Membakar Facebook

Posted: 3 Oktober 2009 in Politik

Keriuhan pelaksanaan pemilihan umum kali ini tak hanya ada di jalan-jalan. Konvoi kendaraan, baliho dan poster di pinggir jalan, maupun kampanye-kampanye terbuka yang berakhir kemarin. Situasi semakin menarik saja tatkala mengamati pro dan kontra soal kepemimpinan nasional ke depan. Kepemimpinan yang sungguh-sungguh berpihak pada rakyat dan menjadikan negeri ini ideal sesuai tujuan dan cita-cita awal pendirian republik.

Riuh-rendah pemilu merambah ke dunia facebook. Dunia yang saat ini sedang mengalami trend naik dan dikonsumsi masyarakat luas. Situs jaringan sosial ini membangun kesadaran kritis tentang kepemimpinan nasional ke depan. Banyak grup terbentuk untuk menyuarakan aspirasi yang selama ini sulit diungkapkan akibat tertutupnya ruang komunikasi. Suara-suara yang selama ini terpendam muncul ke permukaan dengan berbagai gaya penyajian.

Facebook memang bukan barang baru lagi dalam dunia politik. Pemilihan Presiden AS tahun lalu merupakan awal dari penggunaan situs jaringan sosial ini untuk berkampanye. Semua pun berupaya mereduplikasi kesuksesan Pilpres AS, terutama para calon yang naju ke pentas politik. Begitu pula Indonesia. Facebook jadi sarana baru untuk menyuarakan pendapat maupun mengenalkan diri lewat dunia maya kepada khalayak.

Untuk kasus terbaru, suara-suara penentangan terhadap salah satu calon figure yang hendak maju sebagai capres bermunculan. Mereka menentang salah satu calon untuk maju karena dinilai tak punya kapasitas dan kapabilitas untuk memimpin negara ini. Salah satunya, adalah grup dengan nama “Say No!!! to Megawati” yang sudah mengembara di dunia facebook. Jaringan ini (sampai sekitar pukul 14.00 WIB, 6/4) telah memunyai lebih dari 73.000 anggota. Pertumbuhannya sangat cepat padahal baru dibuat sekitar empat hari lalu.

Penentangan-penentangan tersebut tak sebatas terjadi pada Megawati. SBY, JK, Wiranto, Prabowo maupun lainnya juga disemprot habis-habisan melalui situs jaringan sosial ini. Mereka menilai semua capres yang hendak maju dalam pilpres mendatang tak layak. Tentu saja dengan berbagai alasan yang didasari oleh latar belakang keberadaan para calon tersebut. Beberapa alasan penentangan, antara lain: “kegemaran” menjual aset negara, “hobi” menaikkan harga BBM, hingga kapasitas kepemimpinan jadi landasan untuk berkata “tidak” kepada mereka.

Namun, keberadaan jaringan penentang salah satu kandidat presiden mendatang ini juga menuai kecaman. Melalui Sekjen PDI-P Pramono Anung, partai berlambang banteng dengan moncong putih ini menyatakan, grup ini sebagai bagian dari kampanye hitam dan akan melaporkan ke Bawaslu (http://nasional.kompas.com/read/xml/2009/04/06/11414393/PDI-P.Laporkan.Facebook.Say.No.to.Megawati.ke.Bawaslu). Mereka menilai, grup di facebook ini merupakan bagian dari upaya untuk mendiskreditkan Megawati yang notabene jadi capres yang diusung PDI-P dalam pilpres Juli nanti.

Begitu pula dengan grup-grup lainnya yang menentang salah salah satu capres. Salah satunya adalah grup “ABS=Asal Bukan Sby” yang juga telah merambah di dunia facebook. Grup yang anti terhadap wiranto maupun JK juga bermunculan, tapi jumlah suporter yang turut bergabung didalamnya jauh lebih kecil dari milik mereka para penentang Megawati. Entah apa penyebabnya. Penilaian para penentang merekalah yang tahu mengapa ada yang memunyai pendukung besar dan ada juga yang masih sedikit. Alasan-alasan di dinding grup tersebut merupakan acuan sesungguhnya untuk melihat argument penolakan mereka.

Kesadaran Masyarakat Sipil atau Sekedar Penjatuhan Nama Baik?

Alam demokrasi dan kemajuan teknologi informasi membawa dampak tersendiri dalam proses politik di Indonesia. Siapa pun boleh bicara dengan penuh tanggung jawab terhadap masalah bangsa yang sangat pelik. Tentu saja, bebas juga menggunakan media apa pun yang tersedia. Bebas mengutarakan kehendak demi kemajuan dan kebesaran negeri tercinta.

“Cuma ingin sekedar menyampaikan aspirasi… bahwa beliau-lah mantan presiden yang paling tidak saya harapkan kembali memimpin Indonesia tercinta ini…” Inilah alasan moderator grup penentang Megawati yang jadi pemicu dibuatnya jaringan ini. Andai saja benar, bukan untuk menjatuhkan lawan politik, upaya ini merupakan proses pembelajaran politik yang bagus. Rakyat tidak serta-merta menerima calon yang disajikan parpol. Meneliti dan mengkritisi terlebih dulu rekam jejak sang calon.

Para penentang SBY yang tergabung dalam grup “ABS=Asal Bukan Sby” juga memunyai rasionalisasi mengapa mereka menentang. Kebijakan SBY yang cenderung tidak pro-rakyat dikritik dan ditelanjangi sedemikian rupa. Memang, menurut penulis, kepemimpinan SBY selama lima tahun ini bersifat kapitalistik, tidak pro rakyat dan cenderung pro pada kepentingan modal-finansial. Ragu-ragu dan tak punya ketegasan untuk mengambil tindakan dan “membiarkan”rakyatnya telantar begitu saja seperti yang dialami korban lumpur panas lapindo di Sidoarjo.

“SAYA DISINI HANYA MENGATAKAN BAHWA SAYA, MEMANG SERING MEMBUAT KEBIJAKEN YANG TIDAK PRO RAKYAT, NAMUN SEOLAH-OLAH PRO RAKYAT….” Inilah argumen yang seolah-olah SBY katakan didalam grup itu. Penentangan terhadap calon dari Partai Demokrat ini memunyai dimensi adanya tidak berpihaknya kebijakan pemerintah kepada rakyat. Karena itu, mereka yang tergabung dalam grup ini memunyai kecenderungan agar SBY tak maju lagi sebagai presiden ke depan.

Maraknya kelompok-kelompok yang terbagi dalam grup di facebook ini menggambarkan semakin kritisnya masyarakat kita. Rakyat sudah bosan lagi untuk ditipu mereka yang hanya mengumbar janji-janji manis belaka saat kampanye. Lenyap dan terbawa arus kekuasaan tatkala tampuk kepemimpinan telah dipegang. Lupa terhadap siapa sebenarnya yang memilih. Tentu saja, semua pihak dalam hal ini harus bersikap bijak. Tak lekas menyebut sebagai upaya penjatuhan nama baik atau pun lainnya. Harus dipandang sebagai kritik masyarakat terhadap kondisi politik yang selama ini berkembang. Vox populoi, vox dei. Maju terus pantang mundur untuk Indonesia lebih baik. Kritik para capres seadil-adilnya berdasarkan fakta. Maju terus para facebook-er. Ayo, ramai-ramai kita bakar facebook hingga memerah…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s