Smuda Tak Lagi Ramah

Posted: 7 Oktober 2009 in Sosial-Budaya

Sebelumnya kuucapkan obituari kepada para alumni Smuda Lumajang dimanapun berada. SMUDA yang dulu kita kenal telah lenyap ditelan bongkahan beton yang menyeruak diujung tanah lapang. Iya, apakah masih ada semuanya? Tentunya semua masih ingat, disanalah kita bersama menanam jagung bernama hari esok dengan segenap memori, harapan, dan perjuangan. Namun saat ini terkubur dalam rumput beton garis demarkasi “pintar-bodoh”. Sekolah Unggulan Terpadu (SUT) namanya. Iya, sekolah yang katanya untuk siswa-siswa unggulan dari SD sampai SMU. Sekolah tempat para “bintang” yang akan menguji ke-terangan-nya di tengah hiruk-pikuk keramaian.

Binerisasi namanya. Mungkin semua dapat bertanya kepada para penguasa disana. Apa tujuan dibuat SUT? Apakah benar hal ini sebagai bentuk penegasan ada yang “pintar” dan yang “bodoh”? Benarkah untuk peningkatan kualitas pendidikan? Apakah temanku si Buyung yang, maaf, kurang mampu secara ekonomi masih bisa sekolah disana? Mengapa harus dengan biaya yang selangit hanya untuk duduk di kursi kayu yang sewaktu-waktu hancur dirusak murid-murid?

Mungkin semua itu dapat terjawab sekarang. Tanda-tanda telah menunjukkan, ia akan berakhir beberapa tahun yang akan datang, dalam hitungan detik kehidupa. Jadi korban dari “anak-anaknya” sendiri…

Cerita “Lama”

Pertama kali masuk SMU ini memang sedikit membanggakan. Ya, orang bilang ini sekolah yang cukup bagus di kota kecil Lumajang. Tetapi lambat laun kebanggaan itu memudar dengan sendirinya. Ya, apa yang dikatakan EKO PRASETYO “ORANG MISKIN DILARANG SEKOLAH” mampir di SMU ini. Bayangkan saja, ditengah himpitan ekonomi yang cukup keras, biaya masuk yang harus dikeluarkan saja cukup besar untuk seukuran kota Lumajang. Apalah daya. Hal ini semakin menjustifikasi pernyataan sosiolog Perancis Pierre Bordieu, “sekolah memang hanya sebagai alat legitimasi kelas sosial tertentu karena mimpi-mimpi orang yang cakap tetapi lemah dalam pembiayaan harus digantung didepan pintu gerbang sekolah.” “Ini hanyalah retorika pendidikan murah”. Pemerataan pendidikan yang berkualitas hanya menjadi suatu nyanyian sunyi dalam keheningan malam yang menyeruak ditengah gemerlap mimpi…Apalah daya…Apakah penerapan kelas sosial memang sengaja dibentuk??? Agensi-agensi individu harus dibungkam sampai batas waktu tak terhingga???

Semakin bertambah tahun semakin menyesakkan saja. SUT yang didengungkan Pemerintah menjadi mimpi jalanan orang-orang terpinggirkan. Logika biner benar-benar diterapkan. Ada yang “pintar”, ada yang “bodoh”, mereka harus dibatasi dengan garis demarkasi yang jelas. SUT itulah garis tak berbentuk tetapi menyerupai benteng-benteng yang dibangun dimasa kolonial. “Ah…Apa peduli dengan logika biner”. Itulah sejurus kata-kata dalam keheningan kuasa-kuasa modal. Mengapa masyarakat tidak diberi kesempatan untuk memberikan penilaian? apakah mereka terlalu bodoh hingga dibuatkan benteng penyekat kokoh berwujud SUT???

Memang dari luar SMUDA tampak gagah perkasa bak ksatria yang membawa kemenangan dari medan perang. Sayang, didalamnya tidak mempunyai pondasi apa-apa kecuali agama uang yang menjadi jatidiri sebenarnya. Oh..mengapa SMU ku kamu ubah seenaknya tanpa membicarakan dengan kesunyian malam??? Apakah kuasa-kuasa itu hendak kamu (penguasa) tegaskan disini???

NB: Aku bercerita tentang sejarah zaman dulu, dulu sekali…yakni hari ini

Catatan: Maaf, tulisan ini mungkin tak up date dengan data terbaru. Tulisan ini merupakan uraian dua tahun lalu, sudah dimuat di blog friendster tertanggal 27 Februari 2007 dan beberapa hari setelahnya. Pada dasarnya tulisan di atas sambungan. (Iseng2 buka FS dan nemu tulisan ini).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s