Punggung Dunia: Ceceran “Berlian” Di Gunung Patuha (1)

Posted: 29 Oktober 2009 in Cerita

 

Kawah Putih

“Now the fighting was in the next mountains beyond and was not a mile away.”

– Ernest Hemingway, A Farewell to Arms-

Suara kecapi terdengar nyaring dengan alunan irama musik sunda. Alunan merdu kecapi itu menghantarkan setiap orang terbawa pada suasana “kampung” nan sendu. Sambil menikmati alunan kecapi, mata pun langsung disuguhi pemandangan yang indah dan eksotis. Pemandangan yang sangat elok dan tersembunyi jauh di punggung dunia. Bersembunyi di balik kabut tebal dan hawa dingin yang menusuk tulang, serta jauh dari hiruk-pikuk kehidupan. Itulah kawah putih yang berada di puncak gunung Patuha, Ciwidey, Jawa Barat.

Pengamen Kecapi

Gunung Patuha terus menyembunyikan keindahan kawahnya dari jangkauan manusia. Kabut tebal, jalan menanjak, dan hawa dingin menjadi tantangan tersendiri untuk bisa menggapainya. Meski demikian, tantangan itu bukanlah apa-apa dibandingkan sajian yang disuguhkannya. Sebuah simfoni alam nan gilang-gemilang dengan keindahan kawah dan eksotisme kaldera berbau belerang menusuk hidung. Biru, kuning, dan putih bersatu membentuk nasibnya nan rupawan itu.

Sejarah penemuan kawah ini pada dasarnya banyak dibahas di berbagai blog. Namun, keindahannya tak bisa diwakilkan pada tulisan lainnya. Mengendap menyendiri dalam setiap benak penikmatnya. Mereka yang memandang kawah belerang itu dari dekat. Sangat relatif sekali seperti halnya kebenaran dalam perspektif Nietzsche-an. “Tak ada kebenaran mutlak. Adanya adalah kebenaran relatif dengan perspektif-perspektif tertentu.” Barangkali ungkapan tersebut cocok untuk menggambarkan keindahan kawah putih yang sangat menyehatkan mata itu.

Laut Patuha

Kawah putih memang menyimpan misteri terkait alamnya. Kawah sejenis di pegunungan ijen (kawah ijen) tak seramah tempat ini. Bangkitnya matahari di kawah ijen menjadi petanda agar tempat itu harus dihindari manusia. Bau belerang yang menusuk dapat mematikan mahkluk hidup. Namun, kamus seperti itu tak berlaku di kawah putih. Semakin siang semakin ramai saja pengunjungnya. Papan peringatan tak boleh dilewatkan begitu saja. Pengunjung hendaknya tak berada di lokasi kawah lebih dari 20 menit karena dapat membahayakan kesehatan.

Sayangnya, papan peringatan itu tak banyak digubris para pengunjung, termasuk aku. Keindahan alamnya sayang sekali untuk dilewatkan begitu saja. Kilatan blitz kamera tak henti-hentinya meramaikan suasana. Sayang sekali bila hanya meninggalkannya begitu saja. Hanya langit gelap dengan awan hitam berarakan yang dapat mengusir meskipun perasaan berat hati tetap saja bergelanyut. Hanya waktu saja yang dapat mengusir. Seperti Fyodor Dostoevsky katakan dalam novel terkenalnya yang berjudul “Crime and Punishment”, “I remember, my good sir, I remember quite well your coming here.”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s