Guiness Book of World Records Untuk Malaysia

Posted: 7 Oktober 2009 in Arbiter

Tengah malam iseng-iseng buka facebook dan buka-buka note. Tanpa basa-basi, mataku langsung tertuju pada note yang berisi daftar makanan Indonesia yang saat ini sudah menjadi “milik” negeri jiran, Malaysia. Terdapat 100 jenis makanan yang sudah didaftarkan oleh Pemerintah Malaysia per 17 juni 2009 yang notabene milik masyarakat Indonesia. Bahkan, tumbuhan/buah seperti ubi kayu, serikaya hingga air kelapa pun turut diklaim juga. Astaganaga, terlalu!

Masalah klaim ini memang sudah jadi duri dalam daging hubungan di antara dua negara bertetangga ini. Sebelumnya, konflik juga pernah memanas saat era kepemimpinan Sukarno dengan slogan “Ganyang Malaysia”-nya. Terkait klaim, beberapa lagu dan kebudayaan daerah di Indonesia pernah juga mengalamai nasib serupa, diklaim sebagai milik Malaysia dengan mematenkannya. Reog Ponorogo, lagu rasa sayange, angklung, dan yang terbaru adalah tari pendhet merupakan beberapa contoh kesenian Indonesia yang mereka klaim. Ternyata, makanan juga tak luput dari perhatian mereka. (Daftar makanan yang dilabeli “truly Malaysia” per 17 juni 2009 http://www.facebook.com/note.php?note_id=140924392579&comments)

Fenomena tukang klaim ini tak bisa lepas dari adanya rezim HaKI membuat semuanya berlomba-lomba jadi “pemilik” sesungguhnya. Entah itu orisinil atau mencuri dari tempat lain yang kebetulan belum didaftarkan keberadaanya. Padahal, dalam konteks seni budaya (termasuk makanan), masyarakat sesungguhnya tak menyoalkan pemakaiannya oleh siapa pun sebelumnya. Bahkan jadi kebanggaan tersendiri bilamana orang lain menggunakannya karena keberadaannya memang milik bersama. Tentu saja, tindakan itu tak dilanjutkan dengan klaim sepihak karena pemilik sesungguhnya bisa terkena jerat hukum bila memakainya.

Gelak tawa saat membaca note seorang teman di facebook itu tak terbendung juga. Semuanya hendak diklaim oleh Malaysia. Gelak tawa itu muncul karena kartun khas Suroboyo-an, Si Ikin, langsung hinggap di benak. Apa itu? Apalagi kalau bukan membayangkan nasib arek-arek Suroboyo kelak. Nasib saat tak bisa lagi berucap “janc**” karena sudah dipatenkan oleh Malaysia yang punya hobi klaim itu seperti dalam percakapan antara Boyo Digdoyo dengan Suro Sujancok di film Si Ikin tersebut. “Ga kebayang kalau f**k you diganti ama janc**. Empek-empek dicampur sama sayur lodeh, capek dehhh,” kata Suro kepada Boyo yang khawatir kalau janc** juga turut diklaim.

Melihat situasi seperti sekarang, kekhawatiran Boyo bahwa kata janc** turut diklaim juga oleh Malaysia barangkali bisa jadi kenyataan. Banyaknya seni-budaya yang diklaim bisa jadi tanda kata khas suroboyoan ini turut dimangsa. Hal ini karena banyaknya klaim Malaysia atas kekayaan Indonesia, anehnya lagi, air kelapa pun masuk daftar paten mereka. Andai saja terjadi, bisa-bisa PN Surabaya bakal dipenuhi sesak “terdakwa”pelanggaran hak cipta ini. Kemungkinan besar seluruh penduduk Surabaya dan sekitarnya antre di pengadilan untuk disidang. *capek dehhh*

Dengan daftar makanan yang dilabeli “truly Malaysia” hingga periode tersebut, tak menutup kemungkinan akan terus bertambah. Tak pernah terbayang bila pecel lele khas Lamongan yang banyak dijual di Jakarta juga turut jadi korban. Begitu pula pecel Madiun yang sudah sejak lama kondan di seantero nusantara. Para pedagang pecel lele kaki lima akan kesulitan mencari nama dagangannya. Begitu pula si Mbok-Mbok penjual nasi pecel madiun. Mereka akan kelimpungan juga menamai dagangannya.

Bagi masyarakat Lumajang, jawa Timur, makanan khas mereka juga bisa jadi korban klaim negeri jiran itu. “Jangan kelor” yang sudah melegenda (mungkin di tempat lainnya juga ada) bisa jadi sasaran tembak Malaysia yang memang brutal soal klaim-mengklaim ini. Kesegaran dan kenikmatannya kala disantap dengan “dadar jagung” atau “tempe penyet” bakal jadi kenangan bila kebrutalan mengklaimnya terus berlanjut. Kelor yang selama ini terkenal untuk memandikan orang meninggal itu akan selamanya jadi “monumen” mati di meja makan. Aku pun tak bisa merindukannya karena secara de jure bukan makanan khas kampungku lagi. *Jangan kelor, I miss you…^_^*

Peristiwa tanpa henti terkait klaim oleh Malaysia ini perlu juga untuk diangkat ke belahan bumi lainnya. Kita pun perlu membantu untuk membuatnya terkenal ke seluruh penjuru dunia atas “predikat” dan “prestasi” yang telah mereka raih. Pikiran-pikiran nakal perlu dalam hal ini. Mendaftarkan Malaysia dalam catatan rekor dunia (Guiness Book of World Records) dengan kategori tukang klaim terbesar sepanjang sejarah peradapan di bumi perlu ditempuh. Dalam haal ini kita memang harus mengalah pada mereka. Biarkan negeri jiran itu berjalan dengan nasibnya, kalau kata kawan-kawan di Surabaya, dengan gelar “master klaim”.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s