Senandung Hari Sabtu

Posted: 19 Oktober 2009 in Cerita

Pagi sangat cerah. Mendung yang biasanya bergelanyut di langit masih enggan menyapa. Sinarnya yang terang dan raungan keras alarm akhirnya membangunkanku juga. Mata masih belum bisa menerima “paksaan” ini, tapi apa boleh buat, kupaksakan juga untuk segera bangun. Pagi yang biasa, tak ada tanda apa pun yang akan membuatnya ceria atau rasa lainnya. Adanya hanya perasaan senang karena libur akhir pekan akhirnya datang.

Seperti biasa, pagi bukanlah waktu yang tepat untuk murung. Tak pula cocok untuk mengungkapkan semua caci maki kepada dunia. Dunia yang merenta dan semakin sulit untuk dipahami seluruh hiruk-pikuk kehidupan didalamnya. Cukuplah hanya menghirup segar udaranya dengan secangkir kopi sembari menenangkan diri. Mata masih terasa pedas dan badan berontak, belum puas semalaman di atas bantal karena dini hari baru direbahkan.

Pagi yang masih seperti biasa. Tiba-tiba ingatan suatu janji untuk membuatkan sesuatu kepada seorang kawan hadir mendadak. “Sekarang waktunya,” ujar ku kepada diri sendiri. Waktu mengucapkan sesuatu kepada seorang kawan yang saat itu berhasil mengejar apa yang ia cari selama beberapa tahun sebelumnya. Membuka gembok pintu gerbang menyongsong suasana baru yang jauh berbeda dari dunia sebelumnya. Dunia nyata yang isinya banyak sekali tantangan dan kerikil tajam saat melintasinya. Dunia sebenarnya. Selamat datang kawan!

Keharuan tiba saat ucapan itu melayang kepadanya. Isak tangis terdengar jelas dari suaranya, menandakan suatu kebanggaan tersendiri bagi dia dan keluarganya tentunya. Tak luput pula bagiku yang juga merasakan kebanggan tersebut meski secara fisik tak ada di tempat. Perasaan harunya terus mengalir dengan tutur katanya yang terputus-putus. “Senang sekali rasanya,” ujarnya kepadaku. Selamat untukmu dan hari depanmu.

Godaan-godaan ringan terus ku layangkan agar air mata itu tak terus meleleh. Sayang sekali air mata itu meskipun sumbernya tak akan pernah habis walau dikuras dalam waktu lama. Ya, aku turut bangga kepadamu kawan, juga kepada lainnya yang dulu pernah bersama-sama mengemas sejarah dalam satu bingkai. Kebanggaanmu adalah milikku juga, aku senang dengan hal ini. Ku akhiri juga “perjumpaan” itu dengan hujan deras kata-kata yang menggambarkan kegembiraan meski air matanya terus mengalir. Sebuah kebanggaan yang memang layak untuk dirayakan.

Waktu terus berjalan dan pagi pun harus tunduk kepada matahari. Alunan musikalisasi puisi Sapardi Djoko Damono menemani perjalanan waktu itu. Membawa perjalanan waktu menjadi tak terasa dan sangat cepat berubah. Pagi yang indah itu berubah jadi siang nan garang. Panasnya membuat keringat terus bercucuran membasahi badan. Hufff…Lumayan, jika diumpamakan, seperti mandi sauna karena telah mengeluarkan cukup banyak cairan dalam tubuh. Musim yang tak jelas, antara kemarau atau hujan.

“Seluruh kota…Merupakan tempat bermain yang asyik. Oh senangnya, aku senang sekali…” Begitu bunyi ringtone membuatku terperanjat dalam panasnya siang. Ternyata, kawan yang tadi pagi merayakan kebanggaan menghubungi. “Akh, ada apa lagi anak ini? Pasti ini mau ngajak begejekan,” pikirku saat itu. Dammm…Dugaanku ternyata salah besar. Suara terputus-putus hadir kembali, tapi dengan roman beda dari sebelumnya. “Ada apa lagi ini?”

Tak kusangka, air mata itu jauh beda dari sebelumnya. Kebanggaan saat tadi pagi berubah jadi kesedihan mendalam. Aku hanya bisa bertanya-tanya, “ada apa gerangan dengan siang ini?” Jawaban atas pertanyaan itu akhirnya keluar juga. Kemasan sejarah masa lalu itu ternyata “tak berlaku lagi” untuk hari ini. Apa yang terjadi hari ini jauh berbeda dengan sebelumnya, miskin intimitas meski didalamnya berdiri kokoh solidaritas. Kalau meminjam istilah Juergen Habermas, inilah bentuk dari solidaritas tanpa intimitas.

Kata-kata untuk dapat menenangkan dirinya pun keluar dengan deras. “Itu bukan kesengajaan, memang karena sebuah keadaan,” ujarku. Tak layak memang dihari yang penuh dengan kebanggaan ini menangisi suatu kesedihan. Menagislah karena kebanggaan itu, bukan lainnya. Berbagai upaya untuk menghentiakn cucuran air mata kesedihan itu terus berlangsung. Sekedar agar tak terus larut dalam keadaan itu karena bisa merusak hari ini.

Hapus semua kesedihan hari ini. Biaarkan kebanggan itu saja yang hinggap agar tak merusak semuanya yang telah berlangsung. Kau layak untuk merayakan kebanggaan itu dengan cara apa pun, bukan menangisi kesedihan yang ada didalamnya. Semua itu hanya sebuah tantangan untuk bisa melaju mandiri, bukan dengan mengandalkan kekuatan lain. Sekali lagi, selamat untukmu dan hari depanmu…

Dedicated to friend who have celebrated the future in today…

Jakarta, 17 Oktober 2009

Iklan
Komentar
  1. nimas d. berkata:

    tulisan yang bagus….
    itu bukan kesengajaan memang karena sebuah keadaan : )
    good luck to ur friend.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s