Mereka yang “Tergusur” Dari Panggung

Posted: 3 Oktober 2009 in Politik

“Sistem politik yang ditakdirkan untuk runtuh merangsang orang banyak untuk mempercepat keruntuhan itu” – Jean Paul Sartre –

Pendaftaran pasangan calon presiden dan wakil presiden periode 2009-2014 telah ditutup. Tiga pasang capres-cawapres secara resmi mendaftarkan diri untuk bertarung merebut kursi RI 1. Mereka melaju setelah dalam beberapa bulan harus “bertarung” dengan wacana-wacana yang muncul ke permukaan. Calon-calon lainnya pun tersingkir, tak mungkin lagi meramaikan bursa pemilihan itu.

Mengamati ke belakang, bursa RI 1 memang panas sejak setahun silam. Berbagai spekulasi tentang siapa-siapa saja yang akan maju dalam pilpres bertebaran. Mereka pun berusaha menunjukkan diri sebagai calon yang terbaik dan layak mendapatkan posisi sebagai presiden atau wakil presiden. Nama-nama itu muncul bak jamur di musim hujan, bermodalkan tekad meski kendaraan politik yang mereka miliki cukup minim, bahkan nihil.

Letjen (Purn.) Kivlan Zen merupakan salah satu pioneer yang berani mendeklarasikan dirinya sebagai capres. Di museum kebangkitan nasional (eks gedung STOVIA), ia memaklumkan diri sebagai capres. Suasana sederhana tanpa riuh-rendah massa menyelimuti prosesi itu. Hanya gumpalan-gumpalan sejarah kebangkitan nasional yang menemani; hening, tanpa gemuruh sama sekali. Langkah serupa juga diikuti mantan KSAL Slamet Soebijantoro. Tanpa kendaraan politik kuat, ia mendeklarasikan diri sebagai capres. Begitu pula mantan Gubernur DKIJakarta, Sutiyoso. Dengan kendaraan politik yang ia bangun (Barisan Nasional), mantan Pangdam Jaya era medio 1990-an ini tetap harus pergi dari gelanggang meski dialah orang pertama yang mendeklarasikan diri sebagai capres. Alhasil, ketiga mantan petinggi TNI ini lenyap ditelan waktu. Namanya tak terbesit sama sekali di saat gemuruh pemilu sedang kencang.

Langkah-langkah politik seperti ini tak berhenti di kedua mantan petinggi TNI tersebut. Rizal Mallarangeng yang awalnya gencar berkampanye di televisi akhirnya harus mundur. Tanpa tahu sebab-musababnya, adik juru bicara presiden Andi Mallarangeng ini menyatakan mundur meski iklan-iklanya sudah bertebaran di mana-mana. Ternyata tak cukup punya nyali juga pengusung liberalisme ekonomi ini walau tahap awal dari pemilu itu sendiri belum dimulai sama sekali.

Nama-nama lain pun bermunculan pasca penetapan kontestan pemilu anggota legislatif oleh KPU. Yuddy Chrisnandi, Rizal Ramli, dan Bambang Sulastomo “pertanding” memperebutkan posisi capres versi Dewan Integritas Bangsa (DIB). Rally-rally politik yang massif melalui konvensi di beberapa kota mereka jalani. Namun, hasil dari proses yang dimotori oleh DIB ini tak dilirik sama sekali oleh kontestan pemilu. Pemenang konvensi tersebut hanya “dibiarkan” jadi penonton sedari proses menuju koalisi sedang gencar.

Raja Yogyakarta Sri Sultan HB X yang namanya sempat melambung akhirnya juga harus tersingkir. Sultan Yogya yang mendeklarasikan diri sewaktu pisowanan agung diselenggarakan ini harus puas jadi penonton saja. Padahal, berdasarkan hasil survey lembaga-lembaga survey, elektabilitas Sultan Yogya ini pada dasarnya tinggi. Namun, proses politik yang berjalan tetap jadi penentu akhir dari drama-drama ini. Kendaraan politik sang calon tetap jadi acuan utama untuk maju meski tak bersifat mutlak. Atas hal ini, Sultan meminta maaf atas batalnya pencalonan terhadap dirinya (Kompas, 18/5).

Muncul dan tenggelamnya calon-calon yang mendeklarasikan dirinya sebagai presidan wapres selalu hadir. Deklarasi ini sangat mengejutkan. “Sang Jenderal Naga Bonar” dengan penuh kepercayaan diri mengahukan diri sebagai capres. Dukungan dari beberapa partai-partai baru kontestan pileg membuat dirinya merasa yakin dapat turut serta dalam pertarungan. Sama seperti lainnya, dukungan tergadap Dedy Mizwar ini tak menciptakan kutub politik sama sekali. Tak bergigi dan “tidak dihiraukan” keberadaannya tatkala bursa capres-cawapres sedang memuncak.

Tergusurnya orang-orang yang hendak maju dalam pilpres mendatang merupakan kenyataan politik. Politisi gaek mantan Ketua Umum Partai Golkar Akbar Tanjung pun harus tersingkir.Safari-safari politik yang telah ia lakukan sejak lama ternyata bertepuk sebelah tangan. Tak ada satu partai pun yang meliriknya, barangkali hanya sekedar mengedipkan mata saja. Lenyap begitu parpol menetapkan calon-calon mereka.

Di sisi lain, pilpres kali ini menyuguhkan atraksi politik penuh gerakan akrobatik. Banyak parpol yang awalnya mendukung salah satu calon atau pasangan calon ternyata mendekatkan dirinya kepada pemegang suara. Dedy Mizwar yang sebelumnya didukung oleh beberapa partai baru ternyata harus menelan pil pahit, ditinggal untuk memberikan “suaranya” kepada sang calon definitif. Lebih ekstrem lagi, Partai Demokrasi Pembaruan yang sebelumnya mengusung Laksamana Sukardi-Roy BB Janis dengan “terpaksa” mengalihkan dukungannya kepada Partai Demokrat. Pertunjukan penuh intrik dan sandiwara karena platform perjuangan bukan jadi landasan utama untuk berkoalisi.

Proses panjang nan melelahkan untuk menemukan capres-cawapres “ideal” akhirnya harus berakhir juga. Mereka yang bertahan dalam bursa hanya sebagian kecil saja. Pasangan SBY-Boediono, JK-Wiranto, dan Mega-Prabowo lah yang akhirnya “memegang” hak untuk melaju. Mereka-mereka yang “hilang” dalam peredaran sesungguhnya cukup bagus. Mampu meramaikan dan membuat urat syaraf tersebut saja. Ketiga pasangan yang hendak maju pada dasarnya sama, sekedar meramaikan panggung teater yang selama ini hampa karena demokrasi hanya dimaknai prosedural belaka.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s