“Mr. Telat”

Posted: 30 Maret 2010 in Politik
Tag:, , , ,

Bagi pasangan muda yang baru saja melangsungkan pernikahan, telatnya datang bulan sang istri adalah sebuah anugerah. Tanda akan lahirnya anugerah baru yang akan mewarnai kehidupan mereka selanjutnya. Penuh harapan dan ke-ria-an meskipun itu hanya sebuah tanda saja. Telatnya kereta berangkat sesuai jadwal juga sebuah anugerah besar bagi seseorang yang telah berjuang mengejar waktu. Mengejar penuh harap agar dirinya bisa juga diangkut dengan kereta yang hendak berangkat itu. berangkat tepat waktu berarti bencana baginya karena ketinggalan kereta. Terlambat adalah berkah.

Terlambat tak selalu jadi berkah. Terlambat bisa juga menjadi malapetaka yang bisa menghancurkan semua yang ada di sekitar kita. Waktu menjadi sangat berharga sehingga telat adalah sesuatu yang wajib dijauhi. Tak boleh sejenak pun mengendap di kepala. Terlambat sedikit, hancurlah semuanya. Seorang editor majalah mingguan akan terus memperhatikan waktu seminggu yang ia punya. Wartawan harian juga akan menghitung setiap menit waktu yang berjalan untuk mengejar tenggat. Seorang yang baru saja mengalami kecelakaan hebat akan menyesal mengapa dia bisa lalai dalam sedetik.

Makna telat yang multifaset itu menciptakan kerancuan tersendiri ketika kita berhadapan dengan realitas. Terutama saat sebuah keputusan penting harus segera diambil agar semuanya tidak hancur melebur tak beraturan. Cepat segera juga bisa menjadi suatu petanda adanya suatu harapan agar mendapat sebuah pengakuan baik-baik saja. Sangat membingungkan apabila cepat dan terlambat itu disandingkan jadi satu karena keduanya bisa jadi menuju pada satu muara, citra diri. Karena itu, waktu akhirnya menjadi barang konsumsi juga.

Keterkaitan antara waktu, citra diri, dan barang konsumsi secara nyata sudah menjadi pemandangan bisa akhir-akhir ini. Siapa dulu yang mengenalkan kalau buka “Mr. telat” yang hampir selalu terlambat untuk bersikap dan bertindak dengan segala resiko. Resiko yang haarus ia tanggung sendiri sebagai konsekuensi atas pilihannya, menjadi seorang pemimpin. Pemimpin yang dipilih oleh mayoritas untuk menjadi, kalau katanya Iwan Fals, manusia setengah dewa. Berpihak pada kepentingan rakyat dengan berani mengambil segala resiko didalamnya.

“Mr. Telat”. Nama ini barangkali cukup mewakili segala sesuatu yang pernah terjadi. Masih melekat dalam ingatan ketika huru-hara menimpa lembaga anti-korupsi. Segalanya hadir dengan begitu deras, cepat tak terkendali. Namun, apa yang dilakukan? Menunggu begitu saja sampai bola salju itu membesar tak terbendung. Di kala waktu yang telat, keputusan diambil dengan segala macam “barang konsumsi” didalamnya. Waktu bola Century menggelinding dengan begitu deras, diam jadi jawaban. Namun, ketika sudah berada di ujung tanduk, bermacam wewangian berwujud citra diri ditebarkan. Kalau dalam bahasa gaul anak zaman sekarang, TePe, TePe. Curhat pun terjadi di mana-mana, sembarang tempat tanpa melihat situasi.

Dua kejadian di atas sangat kontras dengan peristiwa teror yang mengguncang Juli tahun lalu. Dengan sigap dan cepat, sebuah sikap keluar dengan begitu deras. Kondisi demikian lahir bukan secara given, tapi terlihat untuk dijadikan “barang konsumsi”. Tak seperti biasanya, respon datang dengan begitu cepat. Bahkan, ketika Pamulang bergolak beberapa waktu lalu, dengan tangkas, meskipun secara resmi belum diumumkan di dalam negeri, ia menyuguhkan konsolasi. Mengamankan citra diri di tengah surutnya air laut kepercayaan publik.

Bandingkan saja dengan peristiwa tenggelamnya tanah Porong oleh lumpur panas Lapindo. Reaksi secepat kilat seperti kala menghadapi teroris hampir tak pernah muncul. Adanya hanya satu kata, telat. Setelah semuanya ramai menghajar, bak pahlawan kesiangan, muncul dengan tiba-tiba tanpa permisi, “aku lah sang pemecah kebuntuan,” teriaknya keras menggema. Masih kuat dalam ingatan ketika masa berlaku pembanyaran ganti rugi seperti yang tertuang dalam Perpres jatuh pada Desember 20008 dan tak ditepati, sebelumnya hanya diam. Namun, gelombang demonstrasi para korban membuatnya segera bertindak meskipun tak pernah tegas.

Begitupula dengan kunjungan ke kolam lumpur kemarin, hanya ada satu kalimat yang sebenarnya tak punya aji, “saya harapkan semua pembayarannya segera diselesaikan”. Kemarin kemana saja? Barangkali pertanyaan ini cukup mewakili sikap telat ini. Padahal, ribuan warga yang menjadi korban lumpur sudah menderita sejak lama, dan adanya hanya berharap, bukan tindakan tegas. Lumpur bukan soal dua atau tiga tahun lagi, tapi berapa menit lagi rumah bakal terendam saat hujan deras mengguyur. Lumpur bukan soal citra diri, tetapi terkait hidup dan kehidupan.

Iklan
Komentar
  1. deponk berkata:

    aku jg punya wordpress, tp masih gak dongg

    • arief setiawan berkata:

      multiplaymu iku wae rawaten. Nulis sing rutin. Tiap bulan harus up date tulisan. Ayo nulis terus ndhuk….^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s