Tahun Baru Nan Mendua

Posted: 4 Oktober 2009 in Sosial-Budaya

Menjelang pergantian tahun dari 2008 ke 2009, suasana jalanan di Ibukota beda. Lebih ramai dari biasanya dan hampir tak tampak muka masam. Air muka setiap orang penuh keceriaan menyambut datangnya pergantian tahun.

Banyak dari mereka yang merayakannya sudah menyiapkan sebelumnya. Apakah dengan pesta pora, nonton pertunjukkan, atau sekedar berkumpul dirumah. Esensi semuanya ingin merayakan pergantian tahun dengan penuh suka cita. Agar perjalanan ke depan tak sesuram sebelumnya.

Tak hanya warga, pemerintah pun larut dalam “keceriaan” malam pergantian tahun. Di Jakarta, perayaan dipusatkan di Taman Impian Jaya Ancol. Kembang api maupun artis-artis didatangkan untuk meramaikan suasana. Tentunya hal ini memakan biaya cukup besar.

Perayaan yang diadakan pemerintah sungguh kontras dengan realitas kehidupan. Saat melintasi jalan ke arah Manggarai, hati dibuat tak karuan. Ada beberapa sosok manusia yang harus tinggal diantara besi jembatan. Mereka harus hidup di kolong, tentunya, karena desakan ekonomi.

Mencoba melanjutkan kembali perjalanan hingga pergantian tahun terjadi. Jalan Pal Merah menyajikan pemandangan kontras dengan hingar-bingar pesta pora. Seorang anak kecil tertidur pulas di batas jalan pertigaan. Hiruk-pikuk kendaraan tak dipedulikannya. Hanya ada kawan sebaya yang menungguinya dengan setia.

Dalam perjalanan pulang, aku merenung dengan realitas yang ada. Sikap mendua telah ditunjukkan penguasa. Disatu sisi adakan pesta pora yang habiskan uang cukup besar. Disisi lain masih ada warga yang harus berjuang mati-matian memertahankan hidup. Sungguh ironis ditengah negeri yang katanya menjunjung tinggi kemanusiaan dan keadilan.

Kebimbangan itu membawaku berpikir lebih jauh. Hanya bisa bayangkan, “andai saja dana untuk perayaan pesta pergantian tahun digunakan untuk mengentaskan kemiskinan.” Sungguh nilai yang teramat besar untuk sekedar memberdayakannya secara ekonomi.

Memang, pesta bukanlah sesuatu yang haram. Dibutuhkan siapa pun untuk rekreasi, tapi harus tetap lihat situasi disekitar.

Yak, pesta pergantian tahun tetap mendua seperti biasa. Dinikmati banyak orang juga menyedihkan bagi sebagian. Sebagian dari mereka yang harus berpikir masa depan, “besok makan apa.”

Jakarta, 1 Januari 2009

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s