Obituari Untukmu

Posted: 13 Desember 2009 in Cerita

Pagi itu tanpa sengaja aku membuka situs jaringan pertemanan. Aku mencuri waktu disela waktu dalam sempitnya keadaan. Betapa kagetnya aku ketika membaca salah satu status seorang teman: kabar tentang kondisi terakhir seorang kakak, guru, dan sahabat. Di antara percaya dan tidak karena beberapa bulan lalu dia masih menyatakan dirinya baik-baik saja.

Tanpa berpikir panjang aku langsung menghubungi seorang kawan. Kawan yang dulu juga sering bersama-sama dengan orang yang dikabarkan tadi. Aku langsung bertanya, “ayo kita ke sana nanti malam!” Dia hanya menjawab bila semalam telah berkunjung ke tempat itu. Aku pun hanya bisa pasrah dan bertekad nanti malam akan berkunjung juga, sendiri atau bersama lainnya. Tak peduli entah apa kondisinya nanti.

Aku pun mendapat pesan singkat tempat ia berada. Tempat yang malam itu hendak aku kunjungi. Memang, aku ingin sekali bertemu dengannya meski hanya dengan menatapnya saja bila itu hanya itu yang bisa dilakukan. Aku pun semakin tenang saja. Tak berpikir tentang apa pun yang bakal terjadi, 1 menit, 10 menit, atau sejam lagi. Masih dalam bungkus misteri.

Saat waktu menunjukkan sekitar pukul 11.15 WIB, pesan singkat masuk. Dengan enteng aku buka saja pesan itu, barangkali adik sedang bertanya tentang sesuatu. Aalangkah kagetnya ketika membaca pesan itu. Di antara aktivitas menegangkan yang sedang ku hadapi, tubuhku lemas begitu saja. Hanya bisa memikirkan sesuatu yang sebelumnya tak pernah singgah di otak. Sebuah berita duka yang memukul telak tepat di ulu hati. Konsentrasi buyar begitu saja, tapi hal itu harus segera di atasi mengingat betapa pentingnya aktivitas saat pesan itu masuk.

Malam yang sebelumnya ku rencanakan itu buyar begitu saja. Hanya ada penyesalan tiada tara yang ada. “Mengapa tak sedari kemarin aku mengunjunginya?” Itulah penyesalan yang muncul. Memang, seminggu terakhir aku tak bisa berpikir apa-apaa. Hanya berpikir tentang rangkaian aktivitas yang begitu menhyita perhatian. Beberapa menit kemudian, aku langsung mengontak kawan pemberi pesan itu. Aku hanya ingin memastikan berita itu. Betapa lemasnya aku ketika kata-katanya meluncur sesuai dengan pesan yang terkirim tadi.

Kenangan setahun silam menghujam begitu saja. Kenangan tentang sebuah “tim” yang begitu mengharu-biru. Masih teringat langkah “gagah”nya pada sebuah siang. Atau pun cerita dia tentang keadaanya kala sakit yang dideritanya muncul pertama kali. “Rif, badanku rasanya sakit semua. Besok menjelang Natal aku akan ambil cuti,” ujarnya dalam ingatan yang sangat tumpul ini. Tak ada pikiran apa pun saat itu. Aku hanya berpikir itu barangkali hanya masuk angin saja.

Ini hanya kenangaan kecil sajaa. Masih banyaak lagi kenangan lainnya yang sebenarnya ada. Apa daya, kekuasaan ku hanya sampai disini saja. Hanya kesedihan saja yang menyelimuti bila semua diungkapkan. Aku pun hanya bisa berdoa semoga dirinya damai selalu disisi-Nya. Aku pun hanya bisa menyimpan kenangan itu sampai kekuatanku tak mampu lagi menampungnya. Selamat jalan kakak, sahabat, dan guru ku, Vincentia Hanni…

Note FB tertanggal 14 Februari 2009

Saat itu tak pernah ku duga sebelumnya. Aku yang biasanya bertugas reportase politik harus bepindah desk. Apalagi kalau bukan ke desk hukum yang dalam benakku kala itu sangat rumit. Harus bersentuhan dengan pasal-pasal dalam undang-undang yang sedari dulu tak ku suka. Saklek, tak bebas “bernari,” harus sesuai dengan bunyi pasal, itulah yang jadi gambaran awal.

Perpindahan itu awalnya tak ku kehendaki. Namun apa daya, semua harus tetap dilakukan. Semua ini merupakan kewajiban yang siapa pun tak bisa menolaknya. Hanya bisa menerima tanpa dapat membantahnya karena semua akan merasakan hal sama.

Kegiatan reportase awal di desk hukum ini kala “ratu suap” disidangkan di pengadilan Tipikor. Bingung. Itulah fragmen awal saat meliput persidangan. Aku tak mau salah satu kata pun karena hal ini berkaitan dengan masalah hukum. Perasaan bingung, cemas, dan takut bercampur jadi satu ketika tanggung jawab baru ini ku pikul.

Seiring perjalanan waktu, tuga ini akhirnya bisa ku nikmati juga. Perasaan tegang seperti di awal sudah terhapus. Hanya rasa penasaran yang muncul tatkala persidangan dilanjutkan seminggu kemudian. Apalagi kalau bukan menanti kejutan baru dari fakta persidangan. Menyesal bila satu fase dalam suatu persidangan pada kasus tertentu yang ku ikuti tak dapat dihadiri.

Proses ini bukanlah sesuatu yang arbiter. Bantuan dari kawan-kawan di lapangan sangat berarti dalam proses ini. Dari tidak tahu menjadi tahu. Dari tak mengerti menjadi sedikit paham dengan seluk-beluk permaslahan korupsi. Apalagi didukung dengan suasana kehangatan yang dan kebersamaan erat didalamnya.

Banyak pengetahuan yang ku dapat didalmnya. Istilah-istilah hukum yang hampir tak pernah ku dengar, berbunyi nyaring disini. Proses-proses suatu persidangan dapat jadi pelajaran berharga. Juga pengetahuan tentang anti-korupsi yang selalu di pancarkan dalam ruangan sidang, serta pasal-pasal UU yang asing bagiku. Semuanya jadi pengetahuan yang tak ternilai.

Pengadilan Tipikor. Suasananya memberikan pengalaman baru. Pengalaman yang sebelumnya hampir tak pernah terbayang. Geram, kesal, tertawa, dan umpatan sering muncul tatkala proses sidang berjalan. Apalagi kalau nama-nama baru yang diduga melakukan korupsi muncul, sungguh membahagiakan karena dapat jadi bahan untuk “menghajarnya” dan supaya KPK menindaklanjutinya. Tentunya, “perjuangan” berat ini tak akan dapat dilalui tanpa bantuan kawan-kawan senasib sepenanggungan.

NB: Buat Mbak Vin, semoga lekas sembuh….

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s