SOSIO-NASIONALISME DAN SOSIO-DEMOKRASI: RELEVANSI KONTEMPORER

Posted: 5 Oktober 2009 in Bung Karno dan Marhaenisme, Politik

”…praktek totalitarianisme ekonomi telah membunuh : tidak dengan peluru, tetapi dengan wabah kelaparan.”

“Kapitalisme adalah stelsel pergaulan hidup, yang timbul daripada cara-produksi yang memisahkan kaum-buruh dari alat5-alat produks. Kapitalisme adalah timbul dari cara produksi, yang oleh karenanya, menjadi sebabnya meerwaarde tidak jatuh didalam tangannya kaum-buruh melainkan jatuh ditangannya kaum majikan. Kapitalisme, oleh karenanya pula, adalah menyebabkan kapitaalaccumulatie, kapitaalconcentratie, kapitaalcentralisatie, dan industrieel reserve-armee. Kapitalisme mempunyai arah kepada “Verelendung”, yakni menyebabkan kesengsaraan.”

“[di seluruh dunia] kira-kira 50.000 orang mati setiap hari akibat kurangnya kebutuhan papan/tempat tinggal, air yang tercemar, dan sanitasi yang tak memadai”.

Berbicara tentang sosio-nasionalisme dan sosio-demokrasi pasti akan membawa benak kita dalam arena pemikiran Sukarno yang beliau cetuskan pada tahun 1926, Marhaenisme. Memang tidak salah jika kita langsung merujuk pada kata kunci itu, karena kedua pemikiran pokok diatas merupakan “organ” vital bagi Marhaenisme itu sendiri. Dus, sebagai organ vital, definisi dan pemaknaan keduanya tidak boleh hanya sepenggal, dihayati sebagai bagian integral yang saling melengkapi secara komplementer satu sama lain.

Memang, awalnya, kedua konsepsi ini di telurkan dalam rangka usaha untuk mencapai kemerdekaan Indonesia yang mana belenggu imperialisme dan kolonialisme masih mengungkung masyarakat Indonesia. Dengan konteks sosial seperti ini, kelahiran konsep ini tidak dapat dilepaskan begitu saja dari akar sejarahnya. Berkaitan dengan imperialisme dan kolonialisme, sosio-nasionalisme dan sosio-demokrasi sengaja dibuat untuk merefleksikan kondisi sosial waktu itu. Dalam konteks kekinian, konsepsi-konsepsi ini tidak hidup layaknya awal kemunculannya, tetapi dapat dijadikan pisau analisis dalam merefleksikan fenomena yang telah bermetamorforsis dengan zaman. Karena itu, proses dialektika atau shaping and re-shaping terhadap kondisi zaman yang cepat berubah menjadi suatu kewajiban yang tak bisa dihindari.

Dengan bentuk neo-imperialisme dan neo-kolonialisme, konsepsi sosio-nasionalisme dan sosio-demokrasi mendapatkan tantangan baru, apakah mampu menjawab atau mengalami stagnasi analisis didalamnya alias frigid dengan kondisi zaman? Telaah-telaah mendasar atas bentuk baru imperialisme harus mendapatkan porsi lebih untuk membentuk analisis kritis, menjawab tantangan zaman, dan merefleksikan zaman sesuai dengan kondisi social masyarakat yang terjadi.

Tentang Sosio-Nasionalisme

Sosio-nasionalisme adalah “nasionalisme masyarakat”, nasionalisme yang mencari selamatnya seluruh masyarakat dan yang bertindak menurut wet-wetnya masyarakat itu . Artinya, nasionalisme yang dijalankan atas dasar kepentingan masyarakat secara keseluruhan yang mana segala tinadakan-tindakannya mempunyai makna kontekstual dalam masyarakat itu sendiri. It’s society mine. Dalam hal ini, sosio-nasionalisme mempunyai akar dari norma-norma yang berlaku, tidak lepas dari kehidupan sehari-hari sehingga mempunyai daya dobrak, dan tidak lepas dari hakikatnya dengan kerangka humanisme dalam mengkaji fenomena, apakah soal perburuhan, pertanian, industri, dsb.

“Nasionalisme yang sejati, yang cintanya pada tanah air itu bersendi pada pengetahuan atas susunan ekonomi-dunia dan riwayat, dan bukan semata-mata timbul dari kesombongan bangsa belaka…Nasionalisme yang sejati, yang bukan semata-mata suatu copie atau tiruan…timbul dari rasa cinta manusia dan kemanusiaan…”

Humanisme dalam sosio-nasionalisme mempunyai tonggak dasar, yaitu, “pencaharian merdeka” . Pencarian kemerdekaan ini tidak terlepas dari situasi dunia kolonial saat itu karena imperialisme telah merebut rasa percaya diri, dan menginjeksi rasa ketidakmampuan pada rakyat Indonesia. Pengkerdilan yang terus-menerus terjadi melalui imperialisme harus mendapatkan titik tekan utama supaya pencapaian atas cita-cita kemerdekaan dapat diwujudkan. Dengan semangat merdeka ini, maka sammenbundelling van alle revolutionare krachten harus menjadi suatu hal yang kesampaian. Dengan semangat bersama, perjuangan mencapai kemerdekaan yang dicita-citakan dapat terwujud. Semoga!!!

Bagaimana dengan kondisi sekarang? Imperialisme dan kolonialisme yang telah berganti wajah mempunyai mesin baru untuk menciptakan penjajahan atas rakyat Indonesia yang oleh Sukarno biasa disebut sebagai imperialisme modern. Imperialisme modern memang tidak sama dengan imperialisme awal abad XX dan sebelumnya, berbeda dari segi metode, alat, cakupan, dan batasan. Bersenjatakan kekuatan kapital, imperialisme modern bekerja dibalik meja diatas tuts keyboard yang mana sekali tekan akan mengubah masa depan dunia secara parsial ataupun menyeluruh. Bagaimana dengan sosio-nasionalisme? Seperti yang telah dijelaskan tentang asal-muasal konsep ini, dalam memandang dunia, sosio-nasionalisme tetap tidak dapat dilepaskan dari masyarakat sebagai akarnya. Masyarakat sebagai penggerak utama mempunyai daya untuk merespon bentuk penindasan baru, menjadi sumber inspirasi bagi terwujudnya suatu tatanan masyarakat yang ideal.

Tentang Sosio-Demokrasi

Demokrasi, mungkin kata ini akrab di telinga kita, sering diperdengungkan dan diperdebatkan di banyak arena, apakah itu ruang kuliah, forum diskusi, pamflet-pamflet atau di komisariat ini. Demokrasi merupakan kata sakti untuk merespon kondisi yang dirasa sepihak, menjadi alat legitimasi bagi tindakan yang didasari suara mayoritas. Jika melirik logika pemahaman schumpeterian, demokrasi merupakan nseperangkat prosedur kelembagaan untuk mencapai keputusan politik. Demikian pun jika demokrasi, menurut konsepsi O’Donnel dan Shmitter, dipahami sebagai system politik dimana berlangsung prinsip-prinsip kewarganegaraan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara . Terus, apakah sosio-demokrasi itu sejenis dengan definisi-definisi diatas?

Secara sederhana, sosio-demokrasi dapat diartikan sebagai demokrasi masyarakat. Suatu demokrasi yang berdiri diatas dua kaki dalam masyarakat, tidak tundik pada kepentingan satu kelompok saja, atau demokrasi yang diartikan sama dengan demokrasi ala Prancis atau Inggris. Sosio-demokrasi adalah demokrasi sejati yang mencari keberesan politik dan ekonomi, demokrasi politik dan demokrasi ekonomi. Suatu bentuk demokrasi yang tidak hanya focus pada kesetaraan politik belaka, melainkan juga melirik masalah kesejahteraan masyarakat secara menyeluruh dengan kata lain adanya suatu, menurut George Jellineck, welfare state.

Untuk apa harus menerapkan demokrasi seperti ini? Melihat fenomena sekarang, ruang politik yang telah dibuka lebih leluasa membawa segenap harapan akan lahirnya kebebasan berbicara dan diakhirinya pemerintahan dictatorial. Tetapi ada satu permasalahan yangf kurangf diperhatikan, apakah demokrasi ekonomi juga telah diberi ruang untuk dinikmati oleh seluruh masyarakat? Kita bisa melihat dengan semakin tingginya angka kemiskinan penduduk, jumlah pengangguran, dan tuna wisma akibat subsidi yang seharusnya menjadi hak rakyat dicabut oleh Pemerintah. Disini, hak-hak demokrasi ekonomi tercabut dari akar social sehingga demokrasi yang benar-benar menginginkan kebaikan politik dan rezeki menjadi barang mahal untuk dapat dinikmati oleh semuanya.

Bagaimana Kaitan dan Relevansi Kontemporer Sosio-nasionalisme dan Sosio-demokrasi?

Sebelum membicarakan relevansi, ketersangkut-pautan antara sosio-nasionalisme dan sosio-demokrasi terlebih dahulu harus dijlentrehkan untuk mendapatkan pemahaman utuh. Sosio-nasionalisme dan sosio-demokrasi sebagai pemahaman yang didasarkan atas masyarakat mempunyai ranah yang cukup luas dalam menjelaskan kepentingan bersama. Sosio-nasionalisme adalah nasionalisme marhaen, atau dapat dikatakan sebagai nasionalisme politik dan ekonomi. Suatu pengertian mendasar atas kondisi masyarakat yang mana usaha untuk memperbaiki keadaan timpang yang terjadi. Karena itu, antara konsepsi sosio-demokrasi tidak dapat dilepaskan begitu saja dari sosio-nasionalisme. Sosio demokrasi akan mendapatkan ruang apabila dalam masyarakat Negara telah menerapkan sosio-nasionalisme sebelumnya.

Penerapan sosio-nasionalisme sebagai prasyarat mutlak penerapan sosio-demokrasi mempunyai dampak terhadap terhadap pelaksanaan demokrasi. Lebih mudahnya, hal ini dapat dideskripsikan dari diagram di bawah ini:

Sosio-Nasionalisme

Demokrasi Ekonomi Sosio-Demokrasi

Demokrasi Politik

Untuk menjelaskan kondisi kontemporer yang mana kapitalisme global telah menancapkan kuku-kukunya di Indonesia yang terlihat jelas dengan semakin banyaknya subsidi yang dicabut, privatisasi, utang yang menyebabkan kondisi ketergantungan akut dan merajalelanya kemiskinan. Kapitalisme global sebagai “penyakit” kesejahteraan telah merenggut hak-hak manusia untuk hidup dalam kondisi yang sejahtera dengan mempengaruhi pemerintah sebagai pemegang kekuasaan elit.

‘ratusan tahun lamanya Indonesia dihisap oleh Negara-negara utara, bukan hanya Indonesia, semua Negara-negara berkulit berwarna. Sehingga barat menjadi kuat, menjadi makmur, menguasai keuangan dan perdagangan sampai sekarang. Sekarang didikte IMF oleh Bank Dunia. Negeri yang begitu kaya diubah menjadi Negara pengemis. Karena tidak adanya karakter pada elit’.

Dengan kondisi seperti ini, maka, walaupun Indonesia sekarang dikatakan lebih demokratis ternyata hanya bersandar pada demokrasi politik an sich. Masyarakat sebagai akar dari gerak hidup berbangsa dan bernegara mulai ditinggalkan sehingga, jangan kaget, jika angka penduduk miskin semakin meningkat. Oleh karena itu, neo-imperialisme dan neo-kolonialisme yang mencengkeram begitu hebatnya harus secara sadar kita kritisi. Dengan menggunakan pisau analisis sosio-nasionalisme dan sosio-demokrasi, kondisi Indonesia sekarang (memang) tidak ada ubahnya dengan dengan kondisi penjajahan dahulu, tetapi ia telah berubah bentuk dengan manis dan selayaknya kita mewaspadainya.

Surabaya, Juni 2006

Iklan
Komentar
  1. Wesley Hutasoit berkata:

    kebangsaan + perikemanusiaan = sosionasionalisme…
    politik + ekonomi + budaya = sosiodemokrasi…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s