Memori dan Harapan di Kontrakan: Saat Pergantian “Rezim” (2)

Posted: 22 Oktober 2009 in Cerita

Saat Kota Surabaya yang panas ku singgahi akhir bulan lalu, tak ada feeling apa pun terhadapnya. Seperti biasa, komputer yang menemani disaat kuliah dulu kembali ku “acak-acak.” Mencoba membaca kembali beberapa catatan atau artikel-artikel lama yang sengaja ku simpan. Sungguh menakjubkan dan memberi inspirasi tersendiri disaat dahaga sekembali dari kota asal “bonek” ini.

Saat menjelajah, tak sengaja ku temukan catatan pendek yang ku tulis di “rumah singgah” Dharmawangsa Barat I/5 sekitar lima tahun silam. Catatan kecil seputar pergantian kepemimpinan dari Ambon ke Yokkie “Bloon” yang terselip dalam sebuah tulisan panjang. Apalagi kalau bukan seputar hingar-bingar yang terjadi menjelang suksesi tersebut.

Memang tak ada yang istimewa dari catatan pendek itu. Hanya bercerita soal perjuangan berat Ambon untuk lengser dari jabatannya (jangan ge-er loe!). Settingan (kami gunakan istilah ini untuk membuat suatu “penderitaan”) demi settingan dilancarkan agar penderitaan kawan satu ini lengkap. Semua bahagia dengan keadaan ini karena dapat melihat dia menderita (Cak Ek pun puas..he..he…:P).

Ajakan untuk mengadakan rapat besar sering dilancarkan. Sendirian tanpa teman yang membantu. Soft file undangan maupun draft Laporan Pertanggungjawaban yang masih dalam proses maupun sudah siap seringkali di acak-acak. Apakah folder dipindah atau ditambahi macam-macam didalamnya, tapi tak sampe merusaknya. Itu bukan upaya menghambat, tapi sekedar melepas dahaga (Xiemen, thx buat kejahilannya…). Alhasil, rencana suksesi harus ditunda sejenak.

Sejurus kemudian, lobi-lobi dilakukan. “Ambon Star” yang kala itu tak punya massa riil harus upluk-upluk “Cak Ek Star” sampe berdarah-darah. Begitu pula kepada “Star-Star” lainnya yang kala itu tumbuh subur. Rupanya tak sia-sia. Suksesi itu pun dilaksanakan dalam suasana Ramadhan penuh berkah sekitar Nopember 2004 (tolong dikoreksi bila salah). For the future, please don’t repeat this attidude. We must go on without settingan for it.

Pagi berganti siang berlalu dan sore pun tiba dengan malu-malu. Wajah ceria menghiasi semua kader GmnI Komisariat FISIP Unair yang hadir di kontrakan. Acara demi acara pun dilewati dengan mulus meski didalmnya terjadi tarik ulur cukup panjang. Agenda utama dimulai. Apalagi kalau bukan saat pemilihan Ketua Komisariat baru yang nantinya jadi nahkhoda kapal. Kapal yang saat itu masih rentan, masih terbuat dari plastik.

Cemas, riang, lega, sampe ndredeg tampak dari air muka sekitar 18 kader yang saat itu hadir. Apalagi kalau bukan karena konvensi yang digelar. Satu demi satu calon kuat Ketua Komisariat baru berguguran. Tersisalah dua kandidat terbaik, Yokkie “Bloon” Ardhya dan Aries “Elex” Lorens. Pemilihan dilakukan, satu suara dapat mengubah semuanya.

Satu persatu memberikan suara pada kertas kecil “harapan dan masa depan.” Kemudian kertas kecil berisi “harapan” itu dibacakan untuk dihitung. Didalamnya ada salah satu tulisan yang sampai sekarang terus ku ingat, “pejah gesang nderek panjenengan…(Aku lupa suara itu untuk siapa)” Namun,Stop! Adzan maghrib berkumandang, buka puasa harus dilakukan. Proses penghitungan untuk sementara dihentikan. Skor sementara imbang, 8:8 untuk kedua kandidat. Hanya tersisa satu kertas suara yang belum dibacakan karena satu orang kader meninggalkan arena sebelum tuntas. Kertas itu kami tanggalkan di paku bagian atas white board. That’s great moment for all, especially for two candidates since it can changed of result that process. Bravo…

Buka bersama. Itulah agenda “sampingan” malam itu. Riuh-rendah canda tawa menggema diseantoro ruang persegi empat diantara jepitan tetangga kiri dan kanan. Namun, tatapan penuh “kecemasan” terlihat di wajah dua kandidat tersisa, Elex dan Yaukkie (mungkin mereka cemas kalau kalah atau…).

Saatnya tiba. Tabir-tabir dibuka dengan penuh penantian. Bukan siapa lagi kalau hanya secarik kertas kecil yang akan mengubah segalanya (Yok, wajahmu dulu kelihatannya penuh penantian dengan kertas itu!!!:D). Setiap detik berlalu, penuh pergumulan. Siapa pun yang ada diruangan itu terkesiap seolah-olah terhipnotis. (Aku lupa tulisan di kertas itu, tapi intinya) Yokkie…!!! Selamat ya….Akhirnya semuanya tuntas. Ucapan selamat pun datang bertubi-tubi pada pemimpin kami yang baru, Bung Yokkie (Gimana perasaanmu saat itu bung?:0).

Malam pun berganti. Mentari menyambut dengan tenang. Perbincangan soal pemilihan yang heroik tak berhenti begitu saja. Kampus jadi ramai dengan pembicaraan soal proses semalam keesokan harinya. Sungguh menyisakan rasa puas tersendiri. Kami pun menemukan pemimpin baru untuk terus mekar dan berkembang layaknya bunga di musim hujan.

Cerita ini tentunya tak asing bagi kawan-kawan yang mengalami atau tidak ada dalam peristiwa itu. Ini hanya sebagai upaya mendokumentasikan percah-percah kecil yang berserakan diantara kesibukan sehari-hari. Sayang, dokumentasi dalam wujud audio dan/ visual tak ku temukan terkait peristiwa ini. Hanya mengandalkan catatan singkat dan ingatan yang sangat terbatas. Catatan kecil ini hanya sebagai upaya mendokumentasikan peristiwa masa silam agar tak hilang begitu saja karena keterbatasan “memori kolektif.” Kata Butet Manurung, dokumentasi melalui ujaran dan ingatan seringkali rapuh karena pewarisannya akan mengalami reduksi. Tentu saja, cerita singkat ini jauh dari kelengkapan seperti aslinya. MERDEKA!!!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s