ENIGMA DISTINGTIF: Apologia Untuk Sejarah Masa Depan

Posted: 6 Oktober 2009 in Politik

All right, let it be the little one!
– Leo Tolstoy, Master and Men –

Memang lebih baik menjadi kecil dengan satu tekad bersama daripada besar dengan segala anasir-anasir luar. Anasir-anasir yang mencoba merusak tatanan dan membuat yang kecil itu jadi tak berarti. Dari kecil itulah tumbuh bibit-bibit yang nantinya tumbuh –mengganti yang lama- untuk membuat sejarahnya sendiri tanpa menghapus sebelumnya. Bukannya ingin mempertahankan status-quo dengan menolak perubahan, tapi apakah bermakna untuk selanjutnya atau tidak. Itulah pokok dari entitas yang dinamis untuk berubah ditengah gelombang besar tantangan.

Harus diakui, tantangan ke depan semakin berat dengan segala anomali dan rintangan. Memilih seperti seonggok sampah yang hanyut ditelan arus atau laksana batu kali yang kokoh meski terus “diajak” pergi ke muara. Dengan hanyut bak seonggok sampah, apa arti atau makna dari sejarah-sejarah sebelumnya meski ditulis dengan tinta emas. Tak berarti apa-apa karena perjalanannya tanpa makna. Lihat sebongkah batu kali ditengah derasnya arus, diam tak bergerak, bahkan mencoba sebaliknya meski harus melawan hukum gravitasi. Pilihan-pilihan yang harus dipilih dengan segala konsekuensi didalamnya.

Teringat memoar Herbert Feith tentang Indonesia di era sebelum demokrasi terpimpin. Terpesona dengan pilihan negeri yang baru lahir dan menangis ketika semua berubah begitu saja. “Saya jatuh cinta pada Indonesia ‘periode liberal’,” kata Feith dalam memoarnya. Memori yang pupus dengan cepat saat angan-angan tentang sebuah negeri idaman berubah drastis.”Indonesia mulai bergeser dari yang saya idamkan,” sesal Feith dengan ratapannya.

Cerita melankolis Feith tentu saja tak ingin terulang kembali oleh siapa pun yang pernah merasakan manisnya “madu”. Tak berharap adanya setitik nila yang mengubah persepsi tentang realitas. Ini menjadi bentuk bagaimana sejarah tempat dan perjuangan tak dapat dilupakan begitu saja. Hinggap sampai kapan pun mengisi hari demi hari yang manis.

Namun hal sebaliknya dapat berubah seperti yang Feith rasakan saat itu. Anomali diluar kewajaran yang membuat “madu” menjadi terasa hampa dapat menghancurkan memori dan harapan. Apa artinya mempertahankan memori jika hanya menjadi batu sandungan untuk melangkah. Terjadi suatu perubahan yang hanya mengarah pada timbulnya enigma, tanpa makna dan rasa.

Tanpa makna dan rasa ini bukanlah berjalan sesaat. Terus berkembang seiring berkembangnya sejarah. Sejarah tak hanya berbicara masa lalu, hari ini adalah masa lalu bagi masa depan. Tak elok jika hari ini tergores tinta “murahan” dengan label “mahal”. Memang bukan masa lalu, tapi masa depan dengan segala tantangannya. Anomie, distingsi, maupun amnesia tak boleh terjadi di masa depan. Biarkan masa depan tumbuh dengan pondasi-pondasi sebelumnya sehingga mereka dapat leluasa bergerak dan terus berkarya.

Waktu telah mati bagi hari ini. Esoklah penguasa sebenarnya dari apa-apa yang dilakukan sekarang. Bukan menatap hari ini dengan segala peluang, tapi bagaimana membuat peluang untuk esok sehingga tak berhutang pada sejarah. Ini bukan keinginan melankolis. Keinginan melihat kemajuan bagi sejarah masa depan.

“We know that we have passed out of death into life, because we love
the brethren. He that loveth not abideth in death.”
– Leo Tolstoy, What Men Live By and Other Tales –

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s