Ideologisasi Tubuh

Posted: 26 Oktober 2009 in Ekonomi-Politik

Seringkali kita hanya berpikir bahwasannya tubuh ini hanyalah seonggok daging hidup yang memerlukan berbagai macam asupan agar bisa tetap segar. Kumpulan dari berbagai macam organ yang mampu menggerakan sedemikian rupa sehingga bisa melakukan berbagai aktivitas. Juga didalamnya mengandung sutu nilai “intrinsik” yang harus dijaga seperti tuturan peribahasa jawa, “ajining rogo soko busono.”Bagaimana supaya tubuh kita tampak senantiasa indah dan sedap dipandang oleh setiap mata yang memandangnya.

Memang tak bisa dipungkiri, keindahan tubuh dapat menimbulkan suatu nuansa tersendiri bagi mereka yang melihatnya. Melahirkan suatu kekaguman tersendiri yang memunyai relativitas cukup tinggi. Relativitas yang berjalan atas dasar pandangan zaman dan bisa berubah sewaktu-waktu. Namun, konsepsi ini seringkali “menikam” kaum perempuan yang notabene seolah-olah dituntut untuk senantiasa tampak indah. Tak luput pula kaum laki-laki, juga turut dituntuk untuk melakukan hal sama. Zaman mesir kuno, tubuh yang indah adalah milik sang ratu, Cleopatra. Zaman Singhasari, Ken Dedes adalah lambang kecantikan. Saat ini, iklan adalah ukuran untuk itu semua.

Tubuh dalam setiap zaman memunyai nilai tersendiri yang senantiasa jadi panutan setiap orang. Pada zaman sebelum teknologi informasi maju pesat seperti sekarang, tubuh dimanfaatkan tenaganya. Tenaga merupakan alat untuk memertahankan hidup dengan definisi faktor produksi. Tenaga bernilai ekonomi karena dari sinilah manusia dapaat mencukupi kehidupannya. Namun, seiring perkembangan zaman, “eksploitasi” terhadap tubuh pun bergeser. Citra yang ada di dalam tubuh inilah yang dieksploitasi dengan hebat hingga membuatnya rasis, bahkan fasis. Membuatnya ingin senantiasa terus dikagumi dan dipuja hingga harus mengorbankan banyak hal demi meraih realitas semu itu.

Rasisme dan fasisme tubuh ini erat dengan derasnya arus informasi, terutama akibat iklan. pesan-pesan yang hendak dibawa iklan tersebut mampu menyuguhkan hipper-realitas yang menimbulkan impulsion. Menyuguhkan apa yang ada dalam iklan tersebut seolah-olah adalah benar dan nyata meskipun sesungguhnya hanyalah rekaan belaka. Dalam hal ini, simulasi memunyai peran sangat besar dalam proses menuju ke arah ini. Menurut Jean Baudrillard (1987), dunia simulasi tak pernah menyajikan realitas sebagai cermin kenyataan, melainkan model-model. Dunia direpresentasikan sedemikian rupa dengan model. Siapa tak kenal Rambo. Dial ah representasi kejayaan Amerika Serikat dalam perang Vietnam yang pada kenyataannya justru menenggelamkan para tentara negara adidaya tersebut.

Dalam konteks tubuh, simulasi memunyai peran cukup besar dalam proses pembentukan citra diri. Tubuh yang telah dieksploitasi sedemikian rupa itu akhirnya menginginkan agar dirinya terus mendapatkan perlakuan khsusus, melebihi kebutuhannya. Melalui simulasi dengan hipper-realitasnya, tubuh sengaja diciptakan untuk konsumtif. Konsumtif bukan dalam terhadap substansi, tapi citra yang ada didalam produk yang dipakainya. Menurut Baudrillard dalam bukunya Masyarakat Konsumsi (2002), masyarakat saat ini bukanlah mengonsumsi nilai guna yang ada dalam suatu produk. Masyarakat cenderung mengonsumsi atau menghabiskan citra yang ada dalam produk tersebut.

Kencangnya simulasi yang menerpa masyarakat ini, perlahan tapi pasti, menciptakan pengetahuan tersendiri bagi individu penikmatnya. Tak pelak, dominasi pun dapat tercipta seperti halnya penjara panoptik a la Michael Foucault. “Kekuasaan akan melahirkan pengetahuan, dan pengetahuan akan melahirkan kekuasaan.” Melalui kuasa-kuasa itulah akhirnya sebuah nilai jadi pengetahuan baru dan berubah wujud menjadi kekuasaan yang memunyai kesulitan cukup tinggi untuk membongkarnya.

Menancapnya pengetahuan baru tentang tubuh itu menimbulkan dampak terhadap pengorganisasian. Tubuh diusahakan terus-menerus mendapatkan kenikmatan dengan mengeksploitasi citra yang ada dalam sebuah barang/jasa. Tubuh didorong sedemikian rupa untuk tterus terjun dan tenggelam dalam simulasi-simulasi tanpa makna. Tubuh bukan lagi sebagai subyek, tapi obyek dari kekerasan tanpa persentuhan ini. Eksploitasi terhadap tubuh ini menjadikan upaya pengekangan terhadapnya sulit dilakukan sehingga hal itu menimbulkan dampak negatif bagi lainnya. Dari tubuh kita sendiri, bencana dapat datang karena keserakahan dan kerakusannya terhadap citra.

Pembebasan tubuh terhadap kapitalisasi ini merupakan suatu langkah segera agar tak terus-menerus dieksploitasi secara halus. Jebakan-jebakan simulasi terhadap tubuh dapat menimbulkan dampat sangat luas. Keserakahan dan kerakusan yang menimbulkan homo homini lupus erat dengan keinginan tubuh untuk mengonsumsi citra. Sebagai gambaran sederhana, ada pertanyaan kecil sebagai renungan. Apa beda makan di gerai McD dengan warteg sebelah rumah? Apakah benar karena citra dari McD sendiri?

Komentar
  1. Jurnal Hurria mengatakan:

    […] 2. Pasar Bebas dan Kemiskinan Struktural 3. “Sang Pemimpi”: Potret Indonesia Masa Kini 4. Ideologisasi Tubuh 5. THE NEW RULES OF THE WORLD: Ironi Indonesia (Resensi […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s