Kampung Karmen

Posted: 9 Oktober 2009 in Cerita
Tempat Kenangan

Tempat Kenangan

Sebuah rumah berpagar oranye tepat berada di tikungan gang. Disitulah beberapa pemuda harapan bangsa (ceile…) indekos. Kampung Karangmenjangan, Surabaya namanya. Didalamnya banyak cerita, baik suka maupun duka. Biasa khas mahasiswa yang, katanya PHB, makan ga teratur.

Tumpukan buku, piring, makalah, serta beragam barang lainnya tumplek-blek di ruang tengah. Entah itu milik siapa. Hanya kode-kode lemari saja yang bisa jadi tanda siapa pemilik sesungguhnya tumpukan-tumpukan itu. Sangat sederhana sekali tempatnya, tapi didalamnya tersedia perpustakaan kecil, andai saja mau dikumpulkan semua:D

Naik lantai 2 dengan memanjat pagar, atau momong anak-anak balita di sekitar kos (beneran yang momong, apa ga kebalik???) jadi pengalaman tersendiri. Danu (akhirnya, nikah duluan kamu!), Nanang (Kenalkan dunk mbaknya itu), Priadi (emmm…no comment! hehehe), Sony (kosnya dijaga terus ya!), Irul (sampeyan dimana sekarang), Mahmud (jadi anak seribu pulau sekarang ya?), Erwin (piye kabare?), dan Ndiok (Ayo, mas e disalip!) jadi penghuni tempat itu tatkala masih formasi lengkap. Pagi dan sore jadi ajang berkumpul bersama sembari memandang seseorang yang sedang lewat dengan berseloroh, “cah kuwi ayu tenan.”

NB: Foto di atas diambil setelah banyak dari penghuninya “kabur” tak tinggal di tempat itu lagi. Berpencar ke berbagai kota;(

Iklan
Komentar
  1. arkasala berkata:

    seru ya menjadi mahasiswa. Sebuah masa yang sudah terlewat.
    Persamaannya saat ini kebetulan kita sekota. Saya hanya penghuni baru di kota yang lagi panas ini.
    Trims Mas sudah berkunjung dan mengingat masa lalu. Salam sukses selalu 🙂

    • arief setiawan berkata:

      Surabaya yang akan selalu ku ingat. Panasnya, nyamuknya, tikusnya, “pisuhannya”, dan warung-warung pinggir jalannya…Selamat menikmati Surabaya dengan segala warna-warninya….:)

  2. cenil berkata:

    trus yang didepannya..ga ada history nya ta.., nyang ada pagar bergelantung pohon blimbing sayur alias (blimbing wuluh:jawa) yang setia menemani lalu lalang ceremony..aneh dimata tetangga. apalagi aq..dah males..menginjakkan kaki disana lagi, trauma..

    • arief setiawan berkata:

      Itu beda kasus dengan konteks tulisan ini. Ya seh, ada history-nya juga. Sejarah tentang bagaimana menjadi “ada”. Tapi masih melekat yang lama, banyak kisahnya. Dari suka sampai duka, tapi kebanyakan sengsaranya…hehehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s