Gempa (Lagi)

Posted: 19 Oktober 2009 in Cerita

“Gempa…Gempa…” Suara itu bersahut-sahutan di antara manusia yang sedang berlarian ke luar gedung hotel. Wajah-wajah panik tampak jelas dari air muka mereka. Khawatir terjadi sesuatu mengingat baru saja gempa telah melululantakan Tasikmalaya dan Padang. Tampak juga dua orang wartawan televisi yang kebetulan sedang bertugas berlari menjauh dari keramaian. Sekali mendayung, dua-tiga pula terlampaui. Mereka berlari menyelamatkan diri, juga mencari lokasi pas untuk direkam dan dijadikan berita.

Kejadian menjelang Maghrib Jumat pekan lalu (16/10/2009) menggegerkan seisi gedung. Semuanya lari tunggang-langgang. Barangkali, kejadian di Hotel Ambaacang, Padang, tak ingin terulang kembali. Menjauh dari gedung khatir terjadi hal-hal yang tak diinginkan. Begitu pula tampak petugas hotel dengan sigapnya memberi arahan kepada mereka untuk “berlindung” di tempat yang aman. Getaran dari kerak bumi itu membuat semuanya berhamburan. Mencoba menyelamatkan diri dari dampak gempa yang bisa saja meruntuhkan bangunan gedung.

Ruang pertemuan salah hotel di Bogor itu semula sunyi-senyap. Hanya terdengar suara diskusi yang menghangat. Namun, ditengah ketenangan itu tiba-tiba semua berhamburan. “Gempa..Gempa…,” teriak salah seorang yang ada di dalam ruaangan itu. Sekonyong-konyong seisi ruangan berhamburan ke luar gedung yang kebetulan pintunya sepelemparan batu saja. Teriakan itu ternyata tak juga membangkitkanku dari kursi. Aku masih tampak bingung dengan hal itu karena sejatinya tak merasakan getaran apa pun.

Hiruk-pikuk manusia yang berhamburan itu kembali membawaku pada kisah film kartun, Crayon Sinchan. Begitu orang-orang ke luar ruangan, aku masih sempat-sempatnya melirik kanan-kiri. “Barangkali ada meja yang bisa aku buat berlindung seperti anak-anak Jepang di film Sinchan kala gempa datang,” pikirku dalam hati. Namun, ternyata meja kuat tak ada disekitarku. Akhirnya aku pun ke luar gedung juga seperti lainnya. Hal ini tentu saja tak bisa lepas dari pengalaman saat gempa yang menghancurkan Tasikmalaya beberapa waktu lalu. Saat itu, aku hanya berlindung di bawah meja karena untuk ke luar ruangan cukup menghabiskan waktu (lihat, Belajar Dari Sinchan).

Keadaan pun kembali tenang. Semuanya kembali lagi ke tempat semula sebelum gempa terjadi. Di dalam ruanganku keberulan ada seorang kawan yang menjadi saksi mata saat gempa meluluhlantakan Padang dan sekitarnya. “Masih ada trauma kalau ada gempa,” tutur seorang kawan itu. Ketakutan dan kepanikan memang tampak jelas pada air mukanya saat gempa terjadi. Perasaan ini memang tak bisa dihindari karena ia menyaksikan sendiri bagaimana rumahnya rusak akibat gempa. “(Saat itu) Untuk berdiri saja susah sehingga hanya bisa duduk melihat rumah digoyang gempa,” ujar kawan itu menceritakan kembali kisahnya.

Beberapa saat kemudian aku langsung mengecek salah satu berita online. Portal berita itu mengabarkan, pusat gempa ada di Ujung Kulon, Banten, yang menurut BMKG berkekuatan 6,4 SR. Informasi itu semakin menambah keyakinanku bahwa baru saja telah terjadi gempa yang getarannya tak terasa olehku. Aku pun hanya bisa berharap semoga tak ada korban jiwa dan kerugian harta benda apa pun akibat bencana ini. Tak ingin melihat lagi penderitaan yang baru saja dialami masyarakat di Sumatera Barat dan Tasikmalaya beberapa pekan lalu.

Selang beberapa lama kemudian, telepon berdering. “Mas, barusan terjadi gempa ya? Sekarang bagaimana, taka pa-apa kan?” suara adik menanyakan kabarku dari rumah di kampung halaman. Setelah ku jawab tidak terjadi sesuatu hal apapun, semuanya lega. Kekhawatiran keluarga di kampung halaman akhirnya lenyap dengan sendirinya. Begitu pula keadaan ibukota, Jakarta, juga baik-baik saja. “Jakarta aman terkendali,” tutur seorang kawan saat ku tanya tentang keadaan Jakarta lewat internet.

Bencana alam gempa bumi memang “fitrah” bagi tanah nusantara ini. Nusantara tak bisa lepas dari kejadian ini karena memang faktor alam yang berada di luar kehendak manusia. Begitu pula ancaman letusan gunung berapi juga merupakan “fitrah” karena berada di garing ring on fire yang sewaktu-waktu bisa membakar apa saja. Hanya usaha untuk menyiasati keadaan itu dan waspada yang bisa dilakukan untuk mengurangi kerugian, jiwa dan harta benda.

Jakarta, 18 Oktober 2009

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s