PERJUMPAAN: SARTRE (1)

Posted: 23 November 2009 in Arbiter

Jean Paul Sartre (Sumber: http://profron.net/pictures/sartre.jpg)

Hujan semenjak sore belum saja reda hingga tengah malam. Air dari langit itu terus mengucur hingga panasnya Jakarta lenyap. Hawa dingin menyelimuti malam wingit itu dengan suara gemericik air. Entah sampai kapan hujan itu reda. Hanya hawa dingin yang menusuk tulang jadi bukti nyata hujan malam itu. Malam pun menjadi wingit. Sunyi dan sepi tiada tara karena semua aktivitas rutin seperti berhenti. Bak kota yang sedang berada dalam keadaan darurat sipil atau militer.

Malam itu aku hanya sendiri saja di tempat kos. Mengorbit. Barangkali itu kata yang tepat untuk menggambarkan sepinya malam itu. Mengorbit bak astronot yang berada di luar angkasa dengan kesendiriannya. Tak ada siapa pun yang bisa untuk disapa atau sekedar mengobrol sesuatu untuk memecah malam. Adanya hanya keheningan yang menyelimuti diantara bunyi gemericik air hujan. Sayup-sayup, komposisi Fur Ellies karya Beethoven saja terdengar berdenting dilaptop yang sengaja ku putar.

Saat menikmati malam wingit ditemani alunan musik karya Beethoven itu, tiba-tiba muncul seseorang dari balik pintu. Tanpa permisi ia langsung saja masuk ke kamar. ”Siapa Anda?” tanyaku padanya. Dengan tersenyum ia mengenalkan dirinya padaku. ”Anak muda, aku Jean Paul Sartre.” Aku pun terkejut bukan main. Antara percaya dan tidak karena dia bukanlah orang Indonesia, tapi Perancis. Seorang kontroversial dengan pandangan eksistensialisme ekstrem. Aku masih saja bingung dan belum percaya dengan keadaan ini.

Tanpa ku minta, ia kemudian mengajak ku berbincang. ”Tenang saja anak muda, jangan kaget. Benar, aku memang Jean Paul Sartre. Tatap wajahku dan cermati sampai detil. Jangan takut. Aku nyata adanya,” paparnya mencoba menenanganku. Aku pun menatapnya dengan cermat. Tak sedetik pun aku lengah menatap dan meneliti wajahnya. Apakah dia benar Sartre yang kesohor itu? Ternyata benar. Setelah ku ingat gambar dia yang banyak ditemui di internet, aku pun akhirnya percaya. Dia adalah sosok penuh kontroversi itu.

Tanpa panjang lebar lagi, dia kemudian menatapku dengan seksama. Seolah-olah sedang meberiku ceramah tentang apa itu eksistensialisme. Tentang siapa kita sebenarnya. Kita sebagai manusia yang pada dasarnya punya kebebasan amat besar untuk menentukan apa pun. Dia hanya menatap saja. Tak bersuara sedikit pun seperti saat perkenalan tadi. Dia menatapku dengan penuh semangat hampir setengah jam sembari tak melepaskan pegangan tangannya saat perkenalan tadi. Hanya menatap, sampai waktu berlalu dengan deras tak terbendung.

”Kebebasanku adalah memilih diriku menjadi tuhan, dan aku tidak bebas untuk berhenti bebas” ujarnya padaku. Keheningan itu pun pecah dengan kata-katanya. ”Camkan kata-kata itu anak muda!” imbuhnya memberikan penegasan. Aku pun terhenyak seketika mendengar kata itu. Memang, kalimat yang ia ucapkan tak asing bagiku. Karya-karyanya telah ku baca beberapa tahun lalu, dan aku mengingat benar kata-katanya. ”Mengapa Anda memberikan pesan itu padaku Tuan Sartre? Ada apa dengan pesan itu Anda rela jauh-jauh dari Perancis untuk ke sini?” tanyaku kepadanya dengan penasaran.

Dia belum mau menjelaskan maksudnya mengatakan hal itu kepadaku. Bukannya menjawab pertanyaanku, dia malah memberikan petuah lagi. ”Cinta adalah bentuk penindasan terselubung. Dengan cinta, kita harus merelakan sedikit kemerdekaan kita kepada orang lain.” Aku pun semakin bingung dengan pernyataannya itu. Aku hanya bisa memandangnya sembari ingin agar dia menjelaskan dengan detil pernyataan itu. Kata-kata itu membuat ku semakin gundah akibat bercampur dengan malam. Semakin wingit saja.

”Aku tak hendak membingungkanmu. Aku hanya ingin agar engkau tak terjebak dalam pandangan monolitik tentang cinta dan kebebasan. Ingat, kau punya eksistensi, begitu juga lainnya. Pergunakan eksistensi itu dengan sebaik-baiknya untuk tujuan kemanusiaan. Bukan mengajakmu menuju sikap egoisme. Apatisme adalah sikap terkejam yang dimiliki oleh manusia,” paparnya panjang lebar menjelaskan.

Aku pun tertegun mendengarkannya. Mencoba menelaah kata-kata itu dalam hati, dan membenturkannya dengan realitas yang ada. Sebelum ku menemukan jawaban dari teka-teki yang Sartre berikan, seketika ia berpamitan. ”Aku pergi dulu. Banyak tugas yang harus ku selesaikan. Aku tak bisa membiarkan diriku berdiam diri dalam satu tempat,” katanya dengan penuh semangat. Aku pun tak bisa berkata apa-apa. Hanya ucapan terima kasih saja yang terlontar. Aku tak sempat lagi mengatakan kata lain. Kemudian, ia langsung beranjak pergi. Entah kemana arah perginya.

Buku maupun artikel tentang Sartre langsung ku buka saat itu. Banyak sekali karyanya yang menghiasi berbagai macam jurnal maupun penerbitan. Being of Nothingness dan New Age of Reason merupakan contoh dari karya monumentalnya. Kebebasannya ia wujudkan dengan tak terikat dengan apa pun, termasuk soal hubungan pribadinya dengan Simone du Buvoir, sang aktivis gerakan feminisme. Mereka memandang, kehidupan cinta seperti orang-orang umum itu hanyalah bentuk dari cinta borjuasi. Penuh dengan tipu daya dan menelikung kebebasan. Ia juga pernah menolak ketika dinyatakan sebagai penerima Nobel Sastra pada dekade 1970-an.

Bersambung….

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s