Ande-Ande Lumut

Posted: 3 Oktober 2009 in Arbiter

Mendengar nama itu, saya yakin sebagian besar dari kita tak asing lagi. Cerita rakyat yang cukup melegenda tentang suatu perjumpaan. Tragis, anti-klimaks, dan penuh makna didalamnya. Menjadi intisari pergulatan panca indera dengan nurani.

Kisah ini memang tampak biasa dan penuh dengan metafora. Kecantikan ternyata bukan jaminan untuk menjadi sempurna. Keteguhan hati dan semangat untuk menjaga jati diri jadi titik tekannya.

Tak bisa dipungkiri, cerita semacam ini memang banyak berkembang. Sebut saja kisah bawang merah dan bawang putih. Begitu kuat sense adanya kesabaran dan ketabahan hati akan selalu dapat kado terindah. Meski sebelumnya hal itu tak pernah terbayangkan.

Lakon Yuyu Kangkang dalam kisah Ande-Ande Lumut memunyai posisi sentral. Membuyarkan impian klenting abang dan ijo untuk bersanding dengan sang pengeran, Ande-Ande Lumut. Jadi penegas, kecantikan memunyai dimensi-dimensi transenden yang hanya bisa dimengerti pelakunya.

Cantik bukan berarti “sempurna” secara fisik. Cantik itu hanya persepsi yang terbangun akibat interaksi sosial. Meski demikian, semuanya tak akan pernah bisa menerjemahkan karena jumlah huruf tak mencukupi untuk membahasakannya. Tak cukup untuk mengatakan suatu kecantikan sehingga kata hanya bisa diam dan membisu.

Putraku si Ande-Ande Lumut
Tumurono ono puteri kang unggah-unggahi
Putrine kang ayu rupane
Klenting abang/ijo iku kang dadi asmane…

Bu si Bu…Kulo mboten purun…
Bu si Bu…Kulo mboten mudhun…
Iku ngono sisane si Yuyu Kangkang…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s