(Pemilu) Hanya Lima Tahun Sekali

Posted: 7 Oktober 2009 in Politik

Sudut Stasiun Besar Gambir Rabu sore lalu penuh dengan manusia. Tak menyisakan sepetak pun bagi tubuh untuk bergerak leluasa. Berhimpitan satu sama lain demi mendapat posisi terbaik saat keberangkatan nanti. Berangkat menuju tujuan, kampung halaman.

Banyak cerita muncul tatkala kereta melaju. Menggema menghiasi seluruh gerbong kereta. Hari itu merupakan masa menjelang pemungutan suara anggota legislatif dan DPDRI. Plus libur panjang (4hari) yang sejatinya barang langka bagi mereka-mereka yang berjuang menaklukkan ibukota. Harus dimanfaatkan sebaik-baiknya.

Pembicaraan seputar “menyontreng” jadi obrolan utama seisi kereta. Perbincangan membumi, tak seperti obrolan para politisi atau pengamat politik di televisi atau surat kabar. Sederhana, penuh imagi akan siapa yang nantinya duduk di parlemen.

Perjalanan menuju Surabaya ternyata mengandung banyak cerita. Cerita tentang “perjuangan” melawan lelah untuk mencapai kampung halaman. Ada dua alasan utama manusia-manusia itu rela penuh sesuk didalam kendaraan “ular” ini. Menggunakan hak pilih (menyontreng) atau sekedar liburan.

Skeptisisme terhadap mereka yang rela melakukan perjalanan jauh ini patut untuk sedikit dihilangkan. Tak semua dari mereka yang kembali pulang ini sekedar berlibur. Menggunakan hak pilih juga jadi alasan mengapa “perjuangan” itu harus dilakukan. “Lha wong lima tahunan saja, ga masalah meski harus berkorban (beli tiket di calo),” ujar seorang Bapak setengah baya yang hendak turun di Stasiun Cepu, Jawa Tengah.

Harga tiket yang membumbung tinggi ketika sudah berada di tangan calo ini baginya bukanlah masalah. Menggunakan hak pilih dalam Pemilu Legislatif 9 April lalu merupakan ritual penting. Hanya terjadi lima tahun sekali. Rela tak naik Bis yang biasanya jadi tumpangan dan membayar lebih tiket kereta api bagi Bapak tadi bukanlah masalah.

Namun, libur panjang pekan lalu tak linear dengan semangat untuk menggunakan hak pilih. Seorang pemuda yang hendak turun di Surabaya mengaku tak peduli dengan pemilu. Kedatangannya ke kampung halaman pada dasarnya untuk mengisi libur panjang. Masalah hak pilih merupakan urusan belakangan karena penggunaannya bukanlah suatu sesuatu yang sine qua non.

“Nyampe atau ga (waktu penyontrengan), tetap saja ga akan gunakan hak pilih,” tuturnya.

Kondisi demikian juga penulis alami. Pulang kampung bukan merupakan moment untuk gunakan hak pilih. Bentuk dari manifestasi pembangkangan sipil terhadap sistem yang saat ini berkembang. Menguatnya oligarkhisme parpol tanpa menyisakan ruang bagi lainnya untuk bersuara. Bahkan, menciptakan bentuk otoritarianisme baru dikala demokratisasi sedang gencar dilakukan.

Memang, “pesta demokrasi” kali ini mencatat sejarah bagi dirinya sendiri. Sejarah kemenangan bagi mereka yang ingin terjadinya perubahan fundamental. Golput, untuk pertama kalinya dalam sejarah republik, jadi pemenang meski hanya jadi kontestan semu. Tak terbendung oleh siapa pun, bahkan parpol maupun caleg yang telah mengeluarkan dana begitu besarnya.

Anakhronisme Demokrasi

Perjalanan panjang juga menyisakan banyak cerita real kondisi masyarakat. Politik uang ternyata masih saja bukan jadi barang tabu. Pengakuan demi pengakuan muncul betubi-tubi bak malaikat turun dari langit. Kisah nyata dari para pelaku demokrasi yang bersentuhan langsung dengan keadaan.

Seorang saudara yang kala itu sedang melakukan perjalanan sore hari saat hari H pemungutan suara mengaku bertemu dengan fenomena ganjil. Orang-orang di dalam kendaraan umum yang ia tumpangi bercerita tentang uang yang diperolehnya. Apalagi kalau bukan money politic. Saudara itu pun hanya mampu mengeluh melihat kenyataan ini. Memang dia sebenarnya pemilih pemula.

Perjalanan panjang yang ku tempuh juga menyisakan cerita sama. Tetap saja, “menyontreng” masih jadi topik utama pembicaraan dimana-mana. Membandingkan perolehan suara salah satu caleg dengan lainnya, terutama terkait apa yang diberikan kepada mereka. Tentu saja dalam hal ini adalah materi sebagai alat persuasi.

“Si Fulan itu masak cuma ngomong minta tolong saja, tak berikan apa-apa, pahit (pelit),” ujar ibu-ibu di dalam kendaraan umu yang ku tumpangi.

Mengelus dada dan hanya bisa mengatakan, “inikah demokrasi di negeri ini?” Pemberian materi untuk memilih salah satu seorang calon jadi acuan pilihan meski nantinya tak tahu akan dibawa kemana kapal itu berlayar oleh sang nahkoda. Apakah ke jurang penuh duka berbungkus kenikmatan , atau taman harapan yang harus dilalui dengan penuh perjuangan. Inilah realitas politik yang ada di sekitar kita.

Pertanyaan besar pun muncul. Bagaimana bangsa ini berjalan dalam lima tahun ke depan dengan melihat proses yang terjadi didalamnya. Mereka-mereka (para caleg) yang menggunakan money politic tentunya memunyai perhitungan sendiri. Namun, harapan dengan sangat menggelora muncul ke permukaan, semoga mereka gagal sebagai anggota legislatif.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s