Arus Global Dengan Regionalisme: Spektrum Fragmentasi Kekuatan

Posted: 28 September 2009 in Hubungan Internasional

Peta politik dunia kembali berubah pasca runtuhnya Uni Soviet pada awal dekade 1990-an. Keruntuhan ini membuat politik global hanya terdiri satu pilihan, berkiblat pada satu-satunya negara adidaya, Amerika Seikat. Konvergensi politik global tak bisa dihindarkan karena ketiadaan balance of power. Dunia hanya terdiri dari satu kata dan makna dengan hegemoni tunggal.

 

Proses besar globalisasi pun tak terhindarkan. Tentu saja, faktor ekonomi jadi pendorong terkuat jalannya proses ini. Dalam term Mohtar Mas’oed, proses ini merupakan bentuk hegemoni kapitelisme dengan perangkat-perangkatnya. Terbukti dengan implementasi Washington Consensuss yang ditandai terbentuknya World Trade Organization pada Januari 1995 di Uruguay. Arus modal, informasi, individu, dan industri pun melampaui batas-batas negara. Bergerak secara diametral dengan agenda-agenda sosial.

 

Proses penunggalan peta dunia ini tak hanya bergerak dalam wilayah ekonomi saja. Menurut Leslie Sklair dalam bukunya Sociology of the Global Change, globalisasi juga merambah ke arah politik dan sosial-budaya. Bergerak melampaui prediksi yang sebelumnya dilakukan. Menurut Anthony Giddens, hal ini disebabkan oleh penjarakan ruang dan waktu akibat perkembangan teknologi informasi. Peristiwa di lokal tertentu dapat mempengaruhi situasi global, maupun sebaliknya.

 

Homogenitasi menyebabkan keharusan untuk mengikuti semua regulasi yang diciptakan. Namun, kondisi asimetris menyebabkan munculnya pemenang dan “pecundang.” Mereka yang kalah bukan diakibatkan oleh kemampuan dirinya, tapi sistem didalamnya membuat hal itu terjadi.

 

Untuk menghadapinya, pola-pola baru diciptakan dalam wujud “negara kawasan.” Industri, investasi, individu, dan informasi jadi penyebab negara-bangsa “melebur” dalam satu kawasan agar tak terjerembab dari globalisasi (Kenichi Ohmae, 2002). Uni Eropa merupakan contoh bagaimana globalisasi mengalami “pengerutan” dalam skala kawasan. Kawasan ini menerapkan proteksionisme terhadap negara di luar mereka, dan mentransplantasikan pasar bebas didalam dirinya.

 

“Kesuksesan” Uni Eropa ini membuat organisasi sejenis tumbuh di kawasan lainnya. ASEAN merupakan salah satu pengekor keberadaan UE. Mengadopsi model UE untuk kawasan mereka meski defisit demokrasi terjadi didalamnya. Begitu pula dengan kawasan-kawasan di belahan bumi lainnya.

 

Model kawasan sebagai respon terhadap globalisasi ternyata tak hanya bergerak untuk adaptasi. Regionalisme juga tumbuh sebagai wujud resistensi terhadap globalisasi. Amerika Latin merupakan contoh dari upaya ini. Melalui kepemimpinan Venezuela, regionalisme untuk melawan globalisasi muncul. Inilah bukti terjadinya konvergensi akibat globalisasi meski hal itu terjadi secara diametral.

 

Kasus terbaru sebagai upaya mencapai keadilan melalui regionalisme dapat merujuk pada “negara kawasan” Afrika. Dibawah kepemimpinan Moamar Kadhafi dari Libya, Afrika mencoba bergerak dengan langkahnya sendiri. Mencoba menyiasati globalisasi dengan cara mereka yang notabene lebih sebagai bentuk resistensi hegemoni kekuatan-kekuatan negara maju.

 

Meluasnya resistensi ini tak pelak menyebabkan proses konvergensi tak utuh. Proses itu tak langsung berhenti, tapi kemudian terjadi proses lanjutan di dalamnya, divergenisasi kekuatan. Blok-blok alternatif ini muncul untuk mengunci pergerakan hegemoni besar. Namun, tren ini tak terjadi di semua kawasan. Di Asia Tenggara, proses ini lebih cenderung adaptif terhadap globalisasi meski secara mendasar hanya mentransplantasikannya begitu saja.

 

Resistensi terhadap hegemoni global merupakan jawaban atas kondisi asimetris. Langkah untuk memecahkan persolan akibat ketimpangan yang ditimbulkan dilakukan dengan membentuk blok politik baru. Blok politik yang mengedepankan suatu tatanan untuk mengurai hegemoni negara-negara maju yang disatu sisi dapat merugikan.

 

Dengan adanya blok-blok baru ini menandakan, globalisasi tak membentuk satu acuan dasar. Malahan menyebabkan lahirnya fragmentasi ekonomi dan politik yang berupaya memertahankan dirinya dari proyek homogenitasi oleh satu hegemon (Subcomandante Marcos, 2005). Baik dengan cara adaptif maupun resisten terhadap arus yang tengah berkembang.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s