“Korban” Simulasi

Posted: 3 Oktober 2009 in Arbiter

“Itu lho, kalian dicari sales bedak!”

Itulah pernyataan lugas dan lugu dari seorang Ibu separuh baya dalam terjemahan bebas dari bahasa madura saat seorang gadis menyapa. Pernyataan bernada “teriakan” tersebut ditujukan bagi beberapa Ibu-Ibu lainnya yang sedang merajut siang di teras rumah. Sapaan itu sebenarnya bukanlah usaha untuk menggambarkan apa yang disampaikan Ibu tadi. Namun, senyum dan “kekagetan” muncul seketika seiring pernyataan tersebut keluar.

“Wahhh, aku dikira sales bedak…” ujar gadis itu dengan suara lirih.

Bukan amarah atau kekesalan yang muncul, senyum simpul hinggap terus-menerus hingga sang tuan rumah muncul. Sejenak kejadian “aneh” tersebut dilupakan demi tujuan utama. Agenda pun selesai di rumah itu, tapi bayangan keluguan Ibu itu masih terus menganga mengingat tak ada aksesoris apa pun pada si gadis yang menandakan sedang memasarkan suatu produk. Entah, pikiran apa yang sedang menghinggapi Ibu itu hingga muncul kejutan tersebut.:)

Pertanyaan seputar pernyataan Ibu itu terus “diprotes” dalam ke-ria-an. Tak bisa melakukan apa-apa karena memang itu hak mereka untuk menilai. Bukan sekedar menilai, tapi muncul akibat konstruksi masa lalu dan kini yang terus direproduksi hingga membentuk suatu pengalaman meski tak selamanya benar. Produk dari persentuhan-persentuhan terdahulu yang serupa hingga melekat kuat sampai saat itu meski tak senantiasa benar adanya.

“Padahal ku jarang pakai bedak, tapi koq dibilang sales bedak (?),” tutur gadis itu dengan nada “protes”.

Dibalik itu semua, banyak hal yang bisa dijadikan pelajaran berharga. Ketakutan terhadap “persentuhan baru” yang selama ini jadi momok menakutkan, sedikit demi sedikit mulai tergerus, segaris dengan pernyataan Elias Canetti, persentuhan dengan yang tak dikenal merupakan hal paling menakutkan bagi manusia. Namun setelah kenal, rasa itu memudar dengan sendirinya. Pengalamana menyusuri jalanan di pelosok suatu wilayah yang jauh dari keramaian kota berikut keramahan warganya tetap jadi hal menarik. Membuyarkan semua bayangan yang sebelumnya hinggap, ketakutan.:D

“Bedaknya uda laku berapa Mbak???” hehehehe…..

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s