Mau kau “tipu” apa lagi rakyat Sidoarjo?

Posted: 13 Oktober 2009 in Politik

Kampanye Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat SBY di Surabaya kembali menegaskan keberpihakannya pada Lapindo. Repetisi sikap yang tak pernah terwujud kembali dihadirkan. Kembali berjanji akan menekan Lapindo seperti halnya dulu. Tak ada ketegasan sama sekali anda saja nanti dipilih lagi.

Keberpihakan itu terlihat jelas dari diksi atas peristiwa ini. SBY tetap tak berani menyebut tragedi itu sebagai lumpur Lapindo. Hanya menyebut lumpur Sidoarjo. Enggan untuk mengatakan sebagai lumpur lapindo karena “takut” kepada pemiliknya. Terus menerus memberi “pengampunan” kepada lapindo melalui bahasa.

Pembelokan kata seperti ini mengisyaratkan adanya kuasa bahasa. Bagaimana kekuasaan itu diimplementasikan lewat bahasa. Tak gunakan kata “lapindo” setelah “lumpur”, tapi Sidoarjo. Sama saja dengan sikap penguasa yang saat ini duduk di tampuk kekuasaan.

Selain itu, Yudhoyono juga hanya menyebut akan (ingat, akan) mendesak lapindo untuk segera menyelesaikan ganti rugi. Kata yang seringkali terucap sejak 2 tahun lebih yang lalu tapi hanya bualan saja. Tampak jelas tak ingin sungguh-sungguh menyeret lapindo untuk bertanggungjawab. Sangat klasik dan tak ada niatan untuk segera menindak lapindo.

Kata-kata “menekan” seperti ini seringkali terucap tanpa aksi. Perpres No. 14/2007 meski tak dijalankan lapindo hanya didiamkan saja. Tak ada aksi nyata meski lapindo mengingkari. Malah memberi ruang untuk terus “menipu” korban lumpur panas lapindo. Dapat juga dilihat sekarang, tak ada langkah tegas dari pemerintah untuk menyelesaikan masalah ini, menindak lapindo.

Peristiwa lainnya juga semakin menegaskan keberpihakan kepada lapindo. Pemerintah diam seribu bahasa tatkala lapindo “ingkar” perjanjian Desember 2008. Angsuran 30 juta/bulan yang tak ditepati didiamkan saja. Yudhoyono tak bergeming sama sekali atas kejadian ini.

Dalam kampanye di Stadion Tambaksari, SBY berjanji akan menekan Lapindo untuk segera membayar ganti rugi. Segera melunasi kewajiban yang terkatung-katung sejak luapan lumpur panas itu keluar. Sungguh mengenaskan dan melukai nurani. Mengapa harus menunggu menang padahal saat ini sudah berkuasa? “Hey, mau kau ‘tipu’ apa lagi rakyat Sidoarjo?”

Sungguh ironi. Saat berkuasa tak melakukan apa pun, menunggu duduk di tampuk kekuasaan lagi untuk bertindak. Hanya omong kosong karena selagi berkuasa diam tak bergeming. Namun, baru akan menekan saat terpilih kembali. Inilah wajah pemerintah sekarang. Penuh dramaturgi tanpa makna didalamnya.

Ditulis di facebook pribadi tertanggal 4 April 2009

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s