KERETAKU SUDAH TIBA

Posted: 6 Oktober 2009 in Arbiter

keretaapiHidup jauh dari keluarga dan kawan dekat memang cukup berat. Banyak rintangan muncul, terutama dengan memori yang terus muncul setiap saat. Hingar-bingar kota ternyata tak mampu mengobati segala asa yang terpendam. Hanya sekedar lalu lalang tanpa makna karena tak ada yang seperti dulu. Dunia terus berubah menurut kehendaknya.

Perubahan-perubahan ini tak hanya terjadi padaku. Semalam, orang-orang bercerita tentang kenaikan harga barang-barang pokok yang demikian parah. Mereka hanya bisa bercerita satu sama lain beratnya kehidupan yang harus dihadapi. “Harga kedelai hanya turun seribu menjadi 7000. Sebelum naik harganya 3.500,” gerutu seorang Bapak. “Apalagi jika subsidi minyak tanah dicabut. Harganya bisa lebih mahal dari bensin, 8000,” sahut lainnya.

Kenaikan harga ini tak hanya pada barang-barang itu saja, hampir semuanya. “Bagaimana dengan nasib tukang angkut kayu yang ku temui tadi siang jika harga terus begini,” anganku ditengah pembicaraan. Seorang lelaki tua dengan nafas terengah-engah menarik kayu di atas gerobaknya yang membuatku berangan-angan.

Pembicaraan diwarung tak hanya berhenti soal itu saja. Presiden maupun wapres pun didamprat habis-habisan. “Negara kok semakin ga karuan saja.” Tak berhenti disini saja. Seorang pedagang kaki lima pun mengeluh dengan keadaan ini. Semua harga kebutuhan bergerak sangat cepat, secepat pikiran orang pragmatis saat bertemu kepentingan menguntungkan. Bergerak cepat hanya dalam hitungan saja seperti seorang pragmatis membuang idelismenya dikeranjang sampah demi keuntungan pribadi.

Harga memang terkait pragmatisme, membuat orang mabuk kepayang. Seseorang yang awalnya tak peduli dapat menjadi seorang penyebar semangat ’45 saat dia tahu akan dapat keuntungan. Berbagai “bunga-bunga’ idealisme disebarkan meski beraroma bangkai. Mengapa hal itu dilakukan? Saat tahu akan dapat keuntungan, apatismenya dikubur karena akan ada durian runtuh. Dibungkus dengan topeng idealis tapi itulah pragmatisnya. Anjing! Mau dibawa kemana jika topeng-topeng itu menjadi hiasan semua orang. Lebih baik hancur daripada harus tunduk pada sikap demikian. Tak usah pakai topeng itu, dunia tahu jatidiri sebenarnya.

Kembali ke awal. Keluhan-keluhan seperti yang diungkap di atas bukanlah tanpa resiko. Dialektika-materialis Marxisme akan menjadi kenyataan. Massa yang terdesak secara natural akan bergerak merebut haknya. Ini bisa berbahaya jika dibiarkan. Chaos dapat terjadi. Sudah saatnya untuk segera bergegas. Kereta yang selama ini ditunggu sudah tiba didepan mata. Kereta itu menunggu untuk segera dinaiki agar segera berangkat sebelum massa yang menaikinya. Tiba saatnya untuk kembali pada rel yang sebenarnya. Rel yang selama ini ditunggu sebagai jalur kereta untuk bergerak.

Tapi ingat. Jagalah dengan baik kereta itu hingga ujung dunia. Orang-orang pragmatis jangan sampai turut serta didalam gerbong keretamu. Pragmatisme itu akan datang saat kau nanti beranjak dewasa. Dengan segala daya, keretamu akan dinaikinya. Ya, bergegaslah! Kereta sudah menunggu, tak bisa terlalu lama berhenti hanya untuk sekedar menanti titah paduka.

Jakarta, 23 Maret 2008
Jam 00.38 WIB

keretaapi

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s