahkan bisa tekor. Biaya produksi, ditunjang kenaikan harga pupuk, bisa melebihi hasil yang didapatkan.

Murahnya harga jual hasil panen petani ini tak bisa lepas dari peran Bulog. Sebagai regulator penyeimbang harga beras di pasar, Bulog tidak melakukan tugasnya dengan membeli gabah petani sesegera mungkin. Menurut Guru Besar Ekonomi Industri Pertanian Universitas Gadjah Mada M Maksum, kondisi demikian tak boleh tterjadi. Petaani tak seharusnya rugi atau dirugikan. Apabila hal ini terus berlangsung, potensi boikot menanam padi bisa saja terjadi. ”Batas inilah yang menentukan setia atau tidaknya petani menanam padi dan ini ancaman bagi ketahanan pangan,” ujar Maksum. (Petani Padi Dikorbankan, Kompas 17/4). Apabila “boikot” benar-benar terjadi, semua pihak akan dirugikan dan itu menjadi hak petani untuk melakukan boikot menanam padi. Menurut Hannah Arendt, terjadinya perlawanan rakyat secara massif dapat terjadi karena satu-satunya yang mereka pertahankan adalah “cadangan kekuatan revolusi” (d’Entevez, Maurizio Passerin, 2003:256).

Tidak ada pilihan lain, negara cq Pemerintah harus berntindak segera dalam hal ini. Kondisi yang merugikan petani ini harus segera diselesaikan karena pada dasarnya merupakan tanggung jawab negara. Langkah tersebut merupakan sine qua non untuk melindungi hak warga negara. Tanpa itu, pemerintah dapat dikatakan telah “membunuh” rakyat dan mengkhinati para pemilik sesungguhnya negara ini. Disamping itu, kejadian ini menunjukkan ketiadaan skema untuk perlindungan petani karena hal ini terjadi secara rutin. Sangat aneh bila tiap tahun terus terjadi dan petani (lagi) yang jadi korban dari kebuasan mekanisme pasar.

Apa yang dialami Sukarno ketika berada di penjara Sukamiskin, bandung, seolah-olah, “sengaja” diulang saat ini. Pak Marhaen “hidup” lagi di dengan wujud penindasan yang hampir sama dengan situasi dekade 1920-an. Petani menjadi korban dari keberingasan sistem dan ketidakpedulian penguasa terhadap nasib mereka. Apabila ketahanan pangan berhasil, petani tak dianggap berjasa. Namun, bila terjadi kerugian, petani lah yang harus menanggung dampaknya. Pak marhaen pun hanya bisa mengelus dada dengan kondisi demikian. “Mengapa hal yang dulu pernah terjadi harus terulang kembali pada Indonesia merdeka sekarang?”

Iklan
Komentar
  1. elita berkata:

    masalah pertanian di negeri ini memang tidak pernah kunjung usai. dan korbannya memang selalu petani. sebab, tidak dapat dimungkiri, jika harga beras dari luar negeri jauh lebih murah, dibandingkan harga beras di tanah air. itu sebabnya, kerap dilakukan impor beras. padahal dari segi kualitas, produk pertanian tanah air, jauh lebih baik daripada produk luar negeri. selain itu, jika membeli dari petani, tidak ada sesuatu yang bisa dibagi. berbeda jika membeli dari luar negeri.
    keputusan politis yang memengaruhi kebijakan pertanian juga menjadi salah satu alasan. ketika banyak petani mencoba untuk mengembangkan diri dengan membuat pupuk organik, mereka malah dihancurkan oleh pabrik pupuk besar, yang celakanya didukung oleh pemerintah.
    mungkin, memang benar jika para petani melakukan boikot menanam padi. cara ini sebelumnya telah dilakukan para penulis film di AS. hasilnya, tuntutan mereka bisa dipenuhi…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s