Temaram Indonesia: Di Bawah Bayang-Bayang Negara Gagal

Posted: 17 September 2009 in Politik
Tag:, , , ,

bolong benderaMenjelang pemilihan anggota legislatif maupun pemilihan presiden, iklan-iklan politik yang menampilkan keberhasilan pemerintah bertebaran di mana-mana. Setiap menikmati televisi atau surat kabar atau media massa lainnya hal itu hampir tak pernah luput dari mata dan telinga kita. Sejumlah prestasi “diklaim” telah berhasil diraih. Memang, mau tak mau iklan tersebut tak bisa ditolak kehadirannya meskipun ada beberapa hal bertolak belakang. Tak ada kecap nomor dua. Adanya hanya kecap nomor satu, numero uno.

Di satu sisi merupakan hal “wajar” dalam suatu kampanye, tapi cukup menyakitkan bila melihat kondisi sebenarnya. Klaim-klaim keberhasilan itu ternyata memunyai dimensi subyektivitas sangat tinggi. Tidak berkorelasi positif dengan data-data lainnya. Salah satu wujud nyata disparitas tersebut tergambar jelas dari analisis tahunan “Foreign Policy” dalam bentuk The Failed State Index (TFSI-indeks negara  gagal). Hasilnya, apa yang muncul di berbagai media massa tersebut bertolak belakang dengan angka indeks untuk Indonesia dalam TFSI.

Pemerintah yang berkuasa saat ini telah mengklaim beberapa keberhasilan yang telah mereka capai selama lima tahun ke belakang. Penguasa saat ini telah mengklaim beberapa keberhasilan yang telah dicapai, antara lain: Politik semakin stabil tanpa gonjang-ganjing sehingga tidak ada krisis kepemimpinan; hukum, HAM, dan pemberantasan korupsi semakin menggigit, serta pulihnya keamanan di daerah-daerah konflik. Disamping itu, juga ekonomi tumbuh 6 persen meski krisis terjadi; kesejahteraan rakyat meningkat dengan beberapa indikator: menurunnya angka kemiskinan dan pengangguran; serta Indonesia semakin dihormati dan diperhitungkan (Kompas, 21/06/2009).

Berdasarkan laporan “Foreign Policy”, Indonesia hanya tinggal selangkah lagi masuk dalam kategori kritis. Untuk 2009, TFSI Indonesia mencapai angka indeks 84,1 dan menduduki peringkat 62 dari 177 negara yang disurvey.  “Prestasi”  tersebut naik dari indeks 2008 sebanyak 1,7 poin pada peringkat 60 (semakin tinggi indeks suatu negara, maka semakin rentan). Dengan capaian seperti itu, Indonesia masuk dalam kategori “in danger” bersama negara-negara lainnya, seperti: Papua Nugini, Bosnia, dan Nikaragua. “Prestasi” sangat mengejutkan dan kontras sekali dengan klaim-klaim yang bertebaran di masyarakat. Informasi yang digembor-gemborkan tak memuat substansi permasalahan sesungguhnya.

Dalam menyusun kategori tersebut, “Foreign Policy” membuat lima tingkatan “status” negara. Tingkat paling berbahaya masuk dalam kategori critical. Kemudian dilanjutkan secara berurutan dengan kategori-kategori : in danger, borderline, stable, dan most stable. Penilaian yang dilakukan FP terdiri dari indikator-indikator sebagai berikut: tekanan demografis, pengungsian, keluhan oleh kelompok, human flight, ketimpangan pembangunan, dan penurunan ekonomi. Juga indikator lainnya: legitimasi negara, layanan publik, HAM, aparat keamanan, faksionalisasi elit, serta intervensi internasional.

Ketidaksesuaian antara klaim dengan penilaian pihak eksternal (FP) paling mencolok pada aspek ketimpangan pembangunan. Berdasarkan lapiran FP tentang masalah ini, indeks Indonesia berada pada angka 8,1. Indikator penurunan ekonomi pada angka 6,9, serta faksionalisasi elit 7,3. Dari indikator-indikator yang ada, keluhan kelompok memeroleh indeks paling bagus, yaitu 6,3. Sedangkan lainya berada pada kisaran 6,3-8,1. Paradoks lainnya juga dapat ditemui pada klaim menurunnya angka pengangguran. Berdasarkan kajian Organisasi Buruh Sedunia (ILO), pada 2009 diperkirakan ada tambahan 170.000 sampai 650.000 orang yang tidak bekerja (analisadaily.com, 16/12/2008). Hampir mustahil bila angka kemiskinan dikatakan turun karena jumlah pengangguran meningkat.

Posisi Indonesia yang masuk dalam kategori negara in danger ini tak hanya terjadi pada 2009 saja. Berdasarkan data FP, kategori “in danger” tersebut pada dasarnya telah “diraih” Indonesia sejak 2006. Sejak indeks ini dirilis pada 2004, Indonesia senantiasa mendapat angka dalam kisaran 83,3 sampai 89,2 (maaf, penulis tidak memunyai data tentang posisi Indonesia pada 2004 dan 2005). Menurut pengamat hubungan internasional CSIS, Alexandra Retno Wulan, kondisi 2009 yang dialami negara-negara di dunia erat dengan situasi global, seperti: krisis ekonomi global, bencana alam, dan kolapsnya pemerintahan (inilah.com, 10/07/2009).

Meski situasi global memunyai pengaruh signifikan terhadap angka indeks, hal itu tak bisa jadi alasan bagi penguasa untuk lari dari persoalan ini. Pemerintah yang berkuasa tetep memunyai peranan dominan terhadap capaian suatu negara, termasuk Indonesia. Kuatnya pondasi ekonomi, pemenuhan dan penegakan HAM, sistem politik, serta mitigasi bencana yang baik suatu negara tetap jadi penopang itu semua. Negara-bangsa tetap memunyai peran dominan dibalik itu semua karena legitimasi sah yang dimilikinya. Legitimasi dalam bentuk kedaulatan sebagaimana dalam salah satu diktum Traktat Westphalia, tentang kedaulatan.

Tentu saja, semua pihak tak ingin Indonesia terjerumus ke dalam negara yang masuk dalam kategori critical. Perubahan mendasar dan progresif sangat dibutuhkan untuk menurunkan status Indonesia. Tanpa adanya terobosan berani, dan hanya bersandar pada pencitraan belaka, stagnasi sangat mungkin terjadi, bahkan jatuh terperosok. Lupakan dulu apa itu citra, dan segera beralih pada substansi. Citra tak akan pernah mengobati rasa “sakit” negeri ini, hanya memperparah saja bila tanpa diimbangi kenyataan yang ada. Negara ini tak butuhkan pemimpin yang manis saat tampil di televisi saja. Lebih membutuhkan “tampilan manis” ketika berhadapan dengan masalah nyata rakyatnya. Berani berkata “tidak” pada setiap bentuk imperialisme dengan martabat sebagai bangsa merdeka dan berdaulat.

Pernah diposting di http://www.politikana.com dengan judul sama dan nama penulis schatzi

Iklan
Komentar
  1. […] 61 dengan total poin 83,1. Pada 2009, Indonesia berada di ranking 62 dengan total poin 84,1 (lihat ARTIKEL INI). Artinya, ada peningkatan terkait poin karena semakin rendah nilainya berarti semakin bagus. […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s