Melawan ACFTA: Presiden, Kami Tidak Cemas (3)

Posted: 29 Januari 2010 in Ekonomi-Politik
Tag:, , , , , ,

Tak ada yang perlu dicemaskan dengan pemberlakuan ASEAN-China Free Trade Area (ACFTA). Tak usah resah dengan perdagangan bebas dengan konsepsi regionalism itu. China bukanlah momok yang harus ditakuti dengan industrinya yang tengah melesat dan mengguncang dunia. Perdagangan bebas juga bias menguntungkan Indonesia dengan memanfaatkan pangsa pasar yang ada di negeri tirai bambu itu.

“Bukan hanya China yang bisa ekspor barang-barang ke Indonesia. Kita juga bisa ekspor ke sana,” ujar Presiden Yudhoyono (Koran Tempo, 26/1).

Presiden mengatakan, Indonesia tak perlu cemas dengan adanya perdagangan bebas. Perdagangan bebas dalam ACFTA akan menguntungkan juga bagi Indonesia. Salah satu bukti adalah meningkatnya ekspor Indonesia ke China sejak 1 Januari 2010. Sedangkan ekspor ke Jepang dan AS menurun. Inilah salah satu indikator yang digunakan oleh Presiden untuk mengatakan bahwa perdagangan bebas tak perlu dicemaskan.

Pernyataan Presiden tersebut banyak dipengaruhi oleh faktor kompetisi dalam konteks perdagangan bebas. Bukan itu, kami tidak cemas jika hanya karena kompetisi belaka. Itu hanya alasan kecil saja dibalik penyebab besar perlawanan, kapitalisme. Tentu saja hal ini bukan tanpa dasar. Perlawanan terhadap rezim perdagangan bebas di Seattle, Genoa, Praha, serta tempat lainnya di dunia merupakan bukti nyata dari kebusukan sistem ini. Pasar bebas bukanlah jawaban, tapi hukuman mati. We want fair trade, not free trade!

Ekonomi bukanlah sekedar hitungan matematis yang menghubungkan berbagai variable tertentu yang kemudian dihitung keterkaitannya. Apakah itu tentang inflasi, deflasi, maupun lainnya. Ekonomi adalah soal kehidupan. Bertemali erat dengan semua aspek dan hal ini seringkalli dilupakan oleh para pendukung pasar bebas seperti halnya ACFTA ini. Kompleksitasnya jarang sekali diperhitungkan terutama oleh aliran pemikiran mainstream saat ini, neo-liberalisme.

Disamping itu, apabila merunut logika Presiden, pernyataan kontardiksi dikemukakan dengan gamblang. Untuk mengatasi soal persaingan, pemerintah akan meningkatkan mutu industri dan membenahi pasar domestik (Koran Tempo, ibid.). Sangat kontradiktif sekali karena ACFTA yang sudah berlaku sejak 1 Januari 2010 masih saja disikapi dengan “akan”. Sangat ironis sekali dengan kesiapan yang seringkali diperdendangkan meskipun kenyataannya masih dalam taraf “akan”.

Kegagalan Filosofis

Keberadaan ACFTA tak pernal membuat kami cemas. Kami hanya melawan pemberlakuan perdagangan bebas itu karena secara filosofis sangat lemah dan berbahaya bagi kemanusiaan. Secara garis besar, perdagangan bebas daapat menyebabkan terjadinya Darwinisme sosial. Hal ini terjadi secara alamiah karena manusia dibiarkan bebas tanpa adanya regulasi sebagai wujud tata perilaku. Manusia dibiarkan memangsa saudaranya sendiri. Bukan melahirkan pemenang dan pecundang, tapi penindas serta yang tertindas.

Manusia secara mendasar adalah homo economicus. Senantiasa ingin meraih keuntungan sebesar-besarnya dengan pengorbanan paling kecil. Secara sederhana, manusia senantiasa menerapkan prinsip ekonomi. Akibatnya, homo homini lupus bakal terjadi. Satu sama lain saling memangsa agar tetap bisa eksis ditengah pertarungan sengit tanpa aturan itu. Manusia memunyai aspek moral hazard sehingga harus diatur sedemikian rupa, bukan dibiarkan bebas tanpa regulasi apa pun.

Anthony Giddens dalam bukunya “Dunia yang Berlari” mengatakan, manusia zaman sekarang bak sedang berada di atas juggernaut. Kendaraan kuno orang India yang bisa mengantar siapa pun ke arah kematian. Tanpa ada regulasi jelas, umat manusia yang berada di atas juggernaut tersebut bisa mati oleh keserakahan beberapa orang saja. Disamping itu, perdagangan bebas juga menimbulkan dependensia seperti yang Raul Presbich kemukakan. Kondisi demikian tentu saja akan merugikan suatu bangsa sehingga layak untuk dilawan.

Dalam konteks ACFTA, banyak hal yang bisa dipertanyakan kepada para pembuat kebijakan maupun penganut aliran ini. Pertanyaan mendasar tentang keberadaan perdagangan bebas yang senantiasa berkecamuk. Mengapa setipa KTT WTO masyarakat dunia melakukan protes serentak? Bila tak bermasalah, protes tak akan pernah terjadi. Selain itu, mengapa lahir WSF untuk menandingi keberadaan WEF? Another world is possible…

Bersambung…

Iklan
Komentar
  1. aniq berkata:

    boleh saya minta jurnal tentang Asean China Free Trade Agreement??

    • arief setiawan berkata:

      Saya tidak punya jurnal yang secara spesifik membahas tentang ACFTA. Adanya cuma beberapa sumber terkait regionalisme. Barangkali saya hanya bisa merekomendasikan beberapa literatur tentang regionalisme, tidak spesifik ACFTA tapi secara general….Mohon maaf bila tak bisa banyak membantu…

  2. septiyan berkata:

    ACFTA iku opo???

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s