Jasad Boleh Pergi, Pikiran Tak Akan Musnah: Obituari Untuk Gus Dur

Posted: 2 Januari 2010 in Arbiter
Tag:, , , , , ,

Aku langsung kaget begitu membaca status teman di facebook yang hanya menuliskan kalimat “Innalillahi wa Innalillahi Roji’un”. Rasa ingin tahu siapa yang pergi meninggalkan dunia ini langsung datang tanpa permisi. Seketika aku terhenyak karena yang pergi itu adalah orang besar negeri ini. Orang yang selama hidupnya mengabdi untuk demokrasi dan keadilan. Siapa lagi kalau bukan Presiden ke-4 kita, KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Tersentak, kaget, dan membuat rasa kehilangan muncul tiba-tiba.

Rasa kehilangan itu begitu nyata, tampak jelas di depan mata. Bayangan pemikiran progresif beliau langsung muncul di otak ku. Apalagi kalau bukan tentang demokrasi, kebebasan, dan pluralisme yang sering Gus Dur dengungkan disetiap kesempatan. Kehilangan besar sangat terasa seperti sebilah pisau yang menghujam tepat ke ulu hati. Sangat sakit dan menyesakkan. Beda sekali dengan saat Suharto meninggal awal 2008 silam. Kesedihan sedalam ini tak muncul meskipun ia juga mantan presiden dengan kekuasaan panjangnya selama 32 tahun.

Aku bukanlah orang yang mengenal Gus Dur secara langsung atau mengidolakannya secara taklid buta. Aku mengenal dia lewat tulisan-tulisannya yang didalamnya terbentang jutaan pemikiran brilian tentang humanisme. Mengenal hanya lewat buku maupun artikel-artikel yang banyak tersebar di berbagai media. Aku pun mengenalnya sejak pertengahan dekade 1990-an ketika beliau dengan berani menentang pandangan monolitik penguasa. Menentang pandangan licik penguasa yang kala itu enggan mengakui keberadaan agama Konghucu dalam kasus pernikahan Budi-Lanny di Surabaya.

Kekagumanku semakin menjadi ketika Gus Dur terpilih menjadi Presiden pada 1999. Tentu saja, dalam banyak hal aku juga tak sepakat dan menentang kebijakan beliau. Itu hanya bumbu saja. Ketakjubanku muncul kala dengan berani Gus Dur mendudukan kembali posisi militer secara radikal. Juga saat mengubah kebijakan negara terkait keberadaan etnis tionghoa di Indonesia yang selama kekuasaan rezim Suharto menjadi kelompok sub-altern. Semakin takjub saja aku dengan dirinya karena berpikir melangkah jauh lebih maju dari zamannya. Apalagi dengan pemikiran beliau tentang hak bagi setiap warga negara untuk memeluk agama/kepercayaan apa pun dan negara tidak berhak mencampurinya.

Soal kebebasan beragama ini menjadi perhatian ku terhadap sosok kiai ”kontroversial” ini. Terus terang aku sepakat dengan beliau, tanpa rasa ragu sedikitpun. Di negeri ini, agama/kepercayaan apa pun boleh hidup tanpa ada campur tangan negara. Apalagi soal ide penghapusan kolom agama di KTP, aku menyatakan diri sebagai pendukung gagasan itu. Apa guna pencantuman kolom agama di KTP? Toh itu urusan setiap manusia dengan Sang Khalik, negara tak tahu apa-apa soal hal ini. Cukup jadi penonton setia saja dan melakukan serangkaian upaya untuk terus menjaga harmoni di antara mereka. Bukan mengeluarkan kebijakan yang melarang atau membolehkan seseorang memeluk suatu agama/kepercayaan. Bahkan untuk memilih agnostik atau atheis sekalipun. Negara tak perlu ambil pusing terhadap hal ini.

Tak cukup itu saja. Usulan untuk mencabut TAP MPRS NO. XXV/1966 tentang Pelarangan PKI dan Ajaran Marxisme-Leninisme karena menyalahi UUD dan HAM membuatku semakin kagum saja. Kala gagasan itu muncul, aku sepenuhnya mendukung ide ini meski batu terjal siap menghadang. Memang benar adanya, batu itu menghadang dengan sejuta argumen. Argumen bahwa komunis itu atheis atau PKI sering memberontak di negeri ini jadi acuan. Aku pun hanya bisa tertawa saja dengan argument ini. Tertawa dengan keras dan lantang tapi aku akan tetap menghormati argumen mereka.

Tentang pendapat komunis itu atheis sangatlah tidak beralasan. Orang besar negeri ini telah membuktikannya dengan gamblang tanpa tedeng aling-aling. Tan Malaka adalah contoh nyata itu. Orang pertama yang mengungkapkan kemerdekaan Indonesia dengan slogan ”Merdeka 100%” ini adalah dedengkot dari Partai Komunis. Bahkan menjadi salah satu anggota Komintern yang berpusat di Moskow, Soviet. Namun, ia tak seperti bayangan para penentang pencabutan TAP MPRS NO. XXV/1966 itu. Pandangan tak sedangkal para penentang itu karena Tan Malaka bukanlah seorang atheis, tapi theistis sejati. Begitupula pandangannya tentang kaitan antara komunisme dan Pan Islamisme yang kala itu sedang mengemuka, dekade 1920-an.

Sayang sekali, orang sebesar Tan Malaka harus tersingkir dari sejarah bangsa ini kala rezim fasis-militeris Suharto berkuasa. Nasibnya sama halnya dengan kolega dekatnya, Trotsky yang harus juga tersingkir oleh kebrutalan Stalin. Bila penentangan atas pencabutan TAP MPRS NO. XXV/1966 itu atas dasar PKI sering memberontak di negeri ini, itu juga berlandaskan argumen kurang mumpuni. Banyak buku-buku sejarah mengatakan PKI memberontak pada 1926, 1948, dan 1965 dan hal ini tentu saja perlu dikaji lagi. Apa benar gerakan 1926 itu sebagai pemberontakan kepada pemerintah yang sah? Bila benar, maka siapa pun pendukung argumen ini adalah antek kolonialis dan imperialis Belanda. Gerakan 1926 harus diletakan dalam konteks perjuangan kemerdekaan. Mereka memberontak kepada Pemerintah Belanda yang kala itu berkuasa di tanah air kita.

Usulan brilian Gus Dur dengan melihat paparan di atas akan sangat relevan sekali dengan kondisi sekarang. Apa yang perlu ditakutkan? Apa yang membuatnya harus ditakuti sehingga harus dilarang seperti halnya Suharto memperlakukan mereka? Bukankah para pembantai lebih dari sejuta orang, bahkan katanya 3 juta orang, yang dicap PKI dan enggan meminta maaf itu yang harusnya dipertanyakan? Apakah dengan dalih apa pun mereka layak membunuh sesamanya? Apalagi banyak ahli yang mengungkap fakta-fakta sejarah yang isinya bertolak belakang dengan versi penguasa. Sangat perlu untuk menjadi perhatian demi tegaknya demokrasi dan kebebasan di negeri ini.

Gus Dur memang kontroversi. Gus Dur memang sulit ditebak kemana langkahnya hendak pergi. Perjuangannya tentang humanisme tak akan lekang ditelan waktu begitu saja. Jasad boleh pergi, tapi pikiran akan terus mengendap hingga tak kenal batas waktu. Pikiran itu tak akan musnah sepanjang ada manusia yang terus mengingatnya. Aku pun merindukan hadirnya sosok seperti beliau yang begitu memuliakan manusia dengan segala keterbatasan dan perbedaan didalamnya. Selamat jalan Gus…Semoga engkau damai di sisi-Nya….

Pada sebuah malam penuh duka. Jakarta, 30 Desember 2009

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s