Biarkan Ia Terbang

Posted: 7 Oktober 2009 in Sosial-Budaya

Mendengar nama perempuan besar dalam sejarah bangsa ini, seluruh panca indera kita akan tercerap pada perjuangan kesetaraan. Suatu perjuangan untuk mengangkat derajat perempuan melalui emansipasi ditengah kungkungan penindasan sistem sosial. Kita juga akan terbius karya agungnya, “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Monumen agung tentang persamaan hak perempuan dan laki-laki di bumi pertiwi.

Nama besar Kartini ternyata hanya dikenal sepintas saja. Sejak masuk bangku sekolah, kita pasti dijejali dengan sejarah perjuangan Kartini untuk emansipasi perempuan. Ia dikenang karena “pemberontakaannya” terhadap sistem sosial yang menjadikan perempuan sebagai kelompok sub-altern, an sich! Sejarah besarnya seringkali ditutupi tabir kekuasaan para pembesar-pembesar kekuasaan yang tak inginkan Kartini diingat dari sisi lainnya. Diredam sedemikian rupa agar sejarahnya tak jadi pelajaran dan dapat membangkitkan perlawanan siapa saja kepada penguasa.

Kesadaran terhadap sisi lain Kartini, terus terang, ku ketahui baru-baru saja. Tabir pengetahuan yang terbangun selama “perjalanan” ternyata sangat kuat terhadap perempuan perkasa ini, tapi goyah juga akhirnya. Ternyata, kesadaran akan sumer ketidakadilan sudah menghampirinya ketika berhadapan dengan realitas yang ada. Apalagi kalau bukan tentang kerakusan dan ia katakan sebagai penjahat terbesar.

“Aku sangat bersimpati dengan cita-cita kaum sosialis dan aku yakin bahwa benar sekali kalau dalam rapat untuk membentuk korps polisi, dikatakan, bahwa penjahat terbesar tidak terdapat di kampung-kampung, tetapi di Heeren dan Keizersgracht…”

De Hollandsche Leile di negeri Belanda memuat tulisan Kartini tersebut dan tak sampai di negeri ini. Mengapa Heeren dan Keizersgracht jadi tempat penjahat terbesar? Tak lain karena kedua tempat tersebut merupakan perkampungan kaum kapitalis besar Belanda kala itu. Selain itu, dalam tulisannya yang belum diumumkan, juga memuat jawaban atas permintaan Kartini akan kehausan pengetahuannya. “Sungguh sayang buku Marx belum diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda! Kau harus menunggu!” (Pramoedya AT, Hoakiau, 1998). Sungguh malang nasib perempuan besar ini yang hanya dikenang hanya sebagai pejuang emansipasi belaka meski cita-citanya melampaui itu semua.

Kartini tak sekedar berpandangan soal emansipasi saja, juga menyangkut persoalan-persoalan lain akibat pergumulannya dengan pengetahuan. Bacaan-bacaan yang ia lahap menggugah kesadarannya untuk mengutuk ketidakadilan. Uncle Tom’s Cabin yang menggerakan perlawanan anti-rasisme di AS ia lahap. Karangan pemimpin sosial-demokrat Jerman F. August Bebel yang berjudul Wanita dan Sosialisme telah mengubah pandangan sosial-politiknya. Juga buku-buku lainnya yang menyadarkannya tentang perlawanan. Kartini ternyata tak hanya berjubel dengan jurusan keputrian, atau sekedar menulis surat kepada sahabatnya di Belanda. Bukan hanya menerbitkan “Habis Gelap Terbitlah Terang”, juga menggugah kesadaran akan pentingnya keadilan menyeluruh.

Kebesaran Kartini nan agung tak pula karena partai politik atau barisan kuat di belakangnya. Ia mati muda, 25 tahun, sangat singkat. Namun mampu menguasai sejarah negeri ini. Mampu menganalisa permasalahan bangsa dengan jernih. Penuh dengan sentuhan-sentuhan humanis tanpa harus mendiskreditkan kelompok atau golongan lainnya.

Mau tidak mau, suka maupun tidak, nama Kartini layak dipersandingkan dengan para pemimpin gerakan emansipasi perempuan dari belahan bumi mana pun. Sejajar dengan pejuang hak-hak perempuan abad ke-19 Amerika Serikat,Elizabeth Cady Stanton dan Susan B. Anthony, yang gigih melawan diskriminasi. Keberaniannya tak kalah dengan Harriet Tubman yang menyelamatkan nyawa ratusan orang dari perbudakan melalui jalur kereta bawah tanah. Mereka adalah sumber inspirasi yang tak akan lekang dimakan zaman meski untuk mewujudkan cita-citanya masih perlu waktu panjang.

Potret besar pahlawan dengan umur cukup singkat ini sungguh bertolak belakang dengan mimpinya. Kondisi yang ia harapkan tentang Indonesia yang diidamkannya. Kemerdekaan yang telah diraih ternyata tak mampu ditampung oleh elit-elit politik. Jauh dari pemikiran perempuan yang hidup kurang dari seabad lampau dengan segala keterbatasannya.

Kartini tidaklah sendirian memerjuangkan hak-hak kaumnya meski dia jadi korban dari apa yang dilawannya. Jauh sebelumnya, Ratu Shima di Kerajaan Kalingga dan Ken Dedes di Singhasari pernah melakukan hal sama. Menjadi model kesetaraan karena memang tak ada yang berbeda diantara laki-laki dan perempuan, hanya masalah kodrat saja. Keduanya (laki-laki dan perempuan) seperti dua sayap burung yang mampu melintasi samudera dengan kepakannya. Kartini memang bukanlah yang pertama. Namun, semangat yang melampaui zamannya telah membuat ia terus hidup dalam sanubari. SELAMAT HARI KARTINI…

Jakarta, 21 April 2009

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s