Manusia Kolong

Posted: 3 Oktober 2009 in Sosial-Budaya

Potret urban. Itulah nama yang mungkin cocok dengan fenomena manusia kolong. Tak sama dengan keluarga yang harus tinggal di kolong jalan tol. Lebih dari itu, tinggal di bawah jembatan, di atas derasnya aliran sungai Ciliwung.

Saat melintas di Jalan Latuharhary atau daerah Halimun Jakarta Pusat, tengoklah jembatan yang menghubungkan Menteng Atas dan Dalam itu. Di bawahnya, kehidupan berlangsung ditengah hiruk-pikuk kendaraan yang melintasi jembatan itu. Kardus, terpan maupun kain, serta papan kayu seadanya jadi tabir mereka dengan dunia luar.

Tepat di bawah “tempat tinggal” manusia kolong, Kali Ciliwung mengalir dengan tenang di kala kemarau, tapi buas saat musim penghujan. Beberapa keluarga tinggal di kedua kolong jembatan itu. Air sungai yang keruh jadi pusat penghidupan ditengah gemerlap Jakarta. Seakan tak peduli dengan nasib mereka yang harus berjuang mempertahankan hidup.

Suara kendaraan yang berlalu-lalang di atasnya jadi makanan sehari-hari. Siang dan malam tanpa henti di kota yang tak pernah mati ini. Sungguh ironis keadaan Jakarta dengan gedung-gedung pencakar langitnya yang megah dan hingar-bingarnya kehidupan kota. Diskotek, club malam, maupun tempat-tempat hiburan lainnya hanya tautan sederhana dalam angan. Bunyi kendaraan lewat adalah nyanyian malam ditemani suara aliran sungai yang bertabrakan dengan sampah-sampah.

“(Di kolong) tak ada nyamuk, dan memang nyaman buat tidur. Mereka membuat batas dari papan agar anak-anaknya tak jatuh saat berada di dalam ‘rumah’.” ujar seseorang yang pernah sekedar berkunjung di kolong jembatan itu.

Kemudian orang tersebut menceritakan kembali. “Semua dilakukan disitu. Ambil air, mandi, cuci, maupun lainnya. Tinggal turun ke bawah saja.” Para laki-laki dewasa dikala matahari pergi dari tempat itu. Mengais rezeki bagi kehidupan keluarga mereka. Saat malam beranjak, mereka pun pulang dengan membawa harapan.

Kehidupan di kolong bukanlah tanpa tantangan. Jatuh ke sungai maupun penertiban petugas jadi momok tersendiri. Sejatinya mereka tak inginkan memulai dan mengakhiri jalannya hari dengan tinggal disitu. Ingin hidup layak sebagaimana lainnya yang dapat berkumpul dirumah meski hanya kontrakan yang cukup sempit. Mereka adalah korban dari pembangunan berskala luas yang hanya bernafsu mengejar kepentingan kapital belaka.

Namun, meski terlihat “nyaman,” bahaya selalu menanti dikala sungai meluap. Banjir. Mereka yang tinggal di jembatan Halimun harus pergi dari tempatnya. Air dapat setinggi papan besi yang jadi penyangga jembatan itu. “Kalau yang di jembatan satunya aman meski banjir. Posisinya cukup tinggi,” tandas orang itu.

Manusia kolong ini tak ubahnya dengan situasi atau keadaan mereka yang harus bertarung dengan kerasnya Jakarta. Manusia gerobak. Mereka yang tinggal di dalam gerobak yang dikala siang jadi alat mencari kehidupan. Di kala malam jadi tempat berteduh dari hawa dingin yang menyapu.

Keadaan ini sangat kontras dengan identitas Menteng di Jakarta. Kawasan elit tempat para miliuner tinggal. Namun, saat menengok sebelahnya, berubah drastis dengan kemewahan Menteng. Tempat mereka yang harus berjuang menantang kehidupan ditengah gemerlap Jakarta.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s