CERITA DARI JALAN RAYA POS (II – Jalan Air Mata)

Posted: 28 September 2009 in Arbiter

” Sejarah manusia adalah sebuah sejarah kejayaan atas kesengsaraan manusia.”

-Ferdinand de Lesseps-

 

Melintasi jalur trans jawa via pantai utara tak hanya disuguhi pemandangan sesak kemacetan dan keindahan alamnya. Pikiran tentang suatu peristiwa dibalik jalan itu sekonyong-konyong hinggap saat melintasinya. Cerita guru saat Sekolah Dasar dulu langsung muncul dibenak. Cerita tentang pembangunan yang saat itu dikatakan banyak menguras sumber daya yang amat besar. Pikiran yang jauh melayang itu pun tak hilang begitu saja, langsung meresap dalam benak. Menghubung-hubungkannya dengan peristiwa dua abad silam dalam sejarah negeri ini.

Bus yang melaju tenang tak dapat menghapus cerita sang guru itu. Cerita itu sulit hilang karena bayangan kerja rodi membekas, “bagaimana ya dulu bangunnya?” Memang, jejak-jejak kerja rodi itu hanya tinggal madunya saja. Pahit getir sejarah yang merajutnya seringkali lenyap, barangkali, terimbas kebahagiaan mudik ketika bertemu sanak-saudara di kampung halaman. Namun, jalan raya itu bukanlah barang given dari langit. Dibangun di atas ribuan manusia dengan pengorbanan darah dan air mata melalui kerja rodi yang amat sangat menyengsarakan serta memilukan.

 

Jalan Daendels

Memasuki jalur pantura, bayang-bayang wajah Gubernur Jenderal Maarschalk Herman Willem Daendels seolah-olah berada di depan mata. Gubernur Jenderal Hindia Belanda periode 1808-1811 ini tak bisa dilepaskan dari keberadaan jalan raya trans jawa yang menurut peneliti Belanda, Marie Louise Ten Horn van Nispen, dibangun setara dengan kualitas Jalan Raya Paris-Amsterdam. Masa kepemimpinanya yang amat singkat ini ternyata jadi titik kelam dalam sejarah kemanusiaan di bumi Jawa Dwipa setelah tragedi 1965/1966. Pembangunan jalan raya pos (Groote Postweg, The Great Post Road) Anyer-Panarukan sepanjang 1.000 Km yang diprakarsainya menelan ribuan nyawa manusia akibat kelaparan, kelelahan, dan penyakit malaria.

Daendels membangun jalan raya itu dalam setahun. Dimulai sejak 1808 dan tuntas pada 1809 dengan pengerahan tenaga rakyat yang sangat besar. Tentu saja, pengerahan itu penuh dengan pemaksaan dan penyiksaan yang mengakibatkan, menurut sumber Inggris, 12 ribu orang meninggal dunia karenanya. Angka yang sesungguhnya sangat kecil bila dibandingkan dengan kenyataan karena pembangunan di salah satu bagian jalan di Sumedang saja (Cadas Pangeran) menyebabkan meninggalnya lima ribu orang. Juga saat membangun jalan antara Semarang-Demak yang awalnya berupa rawa dan menelan banyak korban jiwa, belum lagi di tempat-tempat lainnya (?)

Kemegahan jalan raya pos itu ternyata terasa juga dalam bus yang berisi manusia-manusia yang hendak ke kampung halamannya masing-masing. Ingatan atas kekejaman itu masih saja tersisa. Pramoedya Ananta Toer dalam karyanya Jalan Raya Pos, Jalan Daendels menyebut peristiwa ini sebagi bentuk dari genosida. Suatu upaya pembunuhan secara massal dan disengaja karena identitas yang melekat pada diri individu, manusia jawa. Sebuah tragi-komedi akan hasrat atas kekuasaan yang hinggap dan dikejawantahkan dalam wujud kekejaman luar biasa tanpa mengenal martabat manusia.

Pembangunan jalan Anyer-Panarukan di bawah kendali Daendels pada dasarnya bukan menciptakan hal baru. Daendels saat itu sesungguhnya lebih banyak memperlebar yang sudah ada menjadi tujuh meter. Sejatinya, ruas jalan itu sudah sebagian besar sudah ada (dibangun) sejak masa Majapahit dan digunakan untuk mempermudah mobilitas. Sebagian lagi merupakan jalan desa yang dibangun Sultan Agung saat menyerang Batavia pada 1628 dan 1630. Namun berbeda dengan dua masa itu, banyak pihak menilai, Daendels menggunakan kekuasaanya dengan tangan besi kala itu dan menyalahi prinsip Revolusi Perancis yang ia anut: liberte, egalite, et fraternite.

Disisi lain, pembangunan jalan raya pos Anyer-Panarukan ini merupakan sejarah besar umat manusia. Terlepas dari ”tumbal-tumbal” yang harus diserahkan untuk memuaskan nafsu berkuasa sang jenderal. Tak bisa dipungkiri, suatu monumen besar sejarah manusia senantiasa diiringi dengan pembantaian. Piramida di Mesir, Tembok Besar Cina, Terusan Panama, serta bangunan-bangunan monumental lainnya tak bisa lepas dari darah dan air mata. ”Sejarah manusia adalah sebuah sejarah kejayaan atas kesengsaraan manusia,” tutur sang penggagas pembangunan Terusan Suez dan Panama, Ferdinand de Lesseps, saat dihadapkan pada banyaknya orang yang mati saat pembangunan ”sungai” penghubung antara Samudera Atlantik-Pasifik (Panama) itu.

 

Kekuasaan Perancis

Melintasi Pantura Jawa sebenarnya bukan sekedar melewati begitu saja. Didalamnya banyak mengandung sejarah kelam masa lalu berikut kekuasaan yang pernah menggenggamnya. Menegaskan adanya bangsa lain yang pernah menguasai bumi nusantara ini dan hampir tak pernah ditemui dalam teks-teks buku wajib sejarah. Membongkar ingatan masa Sekolah Dasar yang menyebutkan bahwa Indonesia pernah dijajah lima bangsa, yaitu: Portugis, Inggris, Spanyol, Belanda, dan Jepang. Cukup itu saja.

Kenyataan menyebutkan lain. Sebenarnya masih ada bangsa lain yang secara de facto dan de jure pernah menginjakkan kakinya di negeri ini, yaitu Perancis. Dalam hal ini, keberadaan Daendels dengan jalan raya pos-nya merupakan bukti nyata keberadaan Perancis dalam sejarah kolonial Indonesia seperti halnya Inggris dengan Raffles-nya. Daendels berada di Indonesia pada dasarnya atas perintah Napoleon yang berhasil menaklukan Belanda pada 1804. Pada 28 Januari 1807 secara resmi Daendels diangkat Napoleon menjadi Gubernur Jenderal di Hindia Belanda dengan tugas memertahankan Pulau Jawa dan memperbaiki sistem administrasi pemerintahan. 

Semangat Revolusi Perancis nan membara dalam dirinya yang anti-feodal itu diwujudkan dengan mengurangi peran para bangsawan kala itu. Di sisi lain, Daendels juga memanfaatkan feodalisme jawa untuk memenuhi kerakusannya saat pembangunan jalan raya pos. Tentu saja, semangat Revolusi Perancis yang sejatinya berdiri di atas pilar kemanusiaan ia khianati dengan adanya kerja paksa pembangunan jalan. Melenceng dari cita-cita para penggagas revolusi yang telah mengubah wajah dunia hingga saat ini. Bersambung…

 

(Dari berbagai sumber)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s