Keruntuhan Kembali Mitos AS

Posted: 9 Oktober 2009 in Hubungan Internasional

Kemenangan Barrack Obama-Mc Cain dalam pemilihan Presiden Amerika Serikat bermakna lebih sekedar politis belaka. Kemenangan itu menunjukkan adanya sistem politik deliberatif yang selama ini berkutat pada mitos sejak negeri tersebut merdeka hingga kepemimpinan Bush Jr.

Mitos white dan Protestan jadi adagium utama dalam setiap pilpres sehingga kedua prasyarat tersebut jadi panutan. Keduanya menjadi benteng yang seolah-olah sukar untuk ditembus karena bersinggungan dengan pemenuhan identitas spasial, temporal, dan kultural warga AS. Masuk dan terinternalisasi menjadi bagian dari “sistem politik” AS.

Dalam sejarah AS, kedua mitos tersebut jadi pijakan warga untuk menentukan pilihan. Aspek psiko-politik lebih dominan daripada rasionalitas saat menentukan pilihan. Presiden AS hendaknya memenuhi prasayarat tersebut agar lebih mudah melangkah ke Gedung Putih.

Mulai zaman Washington hingga Bush Jr, Presiden AS merupakan wakil dari kedua mitos tersebut, tapi sempat terhenti ketika JFK Kennedy jadi Presiden. Mirip dengan mitos “Jawa-Islam” dalam pemilihan pemimpin nomor satu di negeri ini.

Mitos tersebut bukanlah benteng baja yang tak mungkin ditembus. Kemenangan JFK Kennedy dari Partai Demokrat atas Richard Nixon pada pilpres 1960 jadi tanda tak abadinya mitos tersebut. Kennedy merupakan satu-satunya Presiden AS yang beragama Katholik dalam sejarah kepresidenan AS. Ia mampu meraih suara terbanyak ketika menghadapi Nixon meski nasibnya harus berakhir tragis ditangan kelompok ekstremis pada 1963.

Namun, meski telah runtuh, mitos tersebut masih tetap jadi pijakan pasca kepemimpinan Kennedy. Hingga terpilihnya Obama sebagai Presiden, mitos tersebut terus melenggang seiring perjalanan waktu.

Kemenangan Obama-Mc Cain menunjukkan adanya pergeseran pandangan terhadap kedua mitos tersebut. Kemenangan ini meruntuhkan mitos white karena Obama sendiri berasal dari keturunan kulit hitam. Inilah Presiden pertama AS berkulit hitam yang berarti, untuk kedua kalinya mitos Presiden AS runtuh.

Keberadaan Kennedy dan Obama di kursi nomor satu AS menandakan keruntuhan mitos white dan Protestan secara menyeluruh. Kedua Presiden ini membawa petanda perlunya suatu sistem politik deliberatif atau terbuka ditengah arus kuatnya kultur dominan untuk partisipasi politik kelompok minoritas.

Fenomena Obama-Mc Cain merupakan sebuah pergerakan baru bagi sistem politik AS untuk lebih terbuka. Pergerakan untuk bisa menerima keberadaan kelompok minoritas untuk memimpin negerinya. Sebuah anti-tesis perang saudara abad XIX, dan jadi bagian pergerakan pengakuan hak-hak sipil 1960-an.

Hal ini salah satu bentuk pergerakan agresif menuju dekade baru yang dikemukakan Presiden Kennedy ketika berkampanye untuk Pilpres 1960. ”Daerah perbatasan baru ada di depan mata, terlepas kita mencarinya atau tidak,” ujar Presiden yang meninggal akibat ditembak pada 1963 ini.

Selain itu, ada pelajaran berharga yang dapat diperoleh dari kemenangan Obama-Mc Cain dalam perspektif psiko-politik. Adagium ”Jawa-Islam” hendaknya tak jadi pijakan dalam penentuan calon Presiden di negeri ini. Keterbukaan partai politik perlu dibangun agar mitos tersebut jadi sejarah.

Jakarta, November 2008

Iklan
Komentar
  1. jean elvardi berkata:

    bagus,dan setuju kometar diatas

  2. jean elvardi berkata:

    diulang bagus dan setuju komentar diatas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s