Melawan Lupa: Peri-Peri yang Terluka

Posted: 3 Oktober 2009 in Ekonomi-Politik
Tag:

Marsinah itu arloji sejati, melingkar di pergelangan tangan kita ini…(Sapardi Djoko Damono)

Peri-peri kesepian itu terus merenung, menghitung dalam hening tentang apa-apa yang harus dilakukan. Bukan ratapan, tapi usaha untuk memecahkan dominasi kata dengan determinasinya. Mencoba memecahkan kesunyian diantara puing-puing keberanian yang masih tersisa, meski hanya dalam pikiran saja.

Hening yang mendalam itu mengingatkannya pada tragedi yang lebih besar. Tak setetes pun darah mengalir, hanya air mata yang tak dapat terbendung lagi. Mencoba mengingat kembali luka-luka lama yang belum sembuh, dan memandang luka baru dengan penuh ketidakpastian. Apakah harus terulang kembali?

Marsinah, itulah nama yang mengemuka. Sejarahnya begitu kelam karena senjata telah menghabisinya, karena kata-katanya. Kata-kata protes atas ketidakadilan yang tumbuh subur dan menari gemulai di samping balkon kehidupan. Dipaksa hanya mengeluarkan keringat tanpa bisa berkata apa-apa meski peluru menghujam deras perutnya. Perut yang lapar.

“Aku hanya ingin berserikat agar hak-hak ku terpenuhi dan bisa hidup sebagai manusia, tidak lebih dari itu. Tidak lebih,” bisiknya kepada keheningan.

Nanar matanya melihat etalase-etalase toko yang memajang hasil keringat dia dan kawan-kawannya. Tak percaya melihat label harga yang tertera, jauh dari upah yang diterima (lihat puisi Wiji Thukul, “Seorang Buruh Masuk Toko”). Nasib demikian tak ubahnya dengan kawan-kawannya yang harus bermandikan keringat sejak pukul 8 pagi hingga 8 malam di Tangerang, pabrik sepatu Nike.

Dengan gemilang, John Perkins dalam bukunya “Confession of An Economic Hit Man II” bercerita tentang mereka. Mereka yang terus diperas tenaga dan martabatnya sebagai manusia. Hanya dengan USD 1,25 per hari (pada 2000), mereka dipaksa hidup meski dalam alienasi amat sangat. Mereka yang perempuan tatkala haid tiba hanya dapat kesempatan dua kali ke kamar mandi. Harus mengikatkan selendang ke sekeliling pinggang atau mengenakan atasan panjang untuk menutupi, maaf, bercak darah di celana (John Perkins, 2007: 41).

Jikalau waktu senggang terhampar, tak ada salahnya menyaksikan perempuan-perempuan ini terpanggang dalam raungan mesin pabrik. Tengok sebentar film yang diproduseri John Pilger, “The Rule of the New World.” Suhu panas, tanpa tempat duduk, dan jam kerja panjang tanpa imbalan sepadan disuguhkan dengan dramatis. Bercerita tentang barang dari tangan-tangan mereka yang sebagian besar terpampang gagah di sudut pusat perbelanjaan. Namun, tenaga mereka hanya seharga tali dari barang yang mereka hasilkan itu.

Lupa bukanlah sesuatu yang hadir tiba-tiba. Dikonstruksi sedemikian rupa secara sistemik agar penyakit itu hinggap tak tersembuhkan. Ingatan sulit terhapus, tapi daya untuk berbicara terus digerus kekuasaan dengan pengetahuan. Dilenakan hingga titik nadir dengan segala instrumen yang ada sampai “tak mampu” untuk mengingatnya kembali.

Rezim kekuasaan dominan masih tertancap hingga sekarang dan terus menghantui. UU No. 13/2003 tentang Ketenagakerjaan belum jugaberpihak kepada mereka yang dilemahkan ini. Berbau amis darah rezim-rezim kapital warisan masa lalu yang menginginkan eksploitasi terhadap manusia dengan metode out-sourcing atau apalah namanya.

Ditengah hamparan ketakpastian, peri-peri yang terluka itu terus berusaha bangkit. Mengobati lukanya dan mewartakan dengan kejujuran. Peri-peri itu masih yakin dirinya tak akan binasa meski terus “dipaksa” patuh. Sepanjang masih ada memori, disitulah harapan masih terbentang. Melawan dengan sisa-sisa kekuatan yang ada agar tak sepenuhnya kalah…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s