Lumajang Kota Permai: Segitiga Ranu (2)

Posted: 12 Oktober 2009 in Arbiter

Ranu Bedali (Sumber: www.lumajang.go.id)

Ranu Bedali (Sumber: http://www.lumajang.go.id)

Wisata alam adalah bagian dari Lumajang. Alam membuat wilayah kabupaten ini cantik dan memesona setiap orang. Dua gunung berapi, lamongan dan semeru, menciptakan kontur bentang alam tersendiri. Membuat wilayah kota kecil ini banyak dihiasi tempat-tempat elok hasil dari ”kreasi” alam yang sangat menawan. Berderet dari ujung utara hingga selatan, barat sampai timur yang menjadikannya banyak diwarnai dengan pemandangan-pemandangan nan eksotis.

Salah satu bagian dari ”karya” alam adalah segitiga ranu di Klakah dan Ranuyoso. Ranu klakah, ranu pakis, dan ranu bedali merupakan bukti dari keindahan alam Lumajang bagian utara ini. Tiga gugus ranu (waduk) hasil erupsi gunung Lamongan ribuan hingga jutaan tahun silam menciptakan daya tarik tersendiri. Masing-masing memunyai daya tarik tersendiri dengan ciri khas kontur alamnya. Sangat indah untuk dinikmati ditengah keheningan suasana desa yang masih pekat.

Ranu klakah yang tak jauh dari pusat kecamatan menyuguhkan pemandangan gunung lamongan dari jarak dekat. Gunung berapi yang sudah lama beristirahat ini tampak begitu gagah dan tenang dari ranu ini. Pagi atau senja yang temaram membuatnya tampak begitu anggun dan eksotis. Ditambah lagi dengan aktivitas penduduk mencari ikan di tengah ranu yang semakin membuat mata selalu dimanjakan. Sayangnya, kepulan asap khas gunung berapi jarang nampak dari puncak gunung lamongan seperti halnya gunung semeru.

Tak jauh dari ranu klakah, pemandangan ranu pakis terhampar. Keramba-keramba ikan milik petambak menghiasi perairan ranu ini. Tak luput pula pemandangan penduduk setempat dengan perahu bambunya yang mengarungi ranu untuk mencari ikan. Dengan peralatan sederhana, mereka ke tengah ranu yang, konon, dulu pernah menenggelamkan orang dan jasadnya tak pernah ketemu. Barangkali jasad itu tertelan ke perut bumi karena ranu ini merupakan produk dari hasil letusan gunung lamongan seabad lebih silam.

Bergerak sedikit ke arah utara kecamatan tetangga, Ranuyoso, ranu bedali sudah siap menyambut. Ranu bedali memunyai pemandangan palingh berbeda dibandingan dua ”saudaranya” itu. Berbentuk bak kawah gunung berapi sehingga ketika ingin menikmati airnya harus bergerak turun ke bawah, menyusuri jalan setapak. Di bagian dasarnya terdapat kincir air zaman Belanda yang menaikkan air untuk keperluan penduduk.

Bagi warga Lumajang, segitiga ranu ini merupakan ”identitas” yang tak bisa dipisahkan begitu saja. Wisata alam ini menjadi primadona tersendiri bagi masyarakat Lumajang dan juga pernah jadi andalan wisata Jawa Timur beberapa tahun silam. Segitiga ranu ini juga memberikan manfaat besar bagi warga sekitarnya. Air yang tak pernah berhenti habis dimanfaatkan untuk bahan baku air minum. Tak lupa juga dijadikan sebagai sumber ekonomi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari masyarakat sekitar ranu.

Dibalik keindahan dan kemegahan masa lalu, segitiga ranu ini semakin tenggelam dimakan waktu. Ranu klakah yang sempat kesohor semakin tenggelam saja. Banyak fasilitas pendukung wisata tak berfungsi lagi dan dipindahkan ke tempat lain. Begitu pula hotel yang tepat berada di tepi ranu, sunyi dan sepi saja yang ada. Lalu lalang manusia untuk menikmati keindahan alamnya tak seramai dulu lagi. Entah apa penyebabnya.

Ranu pakis juga mengalami nasib serupa. Keramba-keramba ikan telah membuat air ranu tak sejernih sebelumnya. Airnya pun menjadi tampak kelam pada bagian ranu yang bertepatan dengan jalan. Ranu bedali pun mengalami nasib serupa. Ketiadaan sentuhan memadai membuat ranu bedali tampak apa adanya. Apa boleh buat, ranu bedali akhirnya tetap menjadi monumen mati yang tak ada dinamika kehidupan didalamnya.

Kenangan kejayaan segitiga ranu dua dekade silam layak untuk diangkat kembali. Membiarkannya hanya seperti saat ini akan membuat keadaan semakin mengenaskan. Tanpa ada sentuhan dan terbengkalai begitu saja sehingga tak lahirkan dampak ekonomi bagi warga sekitar. Mahakarya ”kreasi” alam itu harus tetap hidup seiring terus berjalannya denyut nadi warga Lumajang.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s