Aku Bertemu Presiden Soekarno

Posted: 12 November 2009 in Politik

U958115ACME

Presiden Sukarno

Jikalau Bangsa Indonesia mengkhianati sumbernya sendiri
Dengan sendirinya bangsa Indonesia akan gugur
…..dan sumber kita ialah anti imperialisme, anti kolonialisme, anti penjajahan
Cinta kepada kemerdekaan, cinta kepada masyarakat yang adil dan makmur
..selama kita setia pada sumber ini, tak ada kekuatan duniawi yang menghancurkannya
(Pidato Soekarno)

Malam itu aku baru saja mau pulang. Laptop dan beberapa berkas sedang kumasukkan dalam tas. Siraman lampu ruangan kumatikan. AC yang terletak di sudut kuturunkan suhunya. Gigitan hawa dingin mulai berkurang. Aku menengok sebentar ke jendela. Halaman kantor tampak sunyi dan gelap. Pada dinding jam kutengok jarum jam menunjukkan angka 11. Belum terlampau malam untuk ukuran kota ini. Aku segera bergegas. Kuteguk gelas minum yang berisi air putih. Gelas yang sejak tadi pagi belum aku sentuh. Sembari aku menyusun lembaran kertas kudengar ketok suara pintu. Pelan dan hening.

‘Masuk aja’ kataku sekenanya. Di balik pintu kulihat penjaga malam berdiri menyamping. Memakai sarung yang dibelitkan di kepala. Pak Jumingin nama penjaga kantor kami. Agak malu dan sedikit ragu-ragu. Ia tampak ingin bicara,

‘Mas, ada tamu yang mencari’, itu kata yang diucapkannya pertama. Sedikit takut dan cemas. Aku tak biasa melihatnya seperti ini. Pak Jumingin katanya jago silat di kampung. Ia berpengalaman menangkap pencuri. Kadang-kadang ia pamerkan belati kecil yang sering dibawa kalau berjaga malam. Untuk jaga-jaga, katanya.

‘Siapa pak? Malam-malam kok bertamu’ jawabku agak enggan. Kupikir mahasiswa yang mau ajak diskusi atau mengasih undangan ceramah. Mereka biasanya datang tanpa kenal waktu. Dipikir aku jenis orang yang tak tersentuh dengan hukum 24 jam. Gampang dan mudah ditemui setiap saat.

‘Sepertinya tamu penting dari jauh, Mas. Temui sebentar aja Mas, tolong’ pak Jum sepertinya agak memaksaku untuk menemui tamu itu. Untuk soal tamu Pak Jum memang tak pernah bohong. Jika tidak penting pasti sudah diusirnya sejak di pintu gerbang. Padahal aku ingin segera pulang. Merebahkan tubuh sambil memeluk si kecil. Tapi tak mungkin bertamu semalam ini kalau tidak mendesak. Aku tiba-tiba cemas. Jangan-jangan tamu dari keluarga kampung yang bawa berita gawat. Kubiarkan makalah yang tinggal berserakan di meja.

Kulangkahkan kaki mengikuti pak Jum yang mengajakku ke beranda depan. Ruangan tamu yang luas dengan kursi yang diatur persegi. Tampak di sana pria berkopyah hitam sedang menunggu. Aku mendekat dan hendak mulai menyapa. Tapi ia menengokku terlebih dulu. Berdiri dan berkata lebih dulu, ‘Wakh terimakasih anak muda, kau mau menemuiku malam-malam seperti ini’. Sungguh aku terkejut melihat postur tubuhnya. Wajahnya mirip dengan Ir Soekarno. Wajah yang baru saja sedang aku kumpulkan foto-fotonya. Untuk keperluan peringatan kemerdekaan di kampung. Untuk keperluan buku para pemimpin yang sedang aku tulis. Parasnya masih tampan dan sangat berwibawa. Ketampanannya masih bersinar terang.

‘Jangan mudah terkejut anak muda. Aku memang Soekarno. Orang yang sedang kautuliskan pidatonya dan kini kaucoba bandingkan dengan pemimpin negeri ini. Aku senang masih banyak penduduk di negeri ini yang mengenalku. Apalagi kau anak muda yang lahir ketika aku sudah tidak menghuni negeri ini’

Aku tertegun agak lama. Berdiri diam. Antara terkejut, takut dan bingung. Sungguh aku orang yang tak percaya tentang adanya mayat yang kembali hidup. Kisah yang paling banyak diangkat oleh sinetron Indonesia. Ingin aku mengucapkan doa pengusir makhluk halus. Doa yang dulu aku lafalkan kalau mau ujian. Kebetulan aku kuliah di Kampus Islam yang hanya sibuk jika mahasiswanya mau wisuda. Ketentuan agar hapal doa jadi kewajiban tiap mahasiswa.

‘kau jangan takut anak muda, aku bukan hantu. Aku adalah bayangan yang sejak sore tadi kau idam-idamkan. Aku kesini untuk menjawab segala pertanyaan yang berkecamuk dalam pikiranmu. Tentang kemerdekaan, tentang pembebasan, tentang imperialisme. Aku memang tidak hidup dalam zamanmu, tapi dulu semasa aku muda kuberikan hidupku untuk memberikan jawaban atas itu semuanya. Kini aku datang untuk mengajakmu diskusi, berdebat dan saling memberi tanggapan. Atas kehidupan kebangsaan yang makin lama makin memprihatinkan. Terhadap semua masalah yang membusuk hingga tercium baunya di alam kubur sana. Aku tak bisa tenang melihat kalian merusak negeri yang dulu dengan susah payah kami tegakkan’

Soekarno seperti sosok yang kulihat dalam foto masa lampau. Muda, cekatan dan pemberani. Entah tanpa sadar aku duduk membenamkan diri di kursi tamu. Kursi itu seperti menelan rasa takut, cemas dan kesangsianku yang terpendam. Aku ingin banyak bertanya pada seseorang yang hingga kini namanya paling banyak disebut. Seorang pendiri Republik yang telah melalui kehidupan mudanya dengan cara menakjubkan. Hidup dalam jeruji pengasingan, diburu-buru oleh aparat kolonial hingga berusaha untuk membuat negeri ini tegak secara terhormat. Kulihat di foto Soekarno bergandeng tangan dengan Fidel Castro. Pria yang sampai kini masih menjabat sebagai Presiden Kuba. Pemberani dan militan. Sama dengan Soekarno. Sangat benci pada imperialisme dan bahkan membuat berbagai slogan yang mudah dihapal. Amerika kita setrika, Inggris kita linggis. Salah satu ucapan yang sampai sekarang masih enak dibunyikan. Terasa kian relevan kalau diteriakkan.

‘Bung Karno, apa harapanmu pada negeri ini sebenarnya?’ Aku mulai mencoba berani untuk bertanya. Kegelisahanku pada bangsa ini sudah sampai tapal batas. Bahkan batas itu telah remuk!

‘Kau terlambat bertanya anak muda! Mengapa pertanyaan ini tak kaujawab sendiri. Aku dulu sudah menegaskan kalau negeri ini harus ‘merdeka’. Merdeka dalam artian yang sebenarnya. Rakyatnya bebas bekerja, bebas bersekolah, bebas berkarya. Siapa rakyat anak muda? Rakyat adalah kaum marhein anak muda. Yang dinamakan kaum marhaein adalah setiap rakyat Indonesia yang melarat atau lebih tepat: dimelaratkan oleh kapitalisme, imperialisme dan kolonialisme. Kaum marhaen ini terdiri atas tiga unsur: pertama, unsur proletar Indonesia (buruh), kedua unsur kaum tani melarat Indonesia, dan ketiga kaum melarat yang lain. Merekalah yang semustinya terangkat kehormatan dan hidupnya. Semua penduduk negeri ini, terutama kamu yang muda, selayaknya memperjuangkan kepentingan tiga golongan sosial ini. Merekalah yang banyak berkorban untuk negeri ini. Untuk mereka kami dulu memperjuangkan kemerdekaan’

Ucapannya seperti sebuah ketegasan. Aku jadi teringat kembali pidato Soekarno tentang Tri Sakti. Sebuah kata yang merangkum kehendak besar bangsa Indonesia di tengah percaturan International. Pidato itu masih terekam dalam benakku dan tertinggal demikian lama: ‘…Nah. Tri Sakti, berdaulat di lapangan politik, berdikari di lapangan ekonomi, berkepribadian di lapangan kebudayaan….berdaulat di lapangan politik berarti, sebagai bangsa memiliki satu negara yang bebas merdeka, bebas sama sekali dari imperialisme….berdikari di lapangan ekonomi berarti menciptakan tatanan masyarakat yang tidak menghisap satu sama lain…..masyarakat yang adil dan tinggi kemakmurannya….’

Kulihat Soekarno berdiri dan berjalan menuju almari perpustakaan. Buku-buku yang ada di dalam kebanyakan berisi undang-undang serta dokumen seminar. Beberapa buku tebal hanya memuat tulisan hasil penelitian tentang Hak Asazi Manusia dan demokrasi. Pintu kecil almari itu dipegangnya sembari menoleh ke arahku:
‘Tak adakah kumpulan pidatoku disini? Tak kulihat ada tulisan Hatta, Sjahrir dan Tan Malaka dalam perpustakaan ini? Bahkan tak ada novel maupun karya sastra dari pujangga yang kau simpan? Perpustakaanmu kering dari aroma pergerakan dan budaya. Buku-buku apa saja yang kini tertanam dalam benakmu anak muda?

Aku diam dan tercenung malu. Negeri ini memang memalukan dalam soal karya kebudayaan. Buku-buku terbit dalam jumlah yang makin minim. Soekarno, Hatta, Sjahrir, Tan Malaka hidup dalam budaya pengetahuan dunia. Buku-buku yang mereka baca jauh melampaui generasiku. Das Kapital Karl Marx yang ketebalannya luar biasa dengan antusias dibaca serius oleh mereka. Buah karya Adam Smith, Frederich Engels, Aristoteles, Plato hingga Leo Tolstoy menjadi dasar semua pembicaraan mereka. Kelak dari bentangan bacaan itulah gagasan-gagasan kebangsaan itu bersemi. Betapa jauhnya mereka dengan para pemimpin sekarang ini. Mereka seperti sepotong badan yang buta huruf. Buta terhadap derap pengetahuan dan pergulatan nilai yang semustinya jadi dasar pertimbangan dalam mengambil tiap keputusan politik. Mereka seperti manusia ‘mujur’ yang punya akal terbatas tetapi duduk dalam kekuasaan. Akibatnya negeri ini berujung pada kehancuran yang lebih mengerikan. Teringat itu aku jadi merasa bersalah dihadapan bapak proklamator yang kini tampak letih dan tua.

‘Anak muda, jangan kau sesali apa yang sedang terjadi. Pantang bagi anak muda untuk diam dan penuh sesal….kau ingat pidatoku di Istana Gelora dihadapan anak-anak muda kukatakan dengan seterang-terangnya:….kalau kita melihat lawan di muka, kita jangan mengkeret, jangan! Oo malahan kita gigitkan kita punya gigi. Ayo mau apa, ini dadaku, mana dadamu. Memang maksud saya mau mengganyang imperialismemu itu. Ayo, kau mau apa? ….tujuan revolusi nasional adalah membebaskan tanah, air, bangsa dari kekuasaan asing…maka anak muda jangan kau ragu, takut, cemas. Ayo kepalkan tanganmu dan jangan berdiam diri menyaksikan kolonialisme yang kini telah membunuh rakyat-rakyat miskin….ayo anak muda angkat mukamu, kepalkan tanganmu, bergeraklah membangun gerakan…’

Soekarno mengguncang-guncang bahuku dengan keras. Aku terkejut, kaget dan berdiri tegak. Mataku ditatapnya dengan sorot yang mencengkram. Aku tak menyangka kehadirannya menyulut semangatku yang redup dan lesu. Tiba-tiba Soekarno menjabat tanganku dan bicara seakan-akan berada dihadapan jutaan massa:
‘kalau ada mahasiswa yang tidak progresif revolusioner, tendang mahasiswa yang tidak progresif revolusioner itu! Dan jikalau ada organisasi mahasiswa yang tidak progresif revolusioner, bubarkan saja organisasi mahasiswa yang demikian itu!….maka aku menghendaki jangan kalian diantara anak-anak muda gontok-gontokan…jangan berkhianat pada sesama….jangan cerai-berai…bangkitkan militansi dan semangat kalian…melihat kemiskinan, kelaparan, pengangguran jangan hanya diam…kutuk, hujat, hina dan lawan semua itu dengan tangan-tanganmu, teriakanmu dan pikiranmu….engkau harapan rakyat marhaen..jangan kau khinati kami yang telah tiada, yang telah dibuang, diasingkan demi memerdekakan negeri ini…jangan anak muda…kalian semua harus berjuang di tengah-tengah Rakyat Marhaen, membulatkan seluruh kekuatan Marhaen, dan bersama-sama dengan kaum marhaen itu terus berjuang melawan kapitalisme, imperialisme, kolonialisme, di manapun ia bercokol dan berada…..’

Tanganku diguncang-guncangnya. Seperti sebuah botol kosong yang ingin dilempar. Soekarno seperti ingin mengeluarkan arus semangat yang mengalir dalam tubuhku. Dipeluknya aku dengan tekanan yang kuat dan berwibawa. Ia meninggalkanku dalam kesunyian yang bening. Pintu serambi depan tertutup rapat. Aku berdiri mematung di ruangan tamu yang lengang dan luas. Ini malam tanggal 16 Agustus dan kutengok dari jendela beberapa orang pulang dari malam tirakatan. Sebuah malam untuk mengenang kembali rapat yang dulu dilakukan Soekarno untuk membahas kemerdekaan negeri ini. Pagi esok, sebuah peringatan kemerdekaan akan diperingati dengan kemeriahan yang berlebihan dan upacara yang kadang memalukan. Kita hanya mampu membaca teks proklamasi yang kian kehilangan gema kesejahteraan dan keadilan. Aku mungkin tidak bisa kembali hidup seperti di masa Soekarno, tapi kini aku menghadapi musuh yang dulu selalu dilawan oleh mereka: imperialisme. Dan kini imperialisme itu tegak melalui tangan-tangan kaum pribumi yang kulitnya sama denganku. Semustinya aku akan tetap bersikap dan tegak sebagaimana amanat Soekarno: terus melawan, terus bergerak, terus menjadi kader kaum marhaen!

Sumber: dikutip langsung tanpa editing dari: http://www.resistbook.or.id/index.php?page=newsletter&no=21-2007&id=35&lang=id

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s