Pidato Lengkap Wapres Boediono

Posted: 5 Maret 2010 in Politik

Bismillahirrohmanirrohim
Assalamualaikum Warohmatullahi Wabarokatuh,
Salam sejahtera untuk kita semua

Saudara-Saudara sebangsa dan setanah air.

Sekarang sudah saatnya saya berbicara mengenai persoalan Bank Century.

Pertama-tama, perkenankan saya menyampaikan bahwa dalam Pemilu Presiden April lalu, saya terpilih sebagai wakil presiden mendampingi Bapak Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Hasil pemilihan umum itu telah disahkan oleh Mahkamah Konstitusi dan Komisi Pemilihan Umum (KPU).

Konstitusi mengamanatkan, presiden dan wakil presiden terpilih menjalankan fungsi eksekutif penyelenggaraan negara. Begitu pula DPR sebagai hasil pemilu yang sah menjalankan fungsi legislatif, termasuk fungsi pengawasan terhadap eksekutif. Fungsi yudikatif dijalankan oleh Mahkamah Agung dan Mahkamah Konstitusi.

Pembagian tugas ini adalah untuk menjamin bahwa tidak ada satu pun institusi penyelenggara negara yang mempunyai kekuasaan tidak terbatas. Masing-masing menjaga dan dijaga, agar roda penyelenggaraan negara berjalan dengan transparan, akuntabel, dan penuh tanggung jawab.

Kebijakan penyelamatan Bank Century pada penghujung 2008 yang lalu, adalah langkah untuk menyelamatkan perekonomian nasional dari badai krisis yang melanda seluruh dunia. Sejauh ini, hasilnya sudah terbukti. Kita selamat melalui krisis global tersebut.

Tidak terbersit sedikitpun niat dari saya maupun Ketua KSSK, Sdri. Sri Mulyani Indrawati, untuk mengambil keuntungan pribadi dari kebijakan itu. Apalagi berniat merugikan negara.

Sejauh ini belum ada kerugian negara sebagai akibat dari penyelamatan Bank Century. Seandainya pun kelak kerugian itu terjadi, saya yakin biayanya akan lebih kecil ketimbang kerugian nyata yang pasti terjadi bila Bank Century ditutup pada waktu itu, dalam bentuk pembayaran jaminan simpanan.

Namun, kerugian yang justru jauh lebih membahayakan jika Bank Century ditutup adalah rusaknya sistem keuangan dan perbankan kita karena terseret krisis global. Jika sistem perbankan kita rusak, bukan hanya bankir atau pemiliknya yang menanggung akibatnya. Dampaknya akan memukul seluruh rakyat, baik yang memiliki dana di bank maupun yang tidak.

Kita tentu belum lupa bagaimana krisis keuangan pada 1998 yang lalu sedemikian parahnya mengguncang ekonomi kita, bahkan mengguncangkan sendi-sendi sosial politik negara kita.

Saudara-Saudara Sebangsa dan Setanahair,

Pada saat mengambil keputusan untuk menyelamatkan Bank Century, saya mendapatkan laporan bahwa Bank tersebut dalam keadaan memprihatinkan. Di dalam bank itu sendiri belakangan terungkap banyak terjadi salah urus dan manipulasi oleh manajemen maupun pemiliknya. Pelanggaran hukum itu juga sudah terbukti di pengadilan. Namun demikian, sebuah keputusan harus diambil dengan cepat demi menghindari risiko yang lebih besar.

Pada waktu itu, Bank Century ibarat sebuah rumah yang terbakar di sebuah kampung yang rentan oleh bahaya api. Rumah itu harus kita selamatkan agar api tidak menjalar, meskipun pemiliknya seorang perampok. Jelas, si perampok harus ditangkap, tetapi kita tak bisa membiarkan kebakaran di rumahnya turut memusnahkan seluruh kampung.

Sebagai Gubernur Bank Indonesia saat itu, saya juga sadar akan berbagai kekurangan di lembaga yang saya pimpin. Kekurangan-kekurangan itu baru mulai saya benahi dalam bulan-bulan awal penugasan saya di tempat baru ini. Tetapi kekurangan ini tidak boleh menjadi penghambat sebuah tindakan yang harus dilakukan dengan cepat. Sebuah pilihan yang sulit harus dijatuhkan demi kepentingan yang lebih besar.

Saya yakin, keputusan yang saya ambil itu benar dan terbaik bagi perekonomian kita pada waktu itu. Oleh karena itu saya mengatakan bahwa saya siap mempertanggungjawabkannya di dunia dan akhirat.

Dalam momen-momen yang sulit dan penuh ketegangan itu kita melihat ada pejabat-pejabat di berbagai instansi yang dengan niat tulus bekerja untuk mengatasi keadaan kritis yang kita hadapi pada waktu itu. Kepada mereka saya menyampaikan penghargaan sebesar-besarnya.

Saudara-Saudara sekalian,

Setelah menguraikan dasar-dasar kebijakan itu, perkenankan saya sekarang menyampaikan pandangan mengenai situasi politik di negara kita.

Dalam upaya bersama membangun demokrasi, saya sangat menghormati DPR RI dan semua unsur masyarakat yang bersungguh-sungguh berupaya menciptakan pemerintahan yang bersih dan efektif. Saya juga memahami dan menghargai dibentuknya Panitia Angket Bank Century. Ini untuk menegakkan prinsip transparansi dan akuntabilitas dalam sebuah pemerintahan yang bersih.

Namun demikian, harus kita akui kontroversi penyelamatan Bank Century ini telah menyita begitu banyak waktu dan energi bangsa ini. Perhatian kita beralih dari berbagai tantangan berat bangsa untuk memperbaiki nasib rakyat banyak. Karenanya saya berharap, bila kemudian langkah-langkah lanjutan perlu diambil, langkah-langkah itu dilaksanakan secara proporsional, berkeadilan, dan dilakukan oleh lembaga hukum yang berwenang.

Saya berpandangan, DPR dan partai politik adalah pilar-pilar penting demokrasi, di samping kebebasan pers dan masyarakat madani. Kiprah masing-masing pilar demokrasi ini perlu dipelihara dengan ketekunan dan kesabaran, dengan menghindarkan diri dari desakan nafsu jangka pendek terhadap kekuasaan.

Kita membangun demokrasi bukan untuk saling menghabisi pesaing atau lawan. Tetapi untuk berlomba-lomba menciptakan kemakmuran yang berkeadilan. Belajar dari sejarah di negeri kita sendiri, dan negara-negara lain, nafsu berpolitik sempit yang berlebihan dapat menghancurkan cita-cita dan sistem demokrasi itu sendiri. Kita tentu tidak ingin mengulang kesalahan di masa lalu itu.

Saudara-Saudara Sebangsa dan Setanahair,

Apa hikmah yang bisa kita petik dari perjalanan kontroversi penyelamatan Bank Century ini?

Telah terkuak beberapa kelemahan dalam sistem administrasi kenegaraan kita. Kasus ini antara lain menimbulkan kekhawatiran akan terhambatnya proses pengambilan keputusan eksekutif. Muncul kegamangan para pejabat negara untuk bertindak cepat karena tidak ada kepastian hukum dan tingginya risiko politik. Masalah ini harus kita atasi bersama.

Saya juga sangat bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa bahwa selama ini saya telah mendapatkan kesempatan untuk mengabdikan diri kepada bangsa dan negara dalam batas-batas kemampuan saya. Saya berterimakasih kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang telah memberi kepercayaan kepada saya untuk mendampingi dan membantu beliau sebagai wakil presiden.

Saya menganggap jabatan itu sebagai amanah. Saya tidak pernah memandang diri saya sebagai seorang politisi. Saya tidak pernah memperjuangkan sasaran-sasaran politik kelompok maupun partai tertentu. Dalam melaksanakan tugas pedoman saya selalu kepentingan negara.

Harus saya akui, saya tidak pernah memperkirakan sebelumnya bahwa jabatan ini dapat menjadi beban politik bagi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan beban pribadi bagi keluarga saya.

Berlarut-larutnya persoalan Bank Century telah menyita waktu dan pikiran Presiden sehingga sedikit banyak mengganggu konsentrasi beliau dalam melaksanakan mandat rakyat untuk menjalankan pemerintahan.

Saya sadar benar, jabatan saya saat ini adalah jabatan politik dan karenanya saya harus siap setiap saat menghadapi tantangan-tantangan politik, baik dalam bentuk kritik maupun hujatan.

Saya juga mendengar tekanan bertubi-tubi dari beberapa kelompok agar saya sebaiknya mengundurkan diri. Tuntutan sebagian pihak tersebut saya dengar. Tapi, bila saya memenuhi tuntutan tersebut, saya akan tercatat dalam sejarah sebagai pemimpin yang lari dari tanggung jawab, sebagai pemimpin yang melecehkan kehendak rakyat yang telah memberikan suara. Di samping itu, saya tidak akan mengkhianati kepercayaan Presiden dan meninggalkan beliau.

Semua ini tidak dimaksudkan untuk mengatakan bahwa jabatan saya sebagai wakil presiden tidak dapat dihentikan di tengah jalan. Bila mayoritas wakil rakyat di Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) menghendaki, dan bila semua ketentuan dalam Undang-Undang Dasar dan peraturan perundangan lainnya terpenuhi, apapun keputusan akhir MPR akan saya patuhi.

Marilah kita jaga agar demokrasi kita berkembang dengan leluasa dan mantap. Untuk itu marilah kita jaga salah satu asas utama hak asasi manusia, yaitu asas praduga tak bersalah. Marilah kita tidak menjadikan demokrasi kita sebagai arena adu massa dan adu kekuatan dana.

Hanya dengan itu, kita bisa bekerja bersama untuk masa depan Indonesia yang lebih jaya.

Amin ya robbal alamin.
Wassalamualaikum warohmatullahi wabarakatuh.

Wakil Presiden RI

Boediono

Sumber: www.detik.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s