Punggung Dunia: Ceceran “Berlian” di Gunung Patuha (2)

Posted: 11 November 2009 in Cerita

Kawah putih di Ciwidey, kawasan Bandung selatan, tak akan habis kisahnya meski banyak yang telah bercerita tentangnya. Keindahan alam dan keramahan penduduk sekitar membuat banyak orang ingin berkunjung lagi. Tak puas hanya sekali saja menginjakan kaki di kawah Gunung Patuha itu sembari bermain air berbau belerang pekat. Sangat eksotis dan menyegarkan mata. Setiap sudutnya menyajikan keelokan kawah hasil erupsi ini.

Untuk sampai di kawah putih membutuhkan perjuangan tertentu. Lokasi yang berada di puncak gunung dengan kondisi jalan yang ”lumayan” membuat perjuangan menuju ke sana serasa berat. Membutuhkan waktu sekitar 40 menit untuk bisa sampai dan banyak tantangan yang harus dihadapi. Jangan kaget bila melihat kendaraan roda empat diparkir begitu saja dalam keadaan kososng di pinggir jalan. Kerusakan mesin sedang terjadi karena medan yang ”lumayan” itu.

Namun, dibalik perjuangan itu, rasa puas dan takjub langsung hadir tatkala hamparan warna putih di depan mata. Surga yang tersembunyi di balik punggung dunia terhampar. Hawa dingin dan ketegangan saat menuju ke puncak gunung langsung hilang begitu menatapnya. Kata-kata tak cukup lagi untuk menggambarkan keindahan dan kecantikannya. Di puncak Gunung Patuha nan wingit itu tersembunyi sebuah keajaiban alam yang membuat mata tak lelah untuk terus berkelindan.

Kawah putih berada di ketinggian 2.434 meter dpl dengan suhu antara 8-22°C. Berada di puncak Gunung Patuha yang bersembunyi dibalik misteri kepercayaan masyarakat setempat. Kawah hasil letusan pada sekitar abad X-XII tersebut membentuk takdirnya sendiri. Tak lagi menakutkan sebagaimana sebelum letusan itu terjadi. Kawah putih sesungguhnya tak sendirian. Pada ketinggian 2.194 terdapat Kawah Saat yang merupakan hasil erupsi serupa. Namun, keberadaannya tak setenar ”kakak” tingkatnya itu.

Keramaian di Kawah Putih bukanlah sesuatu yang telah lama terjadi seperti saudaranya, Gunung Tangkuban Perahu dengan legendanya itu. Menurut masyarakat setempat, kawah putih baru ramai dikunjungi wisatawan pada abad XXI, tahun 2000. Sebelumnya, hanya beberapa orang saja yang rela menghabiskan waktunya di tempat ini. Ditelisik lebih jauh lagi, kawah putih pernah dianggap sebagai kawasan yang dilarang dengan mitos-mitos tertentu. Namun, seorang ahli botani Dr. Franz Wilhelm Junghuhn (1809-1864) memecahkan mitos itu pada 1837. Cerita masyarakat tentang burung yang mati ketika terbang tepat di atas kawah merupakan akibat kadar belerang yang sangat tinggi.

Kapitalisasi juga pernah jadi corak dari kawah putih. Sejak penemuan yang menakjubkan itu, belerang yang dikandungnya dieksploitasi sedemikian rupa. Pemerintah pendudukan Belanda membangun pabrik belerang bernama Zwavel Ontgining ‘Kawah Putih’. Pada zaman pendudukan Jepang, perusahaan tersebut berubah nama menjadi Kawah Putih Kenzanka Gokoya Ciwidey. Sisa dari industrialisasi kawah putih masih bisa ditemui. Artefak berupa gua merupakan saksi bisu dari kapitalisasi tersebut.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s