SETITIK EMBUN DALAM MAWAR MERAH

Posted: 28 September 2009 in Arbiter

True_Love_Forever2C_Red_RoseTatkala mentari mulai tidak malu-malu lagi untuk menampakkan wujud aslinya, setitik embun menjadi perhiasan dalam rangkaian bunga ditaman penuh harapan. Disitulah bersemai bibit-bibit yang akan menjadi induk ketika waktu berkehendak tanpa memberitahu terlebih dahulu mengapa harus terjadi. Begitupun dalam angan-angan Karyono, embun yang menjadi perhiasan pagi nan cerah dan memberikan zat-zat untuk pertumbuhan, bibit-bibit itu akan berubah menjadi bunga nan jelita. Karyono hanya terpaku memandangi hamparan luas kebunnya. “Apa yang akan terjadi bila malam selayaknya siang?”, sambil menghisap dalam-dalam rokok ditangannya sambil mengoceh sendirian. Malam berarti malam andaikan ia memberikan sejumput harapan bagi kehidupan setelah kepergiannya. Malam hanya akan menjadi sampah ketika hanya menegaskan “keberingasan” siang, mengajak semuanya dalam ayunan rutinitas tanpa mengajak kita berpikir untuk apa disini lama-lama. Malam memberikan keheningan untuk bercengkerama dengan alam agar sama-sama mengerti keinginan masing masing tanpa adanya tuntutan di satu pihak sehingga semuanya mengerti apa adanya.

 

Kala itu Karyono hanya bisa diam terpaku hingga mencapai kerak bumi. Dari belakang Kinanti memanggil penuh makna, “hai, mengapa terus kau pandangi mentari pagi dengan segala keajaibannya?” Membabi-buta Karyono membuka segel lamunan pagi miliknya. “Apa-apaan kamu Kinanti? Aku sampai tega membuyarkan kencan indahku dengan keheningan ini”, sahut Karyono dengan nada penuh dengan hormat. Kinanti pun dengan segera menghampirinya dengan sejuta senyuman, “ga baik melepaskan pagi secerah ini dengan sekedar lamunan”. Memang, pagi dengan segala romansa didalamnya memberikan penghidupan bagi pikiran untuk menjaga agar “racun-racun” dapat tersaring ketika rutinitas terhampar. Ia menyuguhkan bahasa-bahasa untuk mengerti dan menerjemahkan malam. Bahasa dengan dialek asli tanpa terkontaminasi serat-serat kuasa terang yang akan hadir tatkala matahari semakin kokoh menancapkan kehendaknya. Karyono hanya dapat membisu tanpa kata karena sesaknya pikiran di otaknya. Ia hanya menghampiri Kinanti untuk berbicara dalam diamnya. “Aku hanya ingin menggunakan penglihatanku untuk secarik kertas bernama keadilan, tidak lebih dari itu”, sahut Karyono di tengah dinginnya udara di pagi ini. Karyono hanya ingin mengungkapkan isi hatinya yang tiba-tiba menghardik dalam-dalam ketika ia berjalan di kampung desa sebelah. Suguhan-suguhan tak biasa dia dapatkan kala itu, nuansa ketimpangan yang hadir dalam gemerlapnya acara-acara televisi. Bocah gemuk sebatas perut saja, rumah-rumah tanpa alas plester, serta getir kehidupan yang tersaji secara vulgar. “Ya, secarik kertas bernama keadilan untuk mengobati kegetiran hidup”, itulah angan Karyono saat itu. Karyono berpikir seperti itu karena ketika partai-partai politik berkampanye didesa itu, deruan janji-janji mengisi setiap pentas yang berdiri tegak menantang. Apalah daya! Setelah Pemilu usai, janji-janji itu hanya tinggal letupan. Saat itu Karyono ingat ucapan pedagang kacang rebus ketika mengajaknya bertukar kata, “selama demokrasi hanya diartikan sebatas aturan-aturan prosedural, maka semuanya hanya menjadi prosedur belaka, begitu juga dengan nasibku dan kawan-kawan lainnya dimana pun berada”. Tak berselang lama, tukang jual es putar juga berkata dalam diam, ”aku tidak percaya semua itu tatkala mereka hanya memperjuangkan kepentingannya saja tanpa melihat cermin didepannya. Politik tetaplah akan menjadi “bangkai” ketika hanya bersorak pada waktu kue-kue kekuasaan sedang diracik, dan menjadi diam sewaktu ‘kue-kue’ itu habis dimakan”. Dalam hati Karyono kala itu hanya mengatakan dengan senyuman sebagai petanda kekurang-sepakatannya, “lewat partai politiknya pikiran-pikiran kita dapat diperjuangkan untuk dilaksanakan”, cetusnya sambil melangkah terus menuju podium untuk mendengar lebih jelas ceramah juru-juru kampanye.

 

Tidak lebih dari dua tahun setelah kampanye itu dilaksanakan, ia ingin berjalan-jalan menyusuri kenangan ketika masa-masa kampanye yang penuh harapan. Ia hanya menemukan sebongkah janji tanpa ada arti, kehidupan masyarakat disana tidak semakin membaik, malahan lebih menyesakkan karena harga dari hasil bumi yang diharapkan meleset dari perkiraan. Produk-produk pertanian impor membanjiri pasaran sehingga harga hasil olahan para petani tidak berarti. Ditambah lagi, harga-harga kebutuhan pokok melangit, mengapa hal ini harus terjadi? Seketika itu Karyono langsung teringat dengan pidato penuh semangat juru kampanye, “jika partai kami menjadi pemenang, penduduk desa ini akan mengalami gemah ripah loh jinawi, tata tentrem kertaraharja”. Memang, mereka memperjuangkan nasib warga desa ketika dihadapkan pada pilihan-pilihan politik-kekuasaan didepannya. Partai politik hanya memberikan sejumput harapan ketika pesta demokrasi berlangsung, pudar tatkala sedang dibutuhkan sewaktu melampaui masa-masa segala macam ocehan diobral. Garis-garis perjuangan hanya tampak terang ketika kue-kue kekuasaan sedang diracik manis, menghilang dalam gelap tanpa pamit sewaktu kue sudah habis dibagi. Itulah pesta hura-hura kuasa-kuasa kemandegan dengan segala kepongahan didalamnya. Kuasa-kuasa yang penuh berliturgi dengan absurditas.

 

Ya, Belem genap dua tahun, segala yang tampak didalam memori dengan kenyataan berbalik 180 derajat, begitulah adanya. Terperangah juga Karyono ketika teringat dengan uraian pedagang kacang rebus dan es putar kala itu. “Mereka benar, politik hanya berjalan di jalannya sendiri dengan hukum-hukum yang mereka ciptakan demi kepuasan naluri mereka sendiri”, ungkap Karyono dalam diam. Memang, begitula pil pahit yang harus diterima jika semua dikiblatkan dalam panggung-panggung teater politik yang tidak pernah mengenal arti perjuangan untuk semua, apokaliptikisme terhadap kuasa-kuasa absurditas yang tersimpan rapi didalamnya. Kekuasaan yang tersaji indah melumatkan segenap memori dan harapan sehingga semuanya tampak tak berarti ketika dihadapkan dengannya, melompat jauh ke depan melampaui kehendak sebelumnya. Karyono langsung teringat pesan terakhir sewaktu ia meninggalkan tukang es putar yang berucap padanya, “ingatlah hari-hariku didalam hari-harimu! Hari ini akan menjadi saksi betapa sejarah akan berubah ketika engkau melihat matahari berada tepat diatas kepala, dirimu akan melihat yang terpampamg hari ini hanyalah panggung teater”. Ugh…Karyono membisu sesaat, kemudian bergumam, “ini benar-benar panggung teater sejarah yang harus dirobohkan dengan kunci-kunci godam keadilan…”.

 

Mbak Kinanti…! Terdengar sayup-sayup suara perempuan memanggil Kinanti dari kejauhan. “E…Ranti, ada apa?”, sahut Karyono yang hanya melihat Kinanti sedang mengusap peluh adiknya yang duduk di kelas 4 SD. “Iya, mas punya bibit bunga yang kelak akan menjadi hiasan sumringah bagi sepi di kemudian hari. Bibit bunga yang berani menantang kebisuan ketika pendengaran mendengar apa-apa yang tidak selayaknya didengar”, Ranti menjawab pertanyaan Karyono dengan penuh semangat yang menjadi. Mereka bertiga pun asyik mebicarakan bunga apa yang layak untuk itu. Bunga yang kokoh-besar atau kecil-lunglai tapi tegar penuh harapan. Akhirnya Karyono memilihkan bibit bunga yang kecil lunglai itu pada Ranti. “Mas, apakah ia akan mampu menjawab semua pertanyaanku tadi?” tanya Ranti lepada Karyono dengan nada protes. “Ia akan memberimu sejuta memori dan harapan yang takkan pernah sirna, meskipun ia kecil. Ia mampu memberika aroma yang kuat sehingga setiap orang akan meliriknya ketika berjalan didepannya. Bibit bunga yang kokoh-besar tadi hanya memercikkan sedikit wewangian yang hanya beraroma ketika musim hujan tiba”, jawab Karyono kepada Ranti.

 

Karyono memberikan bunga itu bukan tanpa alasan, ya karena ia bunga harapan. Ia teringat kisah yang senantiasa didongengkan ibunya ketika hendak beranjak ke peraduan, ya, kisah seuntai awan kecil dengan pengorbanannya. Tak lama kemudian Karyono menceritakan kembali cerita ini kepada Ranti agar ia dapat mengerti arti setitik embun pada bunga kecil tadi karena didalamnya mengandung bumbu harapan.

 

 

 

Kisah seuntai awan kecil…

 

Alkisah, hiduplah sebuah awan yang sangat kecil dan sangat kesepian dan biasa berkeliaran jauh-jauh dari awan besar. Ia sangat kecil, nyaris tak sampai seuntai. Dan manakala awan besar menjadikan diri mereka hujan untuk mengecat hijau pegunungan, si awan kecil akan terbang mendekat untuk menawarkan jasanya. Tapi awan besar mengoloknya karena dianggap tidak tahu apa-apa dan terlalu kecil.

 

Awan besar mengoloknya menjadi-jadi. Lantas, dengan sangat sedih si awan kecil mencoba menyingkir ke tempat lain untuk menjadikan dirinya hujan, tapi kemanapun ia pergi, awan besar mendesaknya minggir hingga ia harus mencari sandaran baru. Maka si awan kecil pergi lebih jauh lagi sampai ia tiba di tempat yang sangat kering kerontang, saking keringnya sampai tak satu dahan pun tumbuh. Dan ia bergumam, “ini lokasi sempurna untuk menjadikan diriku hujan karena tak seorang pun pernah datang kemari”.

 

Si awan kecil mengerahkan banyak upaya untuk menjadikan dirinya hujan, dan akhirnya menelurkan satu tetes kecil. Begitulah, si awan kecil lenyap dan mengubah dirinya menjadi setetes hujan kecil. Sedikit demi sedikit, si awan kecil, yang kini tetes hujan kecil, jatuh meluncur. Dalam segenap kesepiannya dan keheningan sekitar, ia jatuh dan jatuh, tapi tak ada yang menantikannya di bawah sana. Karena padang pasir itu begitu lengang, si tetes hujan kecil menimbulkan kebisingan hebat waktu menciprat di atas batu dan membangunkan bumi yang hening. Hujan bakal tiba. Tetumbuhan bangun semua dari persembunyiannya di bawah tanah dari terik matahari. Maka tumbuh-tumbuhan pun bangun dan mengintip, dan untuk sesaat seisi padang pasir tersaput warna hijau, dan awan besar pun melihat hijau itu dari kejauhan sehingga membuatnya berlari ke tempat itu dengan menjadikan dirinya hujan di tempat yang dulunya padang pasir. Mereka curahkan hujan dan hujan, dan tanaman pun tumbuh sehingga segala sesuatu berubah hijau sekaligus.

 

Awan besar merasa puas dengan tindakannya karena ia merasa hijaunya padang pasir itu hanya atas jasanya semata. Dan tak satupun yang mengingat akan seuntai awan kecil yang mengucurkan setetes hujan kecil yang cipratannya membangunkan mereka yang tertidur. Seiring waktu berjalan, awan besar pun pergi dan tumbuhan-tumbuhan pun mati akibat ketiadaan air. (Subcomandante Marcos, Kata Adalah Senjata)

 

 

 

“Ranti sudah ngerti kan arti bunga kecil ini?” tanya Karyono dengan penuh kasih kepada Ranti yang sebelumnya tidak mau bunga kecil itu. Dengan penuh kepuasan mendalam Ranti meng-iya-kan cerita Karyono, dan Kinanti hanya mengelus-elus pundak Ranti yang kecil. Selanjutnya Ranti meninggalkan mereka berdua dengan keceriaan mendalam yang tidak pernah ditemui dalam panggung-panggung politik dengan sejuta hingar-bingarnya.

 

“Bunga tadi memang kecil, tetapi dengan kebesaran jiwa yang dimilikinya telah memberikan pandangan baru bagi semuanya” papar Karyono kepada Kinanti. Memang hal ini yang tidak dimiliki oleh penggila serat-serat kuasa absurditas, hanya berjalan atas insting bagaimana semuanya harus ditundukkan, bukan diikat dalam satu penggalan kebersamaan. Dimabuk asmara atas kehendak adikodrati yang senantiasa haus akan kekuasaan, tetapi lupa ada tanggung jawab besar yang terhampar didepannya. Dengan menyitir kata-kata Bunda Theresa, Kinanti membalas Karyono dengan kata, ”jangan pernah berpikir untuk melakukan hal-hal besar. Lakukanlah hal-hal kecil dengan jiwa besar”. Inilah kunci agar kita bisa sedikit melepaskan kungkungan ke-aku-anyang senantiasa hadir demi mereguk segelas air kekuasaan, dan menghadirkan Suatu kebersamaan yang bukan atas dasar pembalasan, berdasar pada adanya keterikatan satu sama lain untuk melegakan setiap hati yang merenda gelapnya malam. Akhirnya bincang-bincang pagi yang melelahkan berakhir juga. Mereka berdua berjalan beriringan menuju rumah untuk menikmati sejumput sarapan yang telah lama menanti.

 

Aku bercerita ini di zaman dulu, dulu sekali, yakni hari ini…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s