Puisi pun Harus “Terbunuh”

Posted: 17 September 2009 in Arbiter

Pemanasan global membuat dunia saat ini harus berpikir keras tentang masa depannya. Mulai dari ancaman naiknya permukaan air laut gara-gara lelehan es di kutub hingga penyaki-penyakit mematikan umat manusia. Para petani pun agak kesulitan untuk menetukan musim tanam, panasnya siang seolah membakar bumi, dan curah hujan yang cukup tinggi jadi beberapa indikator. Manusia dalam bahaya. Dunia pun berseru untuk mewaspadainya dengan melakukan berbagai cara.

Banyak pihak menilai hal ini akibat ulah manusia yang rakus. Terutama karena pengrusakan hutan yang massif untuk memenuhi kerakusan itu. Semesta pun “menuntut balik” karena ulah tersebut dengan semakin memanasnya bumi manusia ini. Manusia yang menggantungkan hidup dari alam merupakan korban pertama “amukan” ini. Mereka semakin tak pasti karena tak bisa memrediksi seperti sebelum-sebelumnya. Apalah daya, alam berjalan dengan kemauannya sendiri. Manusia hanya bisa menerimanya, hanya dapat menyiasatinya.

Es di kutub utara dan selatan mencair menjadi fenomena terkini. Penyakit semakin merajalela dan suhu bumi semakin panas saja merupakan hal biasa. Di balik itu semua, pemanasan global yang sekarang terjadi ternyata juga telah “membunuh” puisi. Puisi tentang keindahan hujan di musim kemarau. Hujan yang langka kala pemanasan global belum jadi pembicaraan anak-anak manusia. Puisi yang berisi keindahan ironi dari musim kemarau akanhadirnya rintik hujan.

Puisi karangan Sapardi Djoko Damono yang berjudul “Hujan Bulan Juni” adalah “korban” dari pemanasan global. Ia “terbunuh” bukan oleh manusia, tapi oleh alam yang sekarang sedang mengamuk. Ironi hujan bulan Juni yang notabene musim kemarau (menurut geografi) membusuk akibat lebatnya air dari langit. Juni bukan lagi kemarau. Juni tak hadirkan kembali ironi dengan kerinduan akan datangnya rintik hujan. Juni hadir dengan wajah barunya. Wajah baru hasil karya manusia yang mendiaminya.

Mengapa puisi “Hujan bulan Juni” bisa “terbunuh”? Juni menurut referensi geografi merupakan musim kering bagi wilayah Indonesia. Andaikan ada hujan, itu pun terjadi hanya di beberapa wilayah saja, sangat sedikit. Dengan kata lain, jangankan hujan, gerimis pun tak ada; “rintiknya” disembunyikan sehingga “pohin berbunga itu” tak dapatkan air. (Bakdi Soemanto, 2006: 131-132). Namun saat ini, Juni datang dengan hujan lebatnya. Bahkan, Agustus pun masih menyisakan lebatnya air cucuran dari langit itu.

Pemanasan global  telah “membunuh” puisi itu. Membunuh kata-kata yang tampak secara harfiah. Hujan bulan juni. Namun, bagaimana pun juga, rohnya tak bisa mati. Tetap hidup dintara kepingan kata yang menyusunnya. Misteri kemarau tetap ada walau telah berganti permulaannya. Keindahan ironinya tetap melekat diantara kata-kata yang menyusunnya. Keindahan rintik hujan di musim kemarau tak akan pernah tergantikan. Apalagi kerinduannya yang amat mendalam atas rintik hujan yang dapat melabur bumi dengan warna hijau.

Hujan Bulan Juni

Tak ada yang lebih tabah

Dari hujan bulan Juni

Dirahasiakannya titik rindunya

Kepada pohin berbunga itu

Tak ada yang lebih bijak

Dari hujan bulan Juni

Dihapusnya jejak-jejak kakinya

Yang ragu-ragu di jalan itu

Tak ada yang lebih arif

Dari hujan bulan Juni

Dibiarkannya yang tak terucapkan

Diserap akar pohon bunga itu

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s