Anak Manusia: Sebuah Prahara

Posted: 7 Oktober 2009 in Hukum
Tag:

“Akan ada lagi yang kehilangan ketika kita melupakan…”

Launching kumpulan puisi putri penyair Wiji Thukul, Fitri Nganti Wani, di Graha Bhakti Bidaya Taman Ismail Marzuki Selasa lalu (16/6) membawa kembali memori tentang anak manusia. Anak manusia yang lenyap oleh keberingasan penguasa dan pembesar untuk dapat terus mengendalikan negara dengan tangan besi. Memaksakan kepatuhan dengan segala cara yang menimbulkan derita bagi anak-anak, Ibu, Istri, dan keluarga serta orang-orang tercinta. Dimana keberadaaan mereka andai masih hidup, atau dimana letak kuburannya jikalau maut telah menjemput (?)

Semua mata tertuju pada panggung yang menyajikan usaha untuk mengingatkan kembali mereka-mereka yang belum jelas nasibnya. Puisi, nyanyian, dan pementasan teater menghidupkan suasana agar penyakit lupa segera hilang. Berupaya menghidupkan kembali ingatan-ingatan akan kekejaman rezim masa lalu yang begitu mudahnya menghabisi nyawa manusia. Memang, bukanlah pekerjaan mudah untuk melakukan hal ini karena bayang-bayangnya masih terus hidup meski secara fisik telah “mati.”

Bima Petrus, Herman Hendrawan, Yadin Muhidin, dan Wiji Thukul merupakan beberapa deret nama saja yang sampai sekarang masih misterius, hilang ditelan bumi. Orde baru dalam hal ini senantiasa jadi tersangka atas hal ini, memang begitulah adanya. Kediktatoran rezim orde baru telah membuat anak-anak manusia tersebut harus terus ditangisi dengan jiwa besar, tak boleh dilupakan begitu saja. Harus tetap diingat agar kaum Ibu tak lagi bersedih karena anaknya hilang akibat keserakahaan penguasa.

Seiring bertambahnya waktu, mereka-mereka yang hilang ini dipaksa untuk melamun sendirian. Tak ada yang menemani dengan senantiasa mengingatnya karena parahnya penyakit amnesia. Bukan hanya mereka saja yang dipaksakan untuk dilupakan, juga korban-korban kekerasan lainnya. Namun, ingatan terhadap mereka tak pernah lenyap sepenuhnya, masih ada yang senantiasa mengenang agar tak terulang kembali, dan terjadi pada anak-anak lainnya di masa mendatang.

“Setiap hari selalu mengingat anak yang hilang, selalu ingat. Selalu menangis sampai saat ini,” tutur Ibunda Yadin Muhidin, Nurhasanah (52), seusai bertemu Menkumham (4/11/08).

Sejarah orang hilang tak hanya terjadi saat reformasi hendak bergulir. Jauh sebelumnya, langit biru nusantara telah berwarna kelam oleh aksi-aksi sejenis yang terjadi di banyak tempat lainnya. Banyak orang tua di Aceh yang yang harus kehilangan anak-anaknya. Anak-anak juga banyak yang kehilangan orang tua mereka. Mereka masih hidup atau sudah mati, tak ada yang tahu. Andai sudah mati, dimana kuburannya? Bila masih hidup, dimana mereka sekarang berada? Hanya bisa menunggu, entah sampai kapan harus melakukan hal itu.

Orang hilang dalam sejarah republik ini sejak zaman merdeka bukanlah barang baru. Si Jalak Harupat, Otto Iskandardinata, merupakan korban pertama dari kekejaman kejahatan ini. Tak ada yang tahu dimana keberadaannya hingga sekarang, dan pelakunya pun tak pernah terungkap. Putra bangsa ini hilang di awal kemerdekaan, pada 13 Oktober 1945. Menteri Negara di awal kemerdekaan ini masih jadi kabut misteri sampai saat ini. Keluarganya pun masih menyimpan kerinduan untuk memeluk dan membawa beliau pulang dengan hangat. Ia hilang tak berbekas tatkala sedang menata republik yang baru 2 bulan merasakan manisnya kemerdekaan.

Zaman berlalu waktu bergati dengan begitu deras. Peristiwa 1965/1966 membawa kembali cerita tentang orang hilang yang dialami oleh orang-orang dengan stigma komunis (berdasarkan pengakuan mantan Komandan RPKAD Sarwo Edhie Wibowo, korban mencapai 3 juta jiwa). Dilenyapkan begitu saja, atau dibuang ke tempat terpencil tanpa adanya proses hukum yang adil. Banyak dari keluarga yang tak tahu dimana mereka yang terstigma tersebut berada, hilang atau mati (?) Perempuan maupun laki-laki yang dicap komunis itu dihukum tanpa proses, dan dipindah-pindahkan dari penjara ke penjara. Bahkan, banyak yang tak kembali, mati karena penyiksaan.

Mereka yang “Dilupakan”

Zaman pendudukan Jepang yang sangat singkat menyisakan segemgang sejarah kelam bagi anak manusia yang harus dijauhkan dari keluarga. Mereka lenyap ditelan bumi dengan janji-janji kosong rezim fasis Jepang saat itu (1942-1945). Perawan remaja. Merekalah anak-anak manusia dengan usia 12-17 tahun yang harus menerima nasib buruk itu. Pergi dengan janji manis, tapi tak pernah kembali sampai saat ini, dikurung dalam penjara keterasingan. Jauh dari orang tua dan kasih saying, harus berhadapan dengan kerasnya hidup akibat kekejaman manusia.

Pramoedya Ananta Toer dalam bukunya “Perawan Remaja Dalam Cengkeraman Militer” menceritakan tentang gadis-gadis belia itu. Dalam pembuangannya sebagai tahanan politik di Pulau Buru, Pramoedya bertemu beberapa dari mereka. Perempuan Buru yang fasih berbahasa Jawa, padahal jarak diantara kedua pulau tersebut cukup jauh. Mereka harus menerima nasib sebagai “orang Buru” tanpa kerelaan. Mengalami keterbatasan amat sangat karena muslihat Jepang yang menjanjikan sekolah tatkala membawa mereka pergi dari keluarganya.

Beberapa catatan pelaut juga menuliskan kisah itu. Pelaut-pelaut itu tanpa sengaja bertemu dengan perawan-perawan remaja itu saat menyinggahi Pulau Buru yang kaya minyak kayu putih itu. Mereka yang ditemui tersebut bukan lagi perawan remaja seperti saat pertama kali berangkat. Umur telah memakan kecantikan mereka, menjadi perempuan setengah baya yang terlihat jauh lebih tua daripada usia sesungguhnya. Perlakuan semena-mena mereka terima, kebejatan manusia. Alhasil, untuk kembali ke pangkuan Ibu, mereka tak mampu.

Hersri Setiawan dalam karyanya “Memoar Pulau Buru” bercerita singkat tentang “keanehan” Pulau Buru saat pertama kali menginjak tanah. Bertemu dengan perempuan yang mengaku dari Jawa di pulau yang masih “liar” itu. Hal ini jadi aneh karena program transmigrasi sejak zaman Belanda belum sampai ke Pulau Buru. Terbatas pada Sumatera dan Kalimantan. Siapa lagi mereka itu kalau bukan perawan-perawan remaja yang diangkut balatentara Jepang.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s