Memori dan Harapan di Kontrakan: Saat-Saat Awal (1)

Posted: 22 Oktober 2009 in Cerita

Sempak macan, singlet compang-camping, turn over, astronot, jemeks room, neraka jadi istilah tak kan terlupakan. Kebersamaan dan kehangatan begitu menjadi, seolah tak akan berpisah dan melupakan begitu saja. Disiitulah harapan dirajut dalam rumah sederhana di Jalan Dharmawangsa Barat I/5 Surabaya. Harapan akan sebuah cita-cita yang sejak lama diidamkan.

Itulah rumah kontrakan yang jadi markas besar Gmni Komisariat Fisip Unair sejak Agustus 2004 hingga setahun kemudian. Didalamnya menyimpan sejarah: kepedihan, kesederhanaan, heroisme, keceriaan, dan kekeluargaan. Bibit bunga untuk terus maju ditanam untuk dipertemukan di perempatan nantinya.

Tak dapat disangkal lagi, rumah sederhana itu jadi ikon tersendiri. Bagaimana tidak, semua orang di dalamnya “seragam”, penghuni kontrakan yang “mengenaskan.” Hampir setiap orang yang bertemu dengan penghuni di dalam senantiasa berkata, “bau khas kontrakan.”

Tak hanya itu saja. Kisah-kisah konyol pun hampir tiap hari tersaji. Ya, itu merupakan bagian dari keragaman yang menyatukan seisinya. Kisah-kisah itu begitu menyatu dan hadir dengan keceriaan meski didalamnya sangat “membunuh.” Setting-ang. Itulah kata yang paling ditakuti semua penghuni didalamnya. Sekali kena, mampus, dan semua hampir pernah jadi korbannya.

Kisah heroisme juga tertanam kuat dalam rumah itu. Dari rumah ini, muncul banyak ide maupun pikiran “nakal” untuk perubahan. Diskusi, rapat, maupun pertemuan-pertemuan dilaksanakan. Apalagi menjelang moment-moment penting bagi para penghuninya. Riuh-rendah suara pasti menggelegar hingga larut.

Rumah ini juga meninggalkan jejak “muram.” Bagaimana tidak, sebulan pertama ditinggali seorang tetangga meninggal dunia. Kemudian, sebulan berikutnya hal sama terjadi. Tempat itu penuh riuh rendah canda tawa tanpa henti hingga pagi menjelang. Pasca ditinggal penghuninya, sebulan kemudian seorang tetangga meningga lagi. Mungkin kaget dengan perubahan situasi. Memang sebenarnya tak ada kaitan dengan penghuninya. Itu semua sudah jadi kehendak-Nya.

Potret “kemiskinan” ala mahasiswa juga tergambar ddirumah ini. Bagaimana tidak, sebatang rokok bisa digunakan untuk 4-5 orang. Tiap hari bergumul dengan mie instan, nasi-krupuk, serta soto sekedar kuah hadir. “Bung, segera ke kontrakan! Para ‘pejuang’ sedang menghadapi bahaya ‘kelaparan’.” Begitulah memo sederhana kepada seorang kawan bila tanggal tua menghadang. Namun, dibaliknya, hal itu yang menjadi perekat hingga saat ini. I miss this situation but I don’t want to repeat it:)

Seiring perjalanan waktu, rumah itu harus kami tinggalkan jua. Semua penghuni berpencar ke tempat “idaman” masing-masing. Meski demikian, kisah lama sering diputar untuk ingatkan akan semua kebersamaan. Warung depan kampus jadi pemersatu. Menghabiskan malam sebagaimana dulu dilakukan didalam rumah kenangan.

Saat ini semuanya semakin terfragmentasi. Para penghuninya berpencar untuk memenuhi tanggung jawab masing-masing. Namun tetap saja, semuanya tetap satu sebagai keluarga besar. Tak terpisahkan meski masing-masing berada ditempat beda, bahkan saling berjauhan. Memori dan harapan menyatukan semua itu. MERDEKA!!!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s