Negeri Para “Kriminal”

Posted: 3 Oktober 2009 in Politik

Sobron Aidit dalam sebuah karyanya pernah menulis, Indonesia merupakan penjara yang maha luas. Penjara itu tak sebatas ruang diantara dinding-dinding tinggi penjara yang mengelilinya dengan cermat. Luasnya melebihi penjara terbesar di mana pun, dan kekejamannya melebihi Alcatraz yang kesohor itu. Penjara bernama Indonesia itu seluas wilayahnya yang membujur dari Miangas sampai Rote, dan melintang dari Sabang hingga Merauke. Juga tak terdiri dari daratan saja, termasuk ruang udara dan lautan yang menjadi teritorinya.

Sastrawan eksil ini harus mempertaruhkan nyawanya guna sekedar bisa kembali mencintai tanah airnya. Nasib serupa juga dialami para eksil yang mayoritas tersebar di Eropa. Mereka tak leluasa lagi menginjakan kakinya di bumi yang amat ia cintai. Pulang berarti penjara dan harus berurusan dengan aparat keamanan yang begitu jeli mengawasi mereka, meski hanya berstatus sebagai wisatawan. Pengintaian bakal terjadi kemana pun kaki mereka melangkah saat rasa rindu pada pertiwi hadir. Itulah gambaran sederhana saat rezim Suharto berkuasa dengan semangat phobia luar biasanya.

Runtuhnya rezim Suharto ternyata tak membalik keadaan. Penjara bernama Indonesia itu berubah bentuk. Bukan lagi phobia eksil. Semangat kerdil itu ditujukan kepada mereka yang miskin. Mereka yang secara sosial-ekonomi kurang beruntung. Harus berhadapan dengan penjara saat bertarung dalam kehidupan karena mereka hanya dianggap, maaf, sampah. Tak layak untuk menginjakan kaki di bumi pertiwi yang sesungguhnya amat mereka cintai. Namun kekuasaan berkata lain. Mereka hendak dimasukan ke sel-sel sempit guna status bernama ketertiban umum.

Kemiskinan adalah bentuk kejahatan. Menjadi miskin adalah bentuk kriminalitas yang harus dibasmi. Bukan dengan mengentaskannya dari jurang kemiskinan, tapi ditangkap untuk dimasukan ke dalam penjara. Kriminalisasi kemiskinan. Itulah wacana baru yang hendak dibangun dengan segenap narasi didalamnya. Narasi besar bernama ketertiban umum. Banalitas narasi ini menyeruak diantara klaim-klaim kemajuan ekonomi. Kemajuan, yang katanyaa, belum pernah dicapai oleh rezim siapa pun yang pernah menguasai negeri ini.

Atas nama ketertiban umum, segala sesuatu yang “kotor” hendak dibersihkan. Segala sesuatu yang dianggap menghambat pembangunan dijauhkan dari gemerlap kehidupan. Mereka tak lagi diberi hak untuk menikmati kekayaan tanah airnya. Mirip hukum “tumpas kelor” yang pernah diterapkan negeri ini. Siapa pun yang tak dikehendaki penguasa adalah residivis. Mereka kriminal dan layak untuk dipenjara di tahanan maha luas ini. Tak peduli dengan status mereka, apakah pelaku atau korban dari sistem yang menciptakan keadaan demikian.

Indahnya kehidupan bak sinetron televisi tak pernah singgah. Tak ada yang disisihkan akrena keadaan seperti ini, bahkan mendapatkan tempat tersendiri. Meneropong dari sinetron, kesusaahan bukanlaah wajah negeri ini. Mereka yang susah senantiasa mendapatkan previllege. Namun kenyataan berbeda dengan di televisi. Penjara itu ternyata luas, amat sangat. Memang, kata Wiji Thukul, sungguh indah hidup di televisi. Tak ada yang sedih maupun susah tentang besok, bukan masa depan yang jauh. Harus tunduk dengan narasi ketertiban umum.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s