Memori dan Harapan di Kontrakan: Saat “Ajal” Tiba (3-Habis)

Posted: 22 Oktober 2009 in Cerita

Saat Berkemas Barang

Saat Berkemas Barang

Saat Natal tiba setelah hampir setengah tahun tak merasakan panasnya Surabaya, kembali kota ini ku singgahi. Ternyata masih seperti dulu, tapi aku merasa sedikit asing saat melintasi jalanan. Karena agak lama tak turn over di kota ini yang membuat demikian. Serasa banyak sekali perubahan terjadi padahal hampir nihil, tetap sama seperti dulu. Namun tetap saja, serasa bingung saat melintasinya (untuk terus pegangan so ga bikin jatuh:D).

Pada suatu pagi aku ingin menikmati sekedar jalan-jalan. Sekalian ke tempak adik di daerah Dharmawangsa. Setiba di daerah ini, aku terperanjat dengan gang kecil sebelah SD Airlangga. “Ini jalan yang dulu sering ku lalui,” gumamku dalam hati. Aku pun memutuskan untuk lewat jalan itu. Tak apa-apa sedikit berputar karena jaraknya hanya sepelemparan batu dengan kos adikku.

Ketika melintasi sebuah rumah sederhana di gang itu, aku terperanjat menatap penuh keheranan. Kenangan menarikku ke situasi 4-5 tahun silam. Apalagi kalau bukan kontrakan yang jadi rumah singgah dan “melegenda” saat zamannya dulu. Rumah yang beralamatkan pos jalan Dharwangansa Barat I/5 dan harus ditinggalkan semua penghuninya pada Agustus 2005.

Pengalaman itu menyeret pada situasi menjelang detik-detik terakhir saat harus meninggalkannya. Ketika masing-masing sibuk mencari kos sendiri karena sesuai perjanjian dengan sang empunya hanya berdurasi setahun. Apa boleh buat, memang harus pergi meski suka dan duka telah memberikan warna tersendiri. Sebagai tempat berkumpul meski petak segi empatnya sangat minim. Terbatas untuk maksimal 20 orang saja dan tetap, dengan satu gaya.

Namun, jangan pernah meremehkan kotak segi empat ini. Didalamnya punya teknologi super canggih, jadi satelit luar angkasa buat para “astronot” yang sedang mengorbit. Kebiasaan ini membuat GmnI Komisariat FISIP “terpecah” karena organisasi sempalan berdiri. Front Gambazt. Itulah nama yang sampai sekarang tetap eksis dengan militansi para anggotanya. Eksis ditengah perubahan dan pergantian rezim yang tiap tahun terjadi.

Tindakan bodoh dan menggelikan sering terjadi didalamnya. Salah satunya saat peristiwa G 30 S/Kontrakan karena kejadiannya tepat pada 30 September 2004. Tragedi dompet berisi puisi dan kaca yang membuat seluruh penghuninya kalang-kabut cari “persembunyian” tatkala klimaks, pembacaan puisi. Seru dan menegangkan, tak kalah dengan film box office Hollywood yang diputar di bioskop-bioskop jaringan 21.

Hal cukup menggelikan juga terjadi dan tak masuk akal. Tanda lalu lintas dilarang berhenti (“S” coret) yang dipasang di depan pintu jadi perhatian warga sekitar kontrakan. “Itu diberi Eko yang anaknya Kapolda,” ujar Kriwoel menjawab pertanyaan warga. Padahal ga ada kaitannya sama sekali dengan Kapolda saat itu. Semua kisah itu dirajut dan dijahit hingga menciptakan situasi seperti saat ini.

Waktu berjalan dengan cepat dan terasa, begitu pula perjanjian kontrak rumah juga menjelang detik-detik penghabisan. Semua bingung bagaimana kelak ketika harus berkumpul pada satu tempat untuk mengadakan pertemuan. Segala upaya dilakukan untuk memertahankan rumah kontrakan ini. Namun, apa daya, sang pemilik rumah menaikkan harga sehingga kami pun tak sanggup untuk membayarnya. Akhirnya, pilihan terakhir ditempuh, meninggalkan rumah kontrakan itu sembari mencari yang baru.

Masa-masa peralihan ini diwarnai kegelisahan. Kebersamaan yang terjalin dengan segala kisah didalamnya harus diakhiri. Masing-masing penghuni memilih untuk indekos secara individu, berpisah. Sebelum semuanya harus pergi dari rumah itu, banyak kejadian menimpa. Bukan terhadap kami para penghuni, tapi tamu tetangga yang menumpang inap di kontrakan. Pada pagi buta, terdengar suara orang muntah didalam kamar mandi. Kami sebenarnya tahu apa penyebabnya, tapi berdiam diri saja. Maklum, salah siapa buka keramik…

Saat hari pindahan itu disepakati bersama kawan-kawan, akhirnya semua barang dibawa ke kos masing-masing. Ada juga barang milik bersama yang harus diamankan oleh salah satu orang. Banyak sekali kenangan yang tersimpan didalam rumah sederhana itu. Banyak kisah tentang persaudaraan, kekeluargaan, dan kebersamaan muncul tak terduga. Begitu pula kisah-kisah konyol yang senantiasa hadir hampir tiap hari. “Bau” kontrakan itu masih melekat oleh siapa saja. Bau khas itu bukan hanya milik penghuninya, juga telah jadi properti seisi warga kampus… hehehe

Barangkali hanya sisa-sisa kenangan yang masih terasa. Kenangan akan sebuah perjuangan bersama membangun memori dan harapan di antara banyak tantangan menghadang. Tentang suatu persaudaraan yang didasari oleh kuatnya rasa kekeluargaan dan membekas di hati. Siapa pun hampir merindukan saat-saat itu. Waktu yang sarat sekali dengan upaya membangun eksistensi. Kenangan itu tak mungkin terlupakan begitu saja. MERDEKA!!!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s