(Masih) “Enggan” Mundur

Posted: 4 November 2009 in Sosial-Budaya

65645_jaksa_agung_hendarman_supandji_thumb_300_225

Jaksa Agung Hendarman Supandji (vivanews.com)

Mundur dari tampuk pimpinan bagi pejabat di Indonesia masih jadi barang langka. Sejumlah jurus keluar untuk bisa tetap bertahan dalam posisi itu. Alasan mengenai kewenangan pejabat yang lebih tinggi seringkali jadi tameng untuk melakukan hal itu. Senantiasa keluar meski segudang masalah sedang melanda di lingkungan yang ia pimpin.

Salah satu contoh menarik adalah pada Jaksa Agung kita sekarang, Hendarman Supandji. Dugaan keterlibatan anak buahnya dalam skandal ”kriminalisasi” KPK membuatnya bergeming. Sidang lanjutan uji materi UU No. 30/2002 tentang KPK di Mahkamah Konstitusi yang memutar percakapan antara Anggodo Widjaja masih dianggap belum cukup. Dalam rekaman yang diputar Selasa kemarin (3/11), nama pejabat di lingkungan Kejaksaan Agung sering disebut.

Kejadian ini ternyata tak membuat Jaksa Agung mengundurkan diri dari jabatannya. Tentu saja, tindakan ini sebagai wujud pertanggungjawaban yang bersangkutan karena adanya dugaan keterlibatan anak buahnya dalam suatu kasus. Mundur atau tidak merupakan kewenangan Presiden karena memeiliki hak prerogatif untuk itu. “Karena yang mengangkat dan menurunkan saya, Bapak Presiden,” ujar Jaksa Agung seperti dilansir kompas.com (4/11).

Fenomena ini tentu saja jauh dari apa yang kita lihat di negara lain, terutama Jepang. Suatu kesalahan yang dilakukan oleh anak buah merupakan tanggung jawab sang pemimpin. Setiap kejadian yang menimbulkan kontroversi di lingkungan yang ia pimpin merupakan sesuatu kesalahan, harus dipertanggungjawabkan. Mundur adalah salah satu bentuk pertanggungjawaban itu.

Salah satu contoh menteri yang mengundurkan diri karena merasa tak mampu tersebut adalah Seiichi Ota. Menteri Pertanian Jepang di era kepemimpinan PM Yasuo Fukuda ini mundur dari jabatannya setelah merebaknya isu beras bermelamin. PM Fukuda menerima surat pengunduran diri bawahannya itu pada 19 September 2008 silam. “Saya bertemu dengan Perdana Menteri Fukuda dan mengatakan padanya tentang keputusan saya untuk mundur, mengingat seriusnya masalah beras tercemar bagi masyarakat,” kata Ota seperti yang dilansir detik.com (19/9/2008).

Membandingkan kedua masalah ini membuat dahi langsung berkernyit. Pertanggungjawaban atas kekuasaan yang diemban masih jauh dari harapan. Jaksa Agung masih enggan untuk mundur dari posisinya dengan berbagai alasan. Tentu saja, hal ini hampir tak bakal terjadi bila kasus yang sekarang ramai ini terjadi di Jepang. Jaksa Agung di jepang hampir bisa dipastikan mundur dari jabatannya karena ulah anak buahnya meskipun masih dalam status dugaan.

Tentu saja banyak pertanyaan tentang kultur ini. Mengapa ya Pak Hendarman masih ”enggan” mundur sebagai Jaksa Agung???

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s