KENISCAYAAN ATAS KOMPENSASI

Posted: 25 Januari 2010 in Ekonomi-Politik

Seiring dengan semakin meningkatnya kampanye kenaikan harga BBM yang diagendakan pada sekitar bulan Maret dan direalisasikan per 1 Maret kemarin oleh pemerintah, banyak kalangan yang yang menanggapai secara pro atau kontra kebijakan tersebut. Pemerintah dengan retorika subsidi untuk BBM sangat besar dan tidak tepat sasaran, serta kepentingan untuk memperbesar anggaran sektor lain, menjadikan subsidi ini sebagai kambing hitam atas tidak tergarapnya sektor publik lainnya (pendidikan, kesehatan, dll). Maka hukum kausalitas atas subsidi BBM harus dilaksanakan, pemangkasan atas alasan diatas dijalankan walaupun secara realitas banyak penolakan atas kebijakan itu akibat efek domino yang akan timbul dan menjadi bumerang bagi bangsa ini. I will walk in my way, who you are?

Untuk mengatasi gelombang protes yang akan terjadi dari masyarakat akibat kebijakan kenaikan harga BBM, beragam trik persuasi dan propaganda terhadap massa semakin intens dilakukan. Setiap hari, kita disuguhi dengan candu iklan manfaat yang akan diperoleh dengan pemangkasan subsidi BBM beserta solusi yang akan ditempuh untuk membayar ongkos sosial yang pasti terjadi di beragam media, cetak maupun elektronik. Masyarakat terus dininabobokan dengan ikon-ikon rakyat dalam suguhan penuh kepalsuan yang berbentuk iklan untuk menghegemoni persepsi atas kebijakan yang akan diambil itu tidak akan terlalu merugikan. Seolah-olah kenaikan harga BBM tidak akan terlalu menyengsarakan mereka karena adanya kompensasi darinya yang langsung menyentuh kehidupan. Ia akan bergerak sesuai sasaran, dapat dinikmati semuanya, dan akan mengurangi angka kemiskinan di Indonesia serta bla…bla…bla….

Jika ditelaah lebih jauh lagi, subsidi yang berfungsi sebagai transfer kas negara kepada masyarakat (berkebalikan dengan pajak), pada dasarnya mempunyai kemampuan mendorong pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat sehingga mereka tetap dapat eksis dengan standar hidup yang layak secara kemanusiaan. Selain itu, juga berfungsi membantu kelompok yang rentan agar tidak termarginalisasi oleh kekuatan “pemangsa” yang selanjutnya dapat dijadikan pondasi integrasi sosial masyarakat pada umumnya. Apa yang terjadi apabila subsidi BBM yang mempunyai multiplayer effect signifikan terhadap harga kebutuhan dasar lainnya dipangkas? Kebutuhan dasar kelompok masyarakan rentan tersebut akan semakin terabaikan dan akan dapat mengancam pondasi integrasi sosial dalam masyarakat, walaupun akan ada kompensasi atas kenaikan tersebut pada sektor publik lainnya. Apalagi jika dilihat dari kondisi obyektif masyarakat Indonesia sekarang, ribuan korban selamat bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan daerah lainnya, maka beleid ini terkesan tidak bernurani dan berperi kemanusiaan (memang benar adanya). Dimana mereka (dan rakyat lainnya) yang seharusnya mendapatkan dukungan berupa pemberian subsidi untuk pemenuhan basic needs semakin terabaikan sehingga keterpurukan akan menghantui setiap saat.

Dalam konteks kompensasi beserta tetek bengeknya, hal itu merupakan kepalsuan belaka yang terus diada-adakan walaupun tidak ada, sekedar logika mistis yang dirasionalkan beragam apologia disana-sini. Why? Kita dapat melihat dari beragam kebijakan pemerintah yang paradoks dengan retorika kompensasi tersebut, semakin jauh di awang-awang dan meninggalkan kita dengan segenap janji-janjinya. Katanya untuk subsidi pendidikan, “proyek” pem-BHMN-an PTN-PTN yang ada tetap terus dilaksanakan sehingga biaya pendidikan tinggi semakin tak terjangkau semua kalangan serta biaya pendidikan dasar yang tinggi pula. Apakah itu arti dari kompensasi dari pemotongan subsidi BBM? Untuk bidang kesehatan, pola-pola ambulans zig-zag-nya Iwan Fals masih tetap ada, apakah hal ini juga makna dari kompensasi? Dan banyak contoh lainnya yang dapat dijadikan contoh betapa absurd dan retorika belaka atas nama kompensasi yang dijanjikan. Dan benar menurut Hirts dan Thompson, sektor publik merupakan sektor yang menjadi korban dari kebijakan pemerintah yang tuli akan kesejahteraan bersama karena kemudahahan didalamnya untuk diutak-atik menurut selera penguasa. Selain itu, kompensasi-kompensasi yang dijanjikan (direncanakan) sering kali hanya bersifat insidental dan aksidental sehingga apa-apa yang diharapkan oleh masyarakat sebelumnya terkubur oleh bayang-bayang kompensasi. Palsu! Dari sini, kompensasi yang di-gembar-gembor-kan sebelumnya hanya sekedar lips service untuk sekedar konsolasi agar masyarakat tidak shock dan protes pada saat-saat awal, dan untuk tahapan selanjutnya, up to you! You must walk in your own ways, I don’t know!

Dalam hal ini, pemerintah harus instropeksi atas fungsi-fungsi kesejahteraan yang menjadi tanggung jawab dari negara. Apa guna ada negara beserta perangkat-perangkatnya apabila ia hanya menjadi sekedar tukang stempel bagi kelompok tertentu, dan hanya mau “mengerti” akan keinginan “pemangsa” bukan rakyat secara keseluruhan. Negara harus dijadikan instrumen penciptaan kesejahteraan bukannya pasar yang selama ini diagung-agungkan sebab mempunyai kapital yang besar, karena didalam benaknya hanya ada satu pikiran buta, profit, profit, dan profit. Ia tidak akan mau tahu dengan agenda-agenda sosial dan usaha pengentasan kemiskinan karena memang sudah menjadi tabiat dasar yang melekat sejak ia lahir. Dan, negara beserta perangkat-perangkatnya harus mengerti akan hal itu, maka fungsi-fungsi negara sebagai alat kesejahteraan masyarakat wajib untuk ditegakkan kembali setegak-tegaknya. Ia harus lebih mandiri di bidang ekonomi, berdaulat di bidang politik, dan berkepribadian dalam berkebudayaan seperti dalam rumusan doktrin Trisakti, sehingga negara yang kita cintai ini tidak diombang-ambingkan oleh kekuatan lain selain kekuatan yang sudah melekat dari bangsa ini, Indonesia.

Surabaya, Agustus 2005

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s