Lumajang Kota Permai: Ranupane (3)

Posted: 19 Oktober 2009 in Arbiter
Tag:, , , , , ,

Picture 100Nama gunung Semeru sudah tak asing lagi bagi hampir seluruh penduduk nusantara. Gunung tertinggi di Pulau Jawa ini sering jadi bahan pembicaraan, terutama, saat sedang “menyapa” warga disekitarnya dengan lahar dingin atau hujaan abunya. Namun, dibalik nama besar gunung ini, panorama alam nan indah tersaji dengan jelas di kaki bukit. Sayang sekali bila keindahan alamnya tak dinikmati dengan seksama.

Gunung Semeru merupakan bagian taak terpisah dari kota kecil Lumajang. Namun, banyak yang mengira bila keberadaanya di Malang yang notebene sudah punya nama besar di seantero negeri. Hal ini tak luput dari ketersediaan sarana transportasi yang memang hanya memungkinkan dari Malang karena angkutan dari Lumajang sangat sulit untuk menuju daerah ini, bahkan bisa dikatakan tidak ada sama sekali.

Untuk menuju puncak mahameru, keberadaan Ranu Pane di kaki gunung memunyai fungsi strategis. Berperan sebagi pos pertama pendakian menuju puncak. Di sinilah perkampungan penduduk untuk terkahir kali bisa ditemui bila hendak mendaki. Para pendaki bisa melakukan “pemanasan” sejenak sebelum berangkat menuju puncak, atau mengisi ransum kebutuhan pendakian. Air dan makanan untuk pendakian tersedia dan dijual di rumah-rumah penduduk.

100_3725 100_3716

Keterbatasan sarana transportasi umum dari Lumajang via Senduro membuat mereka yang berniaat ke Ranupane atau mendaki Semeru lebih memilih melalui jalur Malang via Tumpang. Kendaraan umum banyak tersedia di kampung tertinggi di Pulau Jawa ini. Jalan yang sudah cukup baik via Senduro belum mampu membuat pengusaha transportasi tertarik. Apalagi kalaau bukan karena alasan beratnya medan karena banyak tikungan dan tanjakan terjan serta jurang. Maklum, harus membelah gunung dan belantara untuk melintasinya.

Melintasi jalur menuju Ranupane via Senduro sesungguhnya memunyai kesan mendalam. Tikungan tajam dan tanjakan terjal jadi pemandangan tersendiri. Cukup melelahkan, tapi sesungguhnya menggairahkan juga. Perjalanan melalui jalur ini harus membelah hutan yang masuk kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Hutan belantara yang masih alami menyambut dengan riang. Suara-suara kicau burung nang merdu terdengar jelas membahana.

100_3730 100_3719

Rasa letih dan lesu dapat langsung terobati dengan melihat pemandangan hijau hutan hujan tropis yang masih perwan ini. Hutan dengan tumbuhan besar-besar ini membuat ketakjuban tiada tara diantara berita tentang pembalakan hutan yang mengganasi. Sangat elok dan menawan. Hamparan lahan pertanian milik penduduk setempat dengan tanaman sayurnya dan pisang agung yang kesohor itu membuat keindahannya semakin lengkap saja.

Ranupane via Senduro dari Kota Lumajang berjarak sekitar 60 kilometer. Perjalanan tersebut membutuhkan waktu tempuh sekitar dua jam. Terjalnya tanjakan dan tajamnya tikungan membuat waktu tempuh menjadi lama. Namun, rasa lelah itu tak sebanding dengan keindahan alam dan sajian lagu-lagu kicauan burung. Bak menikmati musik klasik karya Beethoven di pagi hari ditemani secangkir kopi nikmat…

100_3766 100_3711

Sesampai di Ranupane, Gunung Semeru tampak jelas sekali, terasa sangat dekat di depan mata. Keramahan penduduk setempat juga menambah kehangatan ditengah hawa dingin yang menusuk tulang. Beberapa tempat lainnya bisa juga dituju ketika sudah berada di Ranupane. Ranu Regulo yang berada di balik bukit bisa jadi tujuan selanjutnya. Keindahannya melebihi apa yang telah disajikan di Ranupaane karena memang jarang tersentuh manusia.

Picture 086 100_3714

Disamping itu, Bantengan juga jadi menu wajib kala berkunjung ke Ranupane. Dari tempat ini, Gunung Bromo terlihat jelas. Begitu pula lautan pasir yang luas terlihat jelas dengan mata telanjang di tempat ini. Tempat ini sesungguhnya hanyalah jalan yang tepat berada di atas bukit. Tempat ini membuat mata begitu dimanjakan dengan keindahan pemandangan alamnya. Gunung Bromo sangat dekat sekali dan seolah-olah mengajak kita untuk menyapanya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s