Gila!!!

Posted: 3 Oktober 2009 in Arbiter

Gila. Itulah kata pertama yang seringkali terucap saat kawan lama bertemu denganku. Dalam pertemuan face to face maupun memanfaatkan distansiruang dan waktu. Kata itu tak pernah kering keluar dari mulut sahabat-sahabat.

Banyak episode yang terlewatkan saat “gila” itu keluar dengan cermat. Membandingkan masa lalu dengan sekarang dengan hanya berdasar ingatan. Masa silam dengan perjumpaan dan terpisahkan oleh tautan waktu yang terus berjalan.

Gila. Sekonyong-koyong lepas penuh riang untuk mengingat kembali masa lalu. Sungguh aku mengerti dengan hal ini. Lebih-lebih, tingkat kegilaan itu ternyata semakin meningkat saja, kata mereka. Semakin terorganisir dalam diriku dengan tautan memori yang terbangun sejak lama.

Kegilaan ini bukanlah suatu duplikasi wacana mainstream. Merujuk pada “ketakwajaran” dalam melihat setiap fenomena. Akibat olahan kata yang tersusun sedemikian rupa membentuk garis tersendiri. Kata-kata lepas dan spontan yang tak mewakili zamannya.

Seorang kawan yang sudah hampir empat tahun berpisah “semakin gila” dengan kegilaan. Menyergap kata itu untuk menyebut bahwa “aku gila.” Keusilan dan diksi ku yang menciptakannya. Kata itu pun tak henti-hentinya terucap bak malaikat turun dari langit.

Kawan lama masa kanak-kanak yang sudah lama berpisah menyebut sebagai kegilaan proses. Hanya menyatakan kewarasan ku saat bersama dulu. Masa kanak-kanak yang bersahaja tanpa muatan apa pun. Meningkat ke jenjang berikutnya dinyatakannya sebagai proses awal “menjadi” gila. Semakin “parah” saja saat bertemu dengannya.

Memang, kegilaan sendiri memunyai sejarah panjang dalam struktur sosial. Menurut Foucoult dalam “Sejarah Kegilaan,” pada dasarnya gila adalah konstruksi. Konstruksi atas rasionalitas dalam memandang sesuatu yang bukan bagian dari mainstream. Logika biner jadi acuan utama untuk menentukan siapa yang gila, dan siapa yang tidak.

Tentu saja berbeda konteks antara kawan lama ku dengan Foucault. Namun masih ada benang merah saat bertemu dengan budaya mainstream. Mereka menyebut gila karena keusilan masih mendera. Tak banyak berubah dari masa lalu dengan sekarang meski waktu telah memporak-porandakan semuanya.

Tentu saja, “gila” aku nikmati untuk menjalani setiap detik denyut kehidupan. Itulah penanda adanya intimitas masa lalu. Kenangan yang tersusun secara multifaset diantara ribuan memori dalam otak masing-masing. Yak, aku “gila”….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s