Melawan ACFTA: Pelajaran Dari NAFTA dan Zapatista (1)

Posted: 25 Januari 2010 in Ekonomi-Politik
Tag:, , , , , ,

”Bendera, UUD, lagu kebangsaan, pahlawan-pahlawan nasional: hal-hal yang sering dianggap usang inilah yang memberi jiwa gerakan Zapatista.” (Comandante Ramona)

Tepat 1 Januari 1994 silam, dunia di belahan bumi bagian barat yang sedang terlelap dikejutkan oleh kumpulan orang bertopeng balaclava. Siang di benua belahan timur juga turut terkejut dengan kejadian itu. Semuanya tak percaya tentang keberadaan mereka. Apakah yang jadi penyebab keterkejutan itu?

Sebuah pemberontakan masyarakat adat di Chiapas, Meksiko, meletus yang saat itu bertepatan dengan pemberlakuan North America Free Trade Area (NAFTA). Perdagangan bebas kawasan yang meliputi Kanada, Amerika Serikat, dan Meksiko. Pemberontakan dengan nama Zapatista itu merupakan respon dari pemberlakuan perjanjian yang menurut mereka merupakan hukuman mati bagi petani dan masyarakat adat.

NAFTA is a death sentence for the indigenous people. NAFTA sets up competition among farmers, but how can our campesinos-who are mostly illiterate-compete with U. S. and Canandian farmers? And look at this rocky land we have here. How can we compete with the land in California, or in Canada? So the people of Chiapas, as well as the people of Oaxaca, Varacruz, Quitana Roo, Guerrero, and Sonora were the sacrificial lambs of NAFTA. (Jason Justice, 1996).

Kondisi di Meksiko 16 tahun silam mirip dengan apa yang sedang terjadi saat ini. Liberalisasi ekonomi tengah terjadi di kawasan Asia Tenggara melalui ASEAN-China Free Trade Area (ACFTA). Per 1 Januari 2010, kawasan Asia Tenggara plus China merupakan wilayah perdagangan bebas tanpa hambatan apa pun. Tentu saja hal ini menegaskan menguatnya rezim neo-liberal yang berupaya melakukan kapitalisasi. Juga sebagai masa pembangunan “kuburan massal” bagi masyarakat kelompok marjinal.

ACFTA tak ubahnya NAFTA. Kedua kawasan perdagangan bebas ini merupakan bentuk lain dari hukuman mati yang saat ini banyak ditentang aktivis HAM. Bukan melahirkan pemenang dan pecundang, tapi penindas dan kaum tertindas. ACFTA is death sentence for labor, peasant, and indigenous people…

Bersambung…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s