Melawan Lupa: Peri-Peri Hitam-Putih

Posted: 3 Oktober 2009 in Ekonomi-Politik
Tag:

Dengan harapan agar sejarah itu tak terulang kembali

Amnesia sejarah. Itulah penyakit akut yang saat ini sedang hinggap di bangsa ini. Lupa akan masa lalu yang kelam dan membiarkannya begitu saja. Berjalan santai diantara tetes air mata kepiluan yang terus membayangi tanpa henti.

Banyak cerita tentang derita hanya jadi hiasan saja. Ditempel di dinding untuk sekedar jadi pajangan tanpa dicoba untuk diingat. Sekedar jadi tempelan kata dalam buku sejarah yang membingungkan karena tiada pernah berhenti di titik akhir. Mengambang dan mudah dilupakan begitu saja.

Memang, sejarah adalah produk politik masa lalu. Hasil dari pertarungan ide, kekuatan, dan kepentingan zaman. Melenggang diantara puing-puing kehancuran dan bangunan tegak kejayaan, mereka yang “kalah” dan “sang pemenang”. Tak ayal pun membangun konstruksi sejarah yang akan tercetak di masa depan. Mengikuti alur-alur ide, kekuatan, dan kepentingan dominan, politik adalah sejarah masa depan.

Mau tidak mau, peristiwa politik saat ini (Pemilu) akan jadi sejarah republik. Sejarah tentang siapa-siapa saja yang bertarung dan terjadi apa saja didalamnya. Tak salah dalam menentukan pilihan karena akan berdampak pada masa depan. Bukan masa kita saja, tapi generasi mendatang. Jadi pondasi untuk meniti bagaimana perjalanan selanjutnya, kecuali ada sedikit keberanian untuk berkata “tidak.”

Pemilu legislatif dengan segala “bunganya” telah dilaksanakan. Karut-marut dan segala permasalahan didalamnya menimbulkan sejumlah dampak yang membuat adanya ketakpuasan, entah karena kecewa atau ketidakberesan administrasi. Namun, itu semua telah terjadi, tak elok untuk terus memperdebatkannya sampai berbusa-busa. Biarkan mekanisme yang ada menanganinya karena ada agenda besar lainnya, kesejahteraan rakyat.

Perlu sekiranya, sebagai pemilih, untuk memerhatikan siapa pemimpin negeri ini selanjutnya. Nahkoda dari sekitar 250 juta jiwa penduduk yang hidup di negeri yang katanya kaya ini. Apalagi kalau bukan soal pemilihan presiden dan wapres yang rencananya diadakan Juli mendatang.

Menggali informasi, menghimpun rekam jejak, dan memertimbangkannya dengan bijak para bakal calon harus jadi prioritas. Tak hanya menerima “bualan-bualan” mereka an sich yang tiap hari menjumpai kita semua. Berpedoman pada konstelasi politik pra pileg, menguliti satu per satu dari mereka tak boleh dilupakan begitu saja.

Hitam dan putihnya negeri ini akan terlukis jelas di kanvas sejarah. Salah memilih berarti membenamkan negeri ini semakin dalam ke sumur tanpa batas kehancuran. Sejarah, kunci dari semua ini. Bukan sejarah produk penguasa, tapi sejarah yang benar-benar hinggap di otak kita. Sejarah yang tercipta bukan karena “infiltrasi” media massa atau kampanye, tapi sejarah kolektif yang telah dilalui dengan segala suka dan duka.

Katakan saja itu hitam sebagai kelam. Bilang saja putih dengan penuh kehormatan. Sejarah kelam akan membimbing kita dalam dogma-dogma ahistoris dan menjerumuskan pada lembah yang sama. Tak peduli pada simpati dan empati yang kita berikan. Digulung begitu saja dan membusuk dalam ingatan.

Begitu pula sebaliknya. Kehormatan bagi masa lalu nan terang harus diberikan sebagaimana mestinya. Tak perlu diwarnai dengan pewarna-pewarna buatan yang akan melunturkan keindahannya dan mencuci otak. Siapa pun dia calon sang nahkoda kapal negeri ini, kuliti habis hingga tak bersisa agar ingatan kita tak memudar. Bukan sekedar menyerah tanpa perlawanan pada adagium, memilih yang terbaik dari yang terburuk.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s