Kenangan: Yang Penting Gaya (1)

Posted: 27 Oktober 2009 in Cerita

IMG_0445 Malam semakin larut tak membuat mata ini terjaga. Agar dapat segera menutup mata, iseng-iseng ku buka foto-foto zaman kuliah dulu. Satu per satu ku amati dengan seksama sembari mengingat kembali kenangan yang ada didalamnya. Sungguh indah dan menakjubkan semua kenangan yang ada didalamnya. Kapan bisa mengulanginya kembali?

Hanya sebuah gambar. Foto-foto itu seolah-olah mengajakku ke setiap detail peristiwa yang terjadi pada waktu itu. “Cachinx, ayo kita kumpul-kumpul lagi,” ujarnya seolah-olah berkata padaku. Suka dan duka dilalui bersama. Juga beberapa perdebatan, dari biasa hingga keras, yang dulu mewarnai setiap tapak jalan. Alangkah indahnya hal itu, dan semuanya berakhir melebur tatkala fajar memanggil setiap individu untuk menapak ke tahap selanjutnya.

IMG_0296

100_4681

Gambar-gambar itu memperlihatkan setiap masa dan keadaan yang tak mungkin lagi bisa terulang kembali seperti semula. Kejamnya waktu membuat keadaan demikian terjadi. Namun, ingatan akan setiap kebiasaan atau perilaku masing-masing tak pernah lupa meski waktu berjalan dengan begitu cepatnya. “Terry…Pinjam pulpennya dong. Aku hari ini lagi ga bawa,” pintaku sambil merayu saat-saat awal kebersamaan pada semester satu.

Kami, HI Unair 2002, bisa berkumpul bersama dengan dekat bukanlah tanpa proses. Saat-saat awal tak kenal satu sama lain. Kami mayoritas berasal dari daerah, tanah udik. Wajah ndeso dengan segala atributnya melekat kuat pada diri masing-masing. Kemudian, Malam Keakraban (MK HI) yang diadakan sekitar dua bulan kemudian mempererat kami. Bagaimana tidak? Selama tiga hari dua malam harus bahu-membahu untuk dapat segera menuntaskannya.

“Arif…Hati-hati! di depan ada lubang,” ujar Pipit yang tanpa bosannya memberi aba-aba pada ku. Kala itu, aku mendapatkan tugas membawa telur dengan sedotan di atasnya, tak boleh kuning telur dalam gelas plastik berpendar. Entah berapa kali aba-aba itu keluar. Aku tak sanggup menghitungnya kala itu karena banyaknya omelan yang darinya. “Fiuhhh…cukup cerewet juga nih anak,” kataku dalam hati saat itu. Dengan “terpaksa”, aku pun menjulukinya “Mbok Nem” karena kecerewetannya. Pisss…

IMG_0341

Tanpa ku sadari, foto-foto itu menunjukan suatu proses seperti halnya evolusi dalam kehidupan. Seiring berjalannya waktu, kebersamaan itu semakin kuat saja. Begitu pula konflik di antara kami, semakin mengeras juga. Itulah dinamika, yang menurut Hegel, dengan segala bentuk negasi antara tesis dan anti-tesis sehingga melahirkan sintesis. Perpisahan juga melanda kami. Dari 35 orang yang terdaftar untuk pertama kali sejak semester satu, akhirnya harus tersisa 29 orang saja. Mereka harus berpisah karena dihadapkan pada pilihan yang ada didepannya.

Berjalannya waktu membuat angkatan kami tak lagi menjadi si bungsu. Terus menua meskipun hal itu tak pernah kami akui dihadapan adik-adik angkatan yang bertemu. “Kita kan angkatan paling muda,” klaim kami atas keadaan yang semakin “menua” itu. Tak luput pula beban yang harus dipikul, tugas semakin menumpuk saja setiap harinya. Tiada hari tanpa tugas. tiada hari tanpa review. Itulah rutinitas yang harus dijalani. Wajah cemberut, tegang, maupun khawatir senantiasa hadir. Apalagi bila sedang berhadapan dengan dosen yang hobi dengan uji petiknya.

“Tanya saja ke Ivonne atau Lia,” ujar Wina atau Icha yang selalu ku jadikan orang pernah untuk ku lobi agar bisa turut bergabung dalam kelompok. “Ughh…Ya sudah, berapa NIM-mu!” ujar Ivonne atau Lia kepada ku. Tentu saja, kata itu hampir tak pernah melenggang dengan lancar. harus ada lobi dengan sedikit rayuan-rayuan didalamnya hingga berdarah-darah. Sungguh tak terbayangkan bila saudara-saudaraku yang cantik ini tetap bersikeras tak mau. Aku sangat berterima kasih kepada kalian untuk semuanya. Juga untuk semua yang belum saya sebut di atas.

IMG_0424

Mencoba merayu Terry...hehehe ^_^

Foto-foto itu pun memanggilku untuk kembali ditatap. Malam yang wingit membangkitkan kembali kenangan didalamnya dengan isi harapan dan kisah suka maupun duka. Malam terus beranjak dan semakin tak bersahabat. Mata juga sudah tak mau diajak untu berkompromi lagi. Memaksa untuk segera direbahkan untuk menyambut esok pagi. Namun, kenangan sejenak dalam bentuk gambar itu masih saja tak berminat untuk diakhiri. Aku rindu kalian semua…T_T

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s