Kisah Seuntai Awan Kecil

Posted: 7 Oktober 2009 in Puisi

Alkisah, hiduplah sebuah awan yang sangat kecil dan sangat kesepian dan biasa berkeliaran
jauh-jauh dari awan besar. Ia sangat kecil, nyaris tak sampai seuntai. Dan manakala awan besar menjadikan diri mereka hujan untuk mengecat hijau pegunungan, si awan kecil akan terbang mendekat untuk menawarkan jasanya. Tapi awan besar mengoloknya karena dianggap tidak tahu apa-apa dan terlalu kecil.

Awan besar mengoloknya menjadi-jadi. Lantas, dengan sangat sedih si awan kecil mencoba menyingkir ke tempat lain untuk menjadikan dirinya hujan, tapi kemanapun ia pergi, awan besar mendesaknya minggir hingga ia harus mencari sandaran baru. Maka si awan kecil pergi lebih jauh lagi sampai ia tiba di tempat yang sangat kering kerontang, saking keringnya sampai tak satu dahan pun tumbuh. Dan ia bergumam, “ini lokasi sempurna untuk menjadikan diriku hujan karena tak seorang pun pernah datang kemari”. Si awan kecil mengerahkan banyak upaya untuk menjadikan dirinya hujan, dan akhirnya menelurkan satu tetes kecil.

Begitulah, si awan kecil lenyap dan mengubah dirinya menjadi setetes hujan kecil. Sedikit demi sedikit, si awan kecil, yang kini tetes hujan kecil, jatuh meluncur. Dalam segenap kesepiannya dan keheningan sekitar, ia jatuh dan jatuh, tapi tak ada yang menantikannya di bawah sana. Karena padang pasir itu begitu lengang, si tetes hujan kecil menimbulkan kebisingan hebat waktu menciprat di atas batu dan membangunkan bumi yang hening. Hujan bakal tiba. Tetumbuhan bangun semua dari persembunyiannya di bawah tanah dari terik matahari. Maka tumbuh-tumbuhan pun bangun dan mengintip, dan untuk sesaat seisi padang pasir tersaput warna hijau, dan awan besar pun melihat hijau itu dari kejauhan sehingga membuatnya berlari ke tempat itu dengan menjadikan dirinya hujan di tempat yang dulunya padang pasir. Mereka curahkan hujan dan hujan, dan tanaman pun tumbuh sehingga segala sesuatu berubah hijau sekaligus.

Awan besar merasa puas dengan tindakannya karena ia merasa hijaunya padang pasir itu
hanya atas jasanya semata. Dan tak satupun yang mengingat akan seuntai awan kecil yang mengucurkan setetes hujan kecil yang cipratannya membangunkan mereka yang tertidur. Seiring waktu berjalan, awan besar pun pergi dan tumbuhan-tumbuhan pun mati akibat ketiadaan air.

Aku bercerita di zaman dulu, dulu sekali, yakni hari ini…
(Disadur dari Subcomandante Marcos, Kata Adalah Senjata)

Dedicated for all indigenous peoples in Indonesia againts neo-liberalism…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s